antara Jogja & bekasi

Sebuah kisah nyata yang terjadi pada pertengahan tahun 2001, diawal musim kemarau yang panjang.

Pada saat kisah ini terjadi aku masih berusia 19 tahun. Pada pertengahan tahun 2001 aku menadapat telpon dari keluarga agar segera datang ke Bekasi Jawa Barat, dikarenakan adanya acara rembugan keluarga besarku. Sebenarnya aku kurang begitu tertarik dengan acara rembugan keluarga yang terasa amat menjemukan, karena aku lebih tertarik pada world IT, yang memang pada tahun itu demam internet di Jogja benar-benar mencapai puncaknya dengan munculnya banyak warung internet laksana jamur di musim hujan.

Singkat kata, aku segera memesan tiket bus malam jurusan bekasi yaitu bus “SA”, karena aku sudah mengenal salah satu stafnya sehingga mudah bagiku untuk mendapatkan tempat duduk yang kuinginkan. Maka keesokan harinya aku berangkat dari terminal Umbulharjo yang kini sudah rata dengan tanah. Ternyata penumpang sore itu teramat sepi hanya beberapa orang saja, praktis kami bebas meilih tempat duduk sesuai yang kami inginkan.

Pada jam 17:00 tibalah bis di pool pemberhentian di kantor pusat mereka di Kutoarjo Jawa Tengah. Disini kami cukup lama berhenti karena ada beberapa penumpang baru. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan para penumpang baru itu karena mereka semua para rombongan dari beberapa keluarga. Tanpa sengaja perhatianku terarah pada seorang gadis yang langsing tinggi badan 160 an rambut sepunggung kult sawo matang. Ternyata dia berangkat bersama kakaknya yang telah bersuami. Gadis itu duduk di bangku tengah kalo tidak salah seat 11-12 dia duduk sendiri sementara kakaknya duduk di seat 7-8 tepat didepannya. Dikarenakan para penumpang baru banyak para lanjut usia maka munculnya jiwa sosialku untuk memberikan tempat dudukku kepada mereka, kemudian aku pindah agak kebelakang pada seat 15-16 tepat di belakang gadis yang barusan naik.

Pada jam 17:30 bis mulai berangkat kembali meneruskan perjalanan menuju arah matahari terbenam. Hingga akhirnya kota demi kota terlewati jembatan demi jembatan terlalui. Tanpa disadri aku terserang kantuk hingga akhirnya tertidur tapi agak sulit bagiku untuk tidur mengingat jalur selatan Jawa Tengah yang sempit sehinggga rem mendadak sering terjadi hingga membangunkanku. Saat itu pikiranku mulai ngeres dan mulai membayangkan yang tidak tidak. Yang selalu muncul hanyalah bayangan gadis yang duduk di depanku tapi masih masih bisa kutahan karena para penumpang juga masih banyak yang ngobrol ngalor-ngidul.

Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 00:30 saat itu perjalanan sudah mulai memasuki wilayah perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat. Saat itulah pikiran kotor dan keinginan untuk berbuat yang “kuinginginkan”. Mulai lah aku menarah tangankan di sandaran tempat gadis itu duduk. Perbuatan iseng itu kulanjutkan dengan mulai menyentuh rambutnya dan membiarkan kepalanya menempel ditanganku. Aku mulai melihat kiri kanan untuk mengamankan situasi, kemudian aku melihat melalui celah antara bangku untuk melihat apakah gadis itu benar-benar tidur. Aku tertarik pada tonjolan pada dadanya, aku memperkirakan dia memakai bra 34A (cuma perkiraan) karena cupnya tidak terlalu besar.

Semakin lama aku semakin berani menaruh tanganku di belakang kepalanya agar aku bisa mencuri kesempatan. Tapi berkali-kali dia merasa terganggu dengan tanganku hingga sering memperingatkanku dengan berkata”Mas! Tolong tangannya”. Berkali kali dia memperingatkanku untuk tidak mencoba mengganggunya. Tapi perbuatan itu terus kuulangi mungkin karena sudah jenuh memperingatkanku dia akhirnya cuek saja. Saat inilah ibarat pepatah Dikasih hati minta jantung mulai berlaku. Dengan perlahan aku mencoba mlewatkan tanganku melaui celah antara bangku untuk memegang dadanya yang masih terbungkus. Ahhhh dalam pikiranku hmmm… benar-benar hangat. Saat itu gairah mulai bergejolak dan menyebabkan berbuat lebih nekat kuulangi terus kadang aku mencoba meremasnya perlahan. Tapi aku selalu waspada kalau-kalau dia terbangun. Aku makin gelap mata terus menyentuh dan sesekali meremas dadanya.

Ketika dia terbangun aku dengan cepat menarik tanganku, tapi aku yakin dia pasti mengetahui kalo aku memegang dadanya berkali-kali. Kemudian dia mengambil jaket untuk dijadikan selimut sekaligus tameng untuk menutupi tubuhnya dari tanganku yang kreatif. Aku selalu mengawasi keadaannya dari belakang, ketika jaket penutupnya mulai bergeser aku memulai aksiku berkali-kali hingga “batang kejantanan”ku mulai mengeras. Ketika aku mencoba mengulangi untuk menyentuh dadanya tiba-tiba dia terbangun dengan cepat dan menangkap basah aku, dan berkata “Mas!!!”. Dengan wajah ketus dia memandangiku seolah penuh kebencian. Aku benar-benar sudah habis aku sangat khawatir kalau-kalau dia melapor pada awak bus atau pada kakaknya. Kemudian aku berpura-pura tidur tapi ternyata dia tidak melporkan ku. Aku semakin merasa curiga dan semakin yakin bahwa selama 1/2 jam aku mencoba bergerilya dia sengaja membiarkanku.

Dengan cepat aku mengambil inisiatif untuk duduk di sebelahnya dengan alasan untuk meminta maaf. Kemudian aku berkata “Mbak.! Saya minta maaf atas perbuatan saya tadi, saya benar-benar khilaf”. Dia menjawab “Awas! Jangan coba mengulanginya lagi”. Aku menjadi tenang kemudian aku berusaha memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan. Walaupun dengan nada yang sedikit ketus akhirnya dia memperkenalkan diri dan kami akhirnya berkenalan ternyata dia bernama Erna berusia 23 tahun, alumni sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi swasta di Jakarta, dia mengatakan kalau dia bekerja di Cikampek. Dan ternyata dia naik bus untuk tujuan Cikampek.

Tanpa terasa waktu semakin cepat berlalu waktu itu jam menunjukkan pukul 02:00 dinihari dan perjalanan sudah berada di wilayah Kabupaten Indramayu. Aku semakin berfikir taktis bahwa sebentar lagi Cikampek akan menyambut. Aku mulai bertanya “Mbak Erna tadi kenapa kok waktu saya pegang dadanya diam aja? Pura-pura nggak terasa ya?” dia menjawab “Lah orang tidur kan nggak terasa”. Aku kembali barkata “Ah.. yang bener tapi tadi kenapa pake acara ditutupi jaket segala?” Tanpa henti aku berkata lagi “ Udah jujur aja mbak Erna suka kan digituin?”. Akhirnya dia mengaku “Ihh perempaun mana yang nggak suka kalau dipegang cowok. Lesbi kali yang nggak suka”. Dia meneruskan “Kamu sih pegang-pegang dada cewek sembarangan maen nylonong aja, emangnya maling?”. Kemudian aku langsung mengambil tindakan dengan memegang tangannya, dan berkata “Tangan mbak dingin banget sih”, lalu dia menjawab “Iya nih ACnya dingin banget”. Stelah beberapa menit pegangan tangan maka aku beranikan menuntun tangannya untuk memegang “rudal”ku yang amat keras yang masih terbungkus celana. Beberapa kali dia menolak bahkan sempat memelototi aku. Sampai pada usaha terkahir Pucuk dicinta Ulampun Tiba, aku merasa kaget dia mencoba memasukkan tangannya kedalam celanaku aku dengan cepat melepas jaketku dan menutupinya menggunakan jaket. Aku merasa kelojotan tangannya yang halus mengocok-ngocok batang lunak itu dengan perlahan tapi terasa kadang sampai meringis kenikmatan. Kemudian dia menyandarkan kepalanya dipunda kananku. Tapi aku langsung mencium bibir nya kulumat tanpa ampun tapi tetap menjaga agar tidak bersuara. Saat kulumat bibirnya dia bersuara pelan “mmmmmmfffffffffff” menahan nafas. Tangan kananku mulai mencoba memeluknya kemudian tanganku masuk ke dadanya aku langsung meremasnya perlahan dan memelintir puting susunya. Tangannya semakin cepat mengocok-ngocok penisku sampai aku hampir tak mampu menahan suara. Kemudian dia berbisik “Jangan dada melulu donk”. Dengan cepat tanganku ku masukkan ke celananya dan ahhhhhhh aku menemukan semak belukar kemudian menurui bukit dan menemukan danau kenikmatan. Dengan perlahan aku menggesekkan jariku kemudian mencoba memasukkan jari tengahku kedalam liang nan hangat. Aku semakin nekat dengan agak memaksa aku menaikkan sweaternya dan mengeluarkan payudara dari bungkusnya seperti bayi sehat yang haus akan ASI aku hisap putingnya kuat kuat hingga dia mendesah pelan “sssshhh”. Sepertinya gadis 23 tahun itu tak kalah agresif tangannnya semakin cepat mengocok penisku tanpa ampun. Dia berbisik “Aku keluar” tanpa aku memperdulikannya, aku terus menghisap dan menjilati putingnya diselingi gigitan kecil gigi seriku bergantian kiri dan kanan. Memang saat itu aku merasa ada ciran deras yang keluar dari vaginanya itu, cairan hangat dan kental khas aroma kewanitaan. Kemudian dia berbisik “Nanti kalau mau keluar bilangnya biar aku telen semua seperma kamu”. Aku menjawab “Iya, sebentar lagi keluar”. Tiba-tiba kocokannya semakin cepat aku berkata “Hampir keluar say”. Dengan cepat dia mengocok diselingi kuluman nikmat. Dan akhirnya “Sssshhhhhhhhhhhh hmmmfffffff” sambil menahan suaraku. Nafsu angkara itu tertumpahkan dalam bentuk cairan hangat dan kental. Dia menghisapnya dengan kuat dia memaksa agar semua cairan keluar dan menjilati ujungnya. Erna benar-benar menelan seluruh cairan yang keluar dari batang kejantananku. Kemudian aku mengambil Aqua kemasan 600 ml untuk segera diminum oleh Erna manisku. Kami hanya tersenyum kemudian dia mencium pipiku dengan mesra sembari memberikan kartu namanya.

Akhirnya bus berhenti di Cikampek pada jam 03:45, Erna beserta keluarganya turun di Cikampek. Pada saat akan meninggalkan bangku di berbisik “Jangan pernah lupakan Erna Apriliani”. Dia menyebutkan nama yang sama dengan yang tertera pada kartu namanya. Aku hanya tersenyum tanpa bisa berbicara lagi.

Oktober 31, 2008. Cerita-cerita Erotis. Tinggalkan komentar.

Diproteksi: Im4 Tuk@ng J4mU

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Oktober 28, 2008. Tag: , . Cerita-cerita Erotis. Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar..

Kec3l@kaan MemB4wa KenikMaTaN

Ini adalah cerita sex-ku yang asyik. Namaku Joko (samaran), tinggiku 171 cm, berat ideal. Akumemiliki wajah yang ganteng dan penis yang lumayan untuk membuat cewek tegang dan lemas. Aku mempunyai daya sex yang kuat sekali, sering aku melakukan onani dengan dengan nonton BF dan berkhayal tubuh sintal dan seksi, lalu memasukkan penisku ke vagina cewek. Aku sering nonton BF dan diiringi meremas-remas penis sampai aku tegang dan keluar sperma. Ini biasanya aku lakukan sampai tiga kali dalam satu kali nonton BF. Aku suka susu cewek yang besar dan kenyal. Aku paling suka kalau bermain sex dengan posisi aku di bawah dan cewek yang memainkan vaginanya di atas tubuhku sambil melihat pantat besar dan mulus yang naik turun dan bergoyang.

Cerita ini bermula dari kecelakaan kecil yang menimpaku. Seperti biasa, sore hari aku menyempati jalan-jalan dengan motor kesayanganku, dengan memakai jeans dan jaket kesayanganku, dengan kecepatan yang tidak begitu cepat. Aku lihat ke kanan dan ke kiri, tiba tiba ada motordari belakang dengan kecepatan tinggi menyerempetku. Sekilas aku kaget dan berusaha minggir, tapi sial aku malah jatuh karena tepi jalan itu ada batu batu kecil yang menyebabkan ban motorku tergelincir dan akhirnya aku tertimpa motor dan yang menyerempetku tadi langsung tancapgas (kabur)! Setelah itu aku berusaha bangun dengan pertolongan orang orang di sekitar situ. Aku terluka di bagian kaki (paha atas, lengan atas dan dada), sebenarnya luka ini tidak begitu serius bagiku, tapi aku kagum sekali dengan pertolongan orang-orang di sekitar situ yang penuh simpatik.

Setelah beberapa detik kejadian itu, aku langsung dibawa ke dalam sebuah rumah dekat kejadian. Ya, seperti biasa menghindari campur tangan polisi. Setelah aku dimasukkan di dalam sebuah rumah dan motorku di depan rumah itu, aku disuruh duduk oleh seorang cewek yang ternyata pemilik rumah itu. “Adik duduk aja di sini, biar ibu ambilin obat ya..” kata cewek itu dan segera masuk ke dalam kamarnya yang letaknya di depanku. Perkiraanku cewek ini umurnya sekitar 36, meskipun umurnya ya.. cukup tua sih. Tapi cewek ini bodinya oke sekali deh, tingginya sekitar 165 cm susu yang montok berukuran sekitar 36B dan masih terangkat dengan menggunakan kaos yang longgar dan pantat yang besar sekali karena pada waktu itu dia pakai rok pendek sampai lutut dan kelihatan betis yang mulus dengan ditumbuhi rambut halus. Aku sempat berkhayal untuk memegang pantatnya yang besar sekali, kuremas-remas sambil memasukkan jariku ke lubangkenikmatannya.

Setelah beberapa menit dia mencari obat merah di kamarnya, dia memanggil anaknya, “Sri.. Sri..ambilin minum tuh.. buat Mas-nya!” ternyata dia punya anak perempuan yang namanya Sri, umurnya sekitar 17 tahun. Setelah berhasil menemukan obat merah, lalu menghampiriku,
“Wah.. ini lukanya parah sekali Dik..” sambil membuka tutup obat merah.
“Ah.. nggak kok Bu.. biasa aja kok,” kataku sambil memperhatikan susunya yang montok tergelantung itu.
“Nama Adik siapa?” tanya ibu itu sambil meneteskan obat merah di lengan atasku.
“Joko Bu, aduh pedih sekali.. pelan-pelan Bu..!”
“Maaf ya.. Dik Joko, oh ya nama ibu Neneng,” katanya sambil meneteskan ulang obat itu di lengan atasku.
Dan tidak disengaja susu Neneng itu menyenggol sikuku.”Oh.. maaf Bu.. tidak sengaja,” tanyaku sambil melihat susu Neneng yang membuat penisku agak tegang.
Dia hanya tersenyum dan tertawa kecil.
“Lho.. Dik Joko yang kena yang mana lagi, kelihatannya celana kamu sobek tuh..” katanya sambil memegang celanaku yang sobek itu.
“Ya.. Bu itu di bagian paha atas dan di dada ini,” sambil membuka sedikit kaos yang kupakai.

“Yang ini harus diobati loh, entar kalau tidak cepet diobati berbahaya, kaki kamu bisa di luruskan nggak?” kata Bu Neneng.
“Agak linu Bu.. karena bagian paha sih..” kataku sambil mencari kesempatan melihat susu.
Pada waktu itu tepat dudukku tidak memungkinkan aku meluruskan kakiku.
“Ya.. sudah ke kamar Ibu dulu situ berbaring biar kakimu bisa diluruskan,” kata Bu Neneng sambil membantuku berdiri dan berjalan.
“Ya.. Bu.. tapi..?” tanyaku ragu.
Nanti disangka macam-macam, tapi memang niatku untuk berusaha nge-sex sama Bu Neneng yang montok itu.
“Tapi apa, oh.. kamu malu ya.. nyantai aja kamu kan teluka dan perlu pengobatan, sudah masuk ayo Ibu bantu!” sambil melingkarkan tangan kanan di pundak Bu Neneng aku berjalan.
Dan tidak disengaja waktu berjalan, jari-jariku menyentuh permukaan susu montok Bu Neneng tapi aku tidak merubahnya, malah kugesek-gesekkan dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan kalau disengaja, terasa puting susu Bu Neneng yang kenyal menyebabkan penisku tegang. Dan sampailah di tempat tidur Bu Neneng.

“Sudah Dik Joko, mana yang luka lagi?” sambil duduk di sampingku dan membelakangiku sementara aku terlentang, otomatis tanganku menempel di paha mulus Bu Neneng.
“Di dada sini Bu,” kataku sambil membuka ke atas kaosku agar kelihatan lukanya.
“Ya.. sudah dilepas dulu kaosnya, entar kalau kena obat ini kan jadi merah,” katanya basa-basi.
Aku langsung buka kaosku, dan sekarang aku telanjang dada.
“Nah gini kan bisa leluasa mengobati kamu,” sambil mendekat ke dadaku, dan otomatis aku melihat dengan jelas susu Bu Neneng tergelantung dan ditutupi oleh BH yang tidak muat menampung besarnya susu Bu Neneng dan tanganku makin kurapatkan ke paha dan sekarang sudah di ataspaha mulus Bu Neneng. Dan pada waktu Bu Neneng meneteskan obat, aku terasa pedih dan dengan refleks tanganku terangkat sehingga menyenggol susu Bu Neneng dan rok mini Bu Neneng terangkat ke atas, terlihat paha yang mulus itu.
“Maaf ya.. Bu, Joko tidak sengaja kok,” pintaku sambil menurunkan tanganku ke paha Bu Neneng yang mulus dan putih itu.
“Ya.. tidak apa-apa kok,” sambil meneruskan meneteskan lagi di bagian dadaku yang luka.

Sekarang dia agak ke atas dan membungkukkan dirinya, otomatis susu yang montok itu dekat sekali dengan wajahku itu. Aku tidak tahu ini disengaja atau tidak, tapi buatku disengaja atau tidak tetap saja membuat penisku makin tegang. Lama-lama kok posisi Bu Neneng makin membungkuk dan sampai suatu saat susunya tersentuh dengan mulutku. Wah, terasa kenyal dan empuk, aku tidak diam saja, aku berusaha pelan-pelan menggeser tanganku yang di paha mulus Bu Neneng itu, pelan dan pelan karena aku takut Bu Neneng marah karena ulahku ini. Dengan nafsu yang kutahan, aku gerak-gerakkan tanganku. Waduh.. paha orang ini mulus sekali, batinku sambil merasakan penis yang menegang kepingin lepas dari sangkarnya (CD-ku), dan sampailah aku di pangkal paha Bu Neneng itu dan menyentuh CD Bu Neneng yang kelihatan memakai CD warna hijau kembang dan kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menggesek susu Bu Neneng (pelan-pelan), dan sesekali kujilat halus susu montok itu, waktu itu Bu Neneng diam saja dan terus mengobati dadaku yang luka tapi nafas Bu Neneng tidak bisa disembunyikan, sering dia menarik nafas panjang untuk menahan nafsunya.

“Sudah nihh.. Semua luka kamu di dada sudah diobati, sekarang mana lagi yang terluka?” sambil melihatku dan membiarkan tanganku di pahanya yang mulus itu.”Itu Bu.. di paha atas,” jawabku sambil menunjukkan tempat yang luka.”Wow.. Ya ini harus dibuka Dik Joko, kalau tidak dibuka dimana ibu bisa mengobati apalagi kamu pakai jeans yang ketat.. ya sudah dicopot aja!” jawab Bu Neneng sambil melihat dengan dekat luka dari luar celanaku dan sesekali lihat penisku yang sudah tegang dari tadi.
“Bu.. bisa bantuin copot celanaku, aku tidak bisa copot sendiri Bu, kan tanganku luka,” alasanku agar Bu Neneng bisa lihat penisku dari dekat.

Tiba-tiba Sri datang dengan membawa air putih.
“Bu ini airnya..”
“Ya.. sudah sekarang kamu keluar, e.. jangan lupa tutup pintunya, ibu mau obati Mas Joko dulu!”
Wah ini kesempatanku untuk melampiaskan sex-ku. Setelah itu Bu Neneng mulai membuka resleting celanaku dan membuka bagian atas dan aku mengangkat sedikit pinggulku supaya Bu Neneng mudah melepas celanaku. Saat membuka celanaku, posisi Bu Neneng membungkuk sehingga mulutnya dekat dengan penisku yang tegang, dan aku sengaja mengangkat pinggul yang lebih tinggi dan tersembullah penisku dan mulut Bu Neneng.. “Sorry Bu.. tak sengaja,” mulai saat itu penisku mulai tegang sekali karena cara Bu Neneng membuka celanaku sangat merangsang penisku.

Sambil sedikit menungging dan menggerakkan sedikit pantat yang besar itu, Bu Neneng melepas celana jeans-ku (apa ini usaha Bu Neneng untuk merangsang nafsuku), dan akhirnya aku sekarang tinggal pakai CD. Dan mulailah Bu Neneng mengobati paha atasku dengan posisi nungging membelakangiku dan sedikit siku tangannya menyentuh penis yang sudah tegang. Sesekali BuNeneng melihat penisku dan menggesek-gesekkan sikunya di penisku itu. Dengan melihat gelagat Bu Neneng ini yang memberi peluang padaku, aku tidak diam aja. Dengan melihat pantat yang besar menghadap kepadaku, tanganku mulai sedikit meremas-remas dan mengelus betis lalu menuju ke atas paha yang mulus dan akhirnya aku sampai ke paling atas (pantat mulus Bu Neneng) dan aku nekat mengangkat rok mini Bu Neneng ke atas sehingga sekarang terlihat pantat Bu Neneng yang mulusitu dengan ditutupi CD yang menyelepit di belahan pantat.

Aku mulai mengelus-elus, dan sesekali menarik CD Bu Neneng dan ternyata sudah basah dari tadi.Lalu aku memainkan jariku di permukaan vagina yang tertutup CD itu, Bu Neneng mungkin sudah tahu gelagatku itu sehingga dia merenggangkan kedua pahanya, jadi sekarang terlihat jelas CD Bu Neneng yang basah. Sekarang aku memberanikan diri untuk melihat secara langsung vagina Bu Neneng yang kelihatan sudah tidak sabar untuk dimasuki rudalku yang sudah tegak berdiri. Akumulai menggeser CD Bu Neneng ke kiri dan kelihatan dengan jelas vagina Bu Neneng yang sudah memerah itu. Lalu aku perlahan-lahan menggesek-gesekkan jariku di permukaan vagina Bu Neneng dan dengan reaksi itu nafas Bu Neneng mulai tak beraturan, “Eeehh.. ahh.. ohh hemm..” dan sekarang aku memasukkan jari tengahku ke lubang kenikmatan Bu Neneng dengan pasti dan kukocok dan terus kukocok dengan pelan-pelan dan lama-lama semakin cepat dan.. “Ah.. oh yes te.. rus.. please.. ah.. ohe.. lebih dalam.. Jook.. ” Bu Neneng mulai membuang obat merah itu dan sekarang tidak mengobati lukaku lagi malah sekarang dia sudah mulai mengocok dan meremas dengan kuat penisku.

Aku kurang puas dengan posisi ini, aku mulai mengangkat salah satu kaki Bu Neneng ke sampingku dan sekarang posisi 69 yang kudapat, dan vagina Bu Neneng tepat di depan mulutku. Aku mulai menjilat klitorisnya, dan kusedot kecil dan kupermainkan pinggir vagina Bu Neneng dengan lidahku yang indah itu. “Oh.. ya.. enak sekali hisapanmu Jok.. Oh aughh ahh yes.. terus!” dan aku mulai memasukkan lidahku ke dalam lubang yang basah itu dan terasa asin tapi gurih.
“Oh.. ah.. terus.. kontol kamu tegang sekali Joko..”
“Ya.. Bu jilat.. jilat dong..!”
Tanpa banyak kata Bu Neneng terus melumat habis penisku.
“Oh.. ya.. ya.. terus yang keras lagi..!”
Bu Neneng memang lihai dalam hal oral, tidak satu bagian pun dari penisku yang terlewatkan dari lidah birahi Bu Neneng. Telur penisku terlahap juga dengan mulut binalnya. Bu Neneng tidak puas sampai di situ, sekarang dia mengangkat pantatku lebih tunggi dan kelihatan jelas lubang anusku dan sekarang mempermainkan lidahnya di lubang anusku. Oh, terasa geli bercampur nikmat sampai ujung rambut, pada waktu itu juga Bu Neneng tidak kuat menahan nikmat yang dia rasakan, dan aku tahu kalau Bu Neneng mau orgasme yang pertama kalinya, aku mempercepat gerakan lidahku diklitorisnya, dan mempercepat kocokkan jariku di vaginanya dan akhirnya.. “Jo.. ah ye.. yea.. aku tidak tahan Jok.. a.. ku.. ke.. luaar..” dan “Serr.. serr..” terasa semprotan kuat dari vagina Bu Neneng kena jariku.

Cairan putih kental yang keluar dari vagina Bu Neneng kusedot habis sampai bersih cairan kenikmatan Bu Neneng tersebut. Dia sekarang tergeletak lemas di sampingku.
“Bu Neneng masih kuat? Apa cukup saja Bu?” tanyaku disamping memelintir puting susunya yangkuharapkan sex Bu Neneng kembali lagi dan terangsang.
“Ah.. kamu jantan sekali Jok! Aku tidak nyangka kamu kuat sekali, kamu belum keluar?” tanya Bu Neneng sambil mengocok halus kemaluanku yang masih tegang itu.
“Belum Bu! mau lagi atau..”
Belum aku berhenti ngomong Bu Neneng mulai memasukkan penisku ke mulutnya dan dijilat, disedot dan dikocok, sedangkan aku di pinggir tempat tidur dan Bu Neneng di atas tempat tidur denganposisi nungging, dan aku tetap meremas-remas dan sesekali kupelintir-pelintir puting Bu Neneng itu.

“Aah.. terus Bu..! lebih dalam Bu..! yes hemm Aah.. sesstt aahh..”
“Jok.. masukin aja ya.. aku pingin ngerasain penis kamu ini,”
Lalu aku memutarkan tubuh Bu Neneng dengan posisi nungging dan aku mulai mengarahkan penisku ke lubang Bu Neneng tapi aku tidak langsung memasukkan penisku, kugesek-gesek dulu ke permukaan vagina Bu Neneng.
“Ah.. ya.. masukkan Jok.. cepet aku tidak tahan nih.. oh.. ce.. pet!”
Aku langsung memasukkan ke lubang Bu Neneng.
“Bless.. slepp..”
“Ah.. ye..” erang Bu Neneng menerima serangan batang kemaluanku.Aku mulai memajukan dan memundurkan penisku dengan pelan tapi pasti dan sekarang aku tambah frekuensi kecepatan kocokanku.
“Ah.. ya.. penis kamu.. hebat Jok.. keras, te.. rus.. oh.. sst.. ah..”

Aku semakin terangsang dengan erangan Bu Neneng yang menggeliat-liat seperti cacing kebakar. Aku angkat kaki kanannya untuk mempermudah jelajah penisku untuk sampai ke rahimnya dan makin mempercepat kocokanku.
“Oh ya.. aughh.. sstt teruss.. jangan ber.. henti.. ah.. ke.. rass.. Joko.. hebat..”
Dan akhirnya,
“Jok.. lebih cepet..! aku mau ke.. luar.. aku.. tidak.. oh.. ye.. tahan.. la.. gi.. ah.. oh shh..”
Dan akhirnya dia menyemprotkan cairan kenikmatannya, “Serr.. serr..” terasa ujung penisku disemprot dengan cairan hangat yang kental. Sekarang Bu Neneng tergulai lemas di hadapanku. Aku memperhatikan tubuh Bu Neneng yang montok dengan susu yang besar, dengan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

Aku tetap mengocok sendiri penisku biar tetap tegang, dan aku mulai tidak kuat, mungkin ini waktunya aku untuk mengakhiri permainan sex-ku.
“Bu.. permisi, aku mau mengakhiri tugasku ini..”
Dengan mengangkat tubuh Bu Neneng ke pinggir tempat tidur, dan membuka lebar-lebar paha Bu Neneng sehingga terpampang vagina Bu Neneng yang masih basah dengan cairan kenikmatannya, aku mulai memasukkan penis dan mengocoknya.
“Ah.. kau nakal ya.. Jok.. aughh hemm.. terus Jok..”
Aku dengan semangat “45” kukocok habis vagina Bu Neneng dengan menggesek-gesek klitorisnya dengan jari jempolku untuk mempercepat dia untuk orgasme ketiga kalinya, dan..
“Bu.. aku mau ke.. luar.. ah.. ye.. di.. mana.. ini.. dalam atau di luar.. oh ye!” sambil mempercepat kocokan jari dan penisku.
“Ya.. aku juga Joko.. uh.. uh.. hemm.. sstt.. kita.. barengan di dalam.. oh ye..”

Bu Neneng tidak kuat lagi ngomong kecuali merem-melek tahan nafsu, dan akhirnya aku keluar di dalam vagina Bu Neneng, “Crott.. crott..” sampai lima kali semprotan dan dibarengi dengan erangan dan getaran tubuh Bu Neneng, “Oh.. yak.. yes.. hemm..” Lalu kucabut penisku dan kupukul-pukulkan di permukaan vagina Bu Neneng dengan reaksi Bu Neneng mengangkat tubuhnya akibat vaginanya kupukul dengan penisku.
“Bu Neneng hebat sekali deh, makasih ya Bu..”
“Kamu juga hebat banget Joko.. Ibu sampai kualahan menghadapi kontol kamu yang tegap ini. Wah.. kontol kamu ini harus dibersihkan dulu ya..”
Dia langsung mengarahkan penisku ke mulutnya dan dilahap langsung dan dikocok-kocok habis.
“Wow.. oh.. ye.. teruus.. yess.. sseesstt ahh ya..”
Ini membuatku tegang lagi, dan Bu Neneng tak henti-hentinya mengocok dan mengulum penisku yang tegang sekali.

“Bu.. stop.. augghh he.. stoop aku.. tak.. tahan..”
Dan..
“Croot.. croott..”
Kukeluarkan spermaku untuk kedua kalinya di wajah Bu Neneng, dan aku tergeletak lemas di atas susu Bu Neneng.
“Nah.. sekarang kan Bu Neneng tidak kalah banget toh.. ya.. dua-tiga lah..!”
“Makasih ya.. Jok.. kamu hebat dalam permainan sex, kapan-kapan kita lagi ya.. sudah kamu tidur dulu deh!”
Lalu aku tertidur sampai malam, dan sebelum aku pulang ke kost-ku, sempat Bu Neneng minta untuk oral sekali lagi.

Itulah salah satu pengalamanku tentang sex. Bagi para cewek-cewek yang membutuhkan penyaluran sex yang aman dari penyakit apapun, aku siap melayani anda (oral, konvesional dan unkonvesional, dan lain-lain). Anda tidak akan rugi dengan sex yang yang aman dariku, hubungi aku di e-mailku, pasti kubalas. Yang jelas ya, yang pasti harus cewek tulen. Sampai jumpa dengan pengalaman sex yang paling aman dari penyakit apapun dariku. See you!

TAMAT

 

Oktober 28, 2008. Uncategorized. Tinggalkan komentar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.