Pembantu Q Matre

Pembantu dirumahku masih muda usia, belum genap 20 tahun. Meskipun demikian dikampungnya dia sudah jadi rebutan para lelaki. Wajahnya buat saya sih biasa saja begitu juga susunya yang kalau menurut selera saya masih kecil. Tapi pembawaannya dalam bersikap penuh unsur menggoda lelaki. Saya sendiri pernah ditempeli susunya ketika berpapasan digang kecil dirumah. Pada awalnya saya merasa melakukan kesalahan tapi akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa pembantu saya ini genit dan matre. Tetapi meskipun sudah sering diajak SSi, tapi yanti tetap kukuh mempertahankan dirinya untuk diobok-obok meskipun demikian tetap genit dan bikin gemes saja.
Setelah puter otak timbullah ide gila yang akan saya coba sore ini.
Kebetulan istri dan anak sedang diantar supir pergi ke acara sekolah, setelah mereka pergi saya pura-pura sibuk bekerja diruang kerja saya. Saya keluarkan duit setoran toko saya selama beberapa hari dan pura-pura sibuk mencocokkan catatan dan jumlah uang yang ada.
Ruang kerja saya dipisahkan oleh sekat kaca yang mudah terlihat dari ruang makan. Si yanti setiap sore sibuk merapikan dapur dan mempersiapkan makanan untuk malam hari. Saya perhatikan matanya memperhatikan tumpukan uang dimejaku dan terlihat demikian berhasrat untuk memilikinya. Tanoa buang kesempatan saya berteriak dan memintanya untuk membuatkan teh hangat serta mengantar ke ruangan saya.
“jangan terlalu manis yah..Yan! ” teriak saya.” Iya ko..”, kata Yanti manja..kalau sudah manja pasti ada maunya..hmm.. Ini saat yang tepat untuk melaksanakan rencanaku..
Tidak lama Yanti datang membawa teh.
“Ini Ko..tehnya.”, yanti menyodorkan tehnya.
“Makasih kataku.”,aku menjawab sambil pura-pura cuek..
“Banyak amat duitnya ko.?”kata yaNti sambil tetap berdiri disamping meja. Rupanya dia memperhatikan tumpukan uang puluhan juta yang membuat hatinya tergetar.
“Iya nih…jadi bingung mo dibelikan apa yah…?” aku menjawab dan tersenyum girang…masuk perangkap dia.
“Semua sudah punya..mo beli apalagi yah…?”
aku berkelakar sambil akting berpikir.
“Belikan aku baju dong ko..habis bajuku..uda pada jelek nih..”yanti merengek manja..
“Gak mau ah..kan kamu udah dapat gaji..dapat tips dari saya aja uda banyak.”.kataku pura-pura marah..
“Yah.. kan sekali-sekali boleh yah ..ko..?” yanti merajuk dan memijit tanganku..
Aduh enaknya..sebentar lagi aku yang pijit dia.
Hmm..aku berpikir keras untuk menambah variasi sedikit bagi rencana ku…
“Ok..aku nanti belikan kamu 3 pasang baju..tapi aku yang belikan yah…gak boleh kamu yang beli sendiri..gimana?” kataku mengobral janji.
“3 pasang ko ?” Yanti kaget..
“Asyik …aku dibelikan baju..makasih..yah..engko baik deh…”
“Eit…nanti dulu ada syaratnya lho..” aku memberi tanda tidak padanya.
“Loh kok pake syarat.?.” tanti bertanya
“Iya dong ..beli baju kan mesti ada ukuran atau contoh…jadi syaratnya butuh baju kamu untuk contoh …, ” kataku mantap.
“Ah..itu mah gampang..bentar saya ambilin .bajunya” yanti langsung bergerak menuju pintu keluar.
“Eit-eit..jangan pergi Dulu..
Aku gak mau bajumu yang lain …aku mo beliin yanti baju tapi yanti harus jual baju yang yanti pakai ke saya..mumpung saya ada duit nih…baju sama celana 300rb yah…?” aku memborbardir yanti langsung ke penawaranku.
Langsung saya keluarkan uang 300rb dan taruh dihadapannya..
Begitu mo diambilnya saya memegang tangannya…”barangnya dulu baru boleh ambil duitnya” …sambil merengut yanti menarik tanggannya dari tangganku…”yah uda saya tukar baju dulu..”
“Kalo keluAr dari ruangan ini uanngya mungkin sudah gak ada lho..sekarang aja dilepas…kan nanti bisa pake yang dikamar.”.ujarku tersenyum mantap..

“Buka baju disini?.ih engko nakal…bilang aja mo lihat tubuhku…dasar genit.”..yanti mengomel..tapi tidak meninggalkan aku…
“Yan..yan..yang tubuhnya lebih ok..aku bisa bayar kok yan..anggap saja ini permainan…” yanti terdiam mendengar omelanku
“Mo lihat cewe-cewe aku?”
Kataku menantang sambil memutar lcd komputer kehadapanya dan kutunjukan foto seksi nisa kepadanya. “Aku aja bayar dia semalam 500000 sudah full service 3x “kataku meyakinkan…hi..hi..padahal yang benar..1,5 juta…
“Tapi beneran yah ko..aku dibeliin baju..? ” yanti sudah melemah.
“Bener..aku beliin 3 pasang..sdh dibeliin ..baju kamu saya bayarin lagi..ayo kurang apa ?ujarku meyakinkannya.
“Yah…uda deh….”
Pelan -pelan yanti membuka kancing bajunya.. Akhirnya pemandangan yang saya tunggu datang juga ..susu kecil yang padat dan ranum terlihat dari balik bhnya meskipun kecil..tapi itu sudah cukup membuat ade kecilku yang tak terbungkus CD berdiri tegak dibalik celana pendekku ..setelah diserahkan blousenya..dia lanjutkan dengan melepaskan celana sedengkulnya…kali ini penampakan paha mulus tanpa kerutan serta lemak membuat aku inGin mengecapnya sekarang juga,..tapi sabar..yanti orangnya gak bisa dipaksa mesti disuap pake uang.
Setelah celananya terlepas..yanti langsung reflek berusaha menutupi bagian tubuhnya yang berharga dengan kedua belah tangannya…
“Ok…bagus..
Tapi ini baru buat satu pasang baju yan…” kataku mempengaruhi dia.
“Loh maksud engko..?” yanti bingung lagi.
“ini kan contoh untuk baju dan celana..kalo untuk dalaman mu pake apa contohnya?”kataku mengajaknya berpikir.
“Maksud engko..saya mesti buka bh saya juga?” yanti menunjuk BHnya.
“Iya.!” ujarku pendek sambil saya mengeluarkan 300rb lagi dari tumpukan uang itu. “Ini tambahannya buat kamu lepasin bhmu”, aku meletakkan 300rb lagi diatas tumpukan 300rb sebelumnya.
“Aduh ko…malu aku…” yanti gelisah.
“Gak usah malu..nih liat si nisa” ..aku klik foto nisa lainnya yang tanpa bra/// “nih ada yuli, sandra.dll..semua gak malu sama engko…”
Semua gambar psk simpananku kukeluarkan…untuk mempengaruhinya bahwa ini “anugrah” baginya.
“Yah..udah deh..punya saya sih kecill..kalo dibangkinkan mereka ..’akhirnya Yanti mengakui kualitasnya.
Pelan-pelan yanti melepas bra…begitu terlepas..aku sadikit termangu akan keindahan payudaranya yang kecil, kencang indah dan proporsional dengan tubuhnya…
“Punyamu ok juga yan..”.kataku memujinya ketika menerima bra dari tangaanya..”jangan lupa ambil duitnya”..secepat kilat yanti mengambil duit 600rb yang ada dimeja…
Ketika dia menghitung aku pura menyesali tawaran..
“yan..lupa… celana dalamnya belum…lupa aku ..nih duit 200rb..copot deh..cepetan..”kataku memberi tekanan padanya.
“Ah…. gak mau ko..”.yanti langsung menutup celana dalamnya..”malu banget koh..”
“Yah ampun yan…cewe ini cuma 500rb mau kasih liat aku semuanya…”
Kutunjukkan koleksi foto memek koleksi wanitaku..”nih..liat..
Aku kan gak minta liat dalamnya paling juga keliatan bulunya doang..”.
“Ih..engko… “kata yanti kesal sambil melepas celana dalamnya…
Hmm..bulunya rupa belum lebat banget..masih ok lah menurutku…
Tanpa ingin membuang waktu..
“wah ini baru dua pasang..tinggal baju tidur lagi…”
Yanti yang kali ini sudah full naked hanya bengong mendengar pernyataanku…
“Ok..tenang-tenang..kamu duduk aja disofa yah…nih..ada film pilih yah …baju tidur seksi yang kamu mau..”
Ruang kerja ku juga sekaligus ruang home theater di dinding ada lcd tv 30 inch yang terkonek ke komputerku..
Langsung saja kutekan play di wm player untuk memulai sesi terakhir rencana gilaku…klip pertama berdurasi 2 menit adalah peragaan busana pakaian dalam wanita baik bra maupun lingerie..nonton klip ini yanti masih ok saja..dan aku duduk santai di kursi kerjaku memperhatikannya… klip kedua adalah kisah dua model lingerie yang lesbi..selesai pertunjukkan mereka langsung action dibelakang panggung..melihat aksi permainan wanita lesbi ini yanti mulai salah tingkah dan berulangkali merubah posisi duduknya..volume home theather kusetel 75% sehingga seluruh ruangan dipenuhi desahan dari para pemain video porno tersebut. Sebelum berlanjut ke adegan berikutnya aku berjalan mendekati pintu yang terletak antara sofa dan meja kerjaku. Perlahan-lahan kukunci pintu dan kuletAkkan kuncinya diatas meja dan kututup dengan kertas. Yanti asyik memperhatikan permainan mereka dan tidak sadar saya telah berada dibelakang sofa. Pada saat yang sama muncul adegan dua orang pria pendukung acara memergoki dua gadis lesbi tersebut tengah ber 69. .

Kedua pria tersebut berinisiatif mendekati kedua wanita tersebut dan tidak lama kemudia terlihatlah ******-****** besar orang bule itu sedang diservis blow job oleh kedua wanita tersebut.
“Hah..gede betul .”.teriak yanti…
“Lho..yang gede itu enak lho yan..”kataku meyakinkan.
“Eh engko sudah disini..”.yanti kaget aku sedang dibelakang sofa memperhatikannya.

Adegan demi adegan terus berganti dan diakhiri dengan posisi doggy serta muncrAtnya peju. .yanti kaget…dan bertanya” itu apaan ko?”
“Itu namanya mani yang bisa buat kamu hamil…”
“Kok dikeluarkan disitu?”
“Iya..kalo dikeluarkan dalam..bisa hamil..makanya diluar saja..”
Final klip adalah koleksi pribadi saya..disini yang jadi pemeran utama adalah saya sendiri dengan para wanita simpananku sebagai aktris utama.
Scene pertama si yuli yang menggunakan lingerie putih dan g string hitam meliuk-liuk diiringi musik diatas ranjang sementara aku menshooting dari kursi hotel,susu yuli yang 36b terlihat sangat tidak muat dengan lingerie yang digunakan dan membuat dia tampak sangat hot..perlahan saya pindah posisi dan akhirnya duduk disebelah yanti…yanti cuek saja tapi saya perhatikan..yanti menggigit bibirnya serta pahanya agak mengangkang…wah pasti mulai hot deh ..tidak lama adegan berganti dengan aksiku meremas-remas payudara yuli..serta meyedot dan menjilati susu yuli yang montok itu..saya lepaskan lingerienya dan saya berputar kebelakang menciuminya serta meremas-remas payudaranya dari belakang..divideo yuli terlihat menikmati banget foreplay aku..kemudian aku turun kebawah serta menciumi punggungnya dan pantat yuli..secara bersamaan kuturunkan g string yuli..serta kueluskan jari jemariku dipaha yuli dan daearah Genital..yuli melenguh kuat membuat yanti ikut mendesah…wah..berhasil sorak ku dalam hati..kena deh kamu,..
Kemudian yuli kurebahan dipinggir ranjang dan kakinya terkulai kelantai..kemudian sambil jongkok dilantai aku menjilati pahanya dari lutut hingga ke clitoris..berkali-kali. final scene adalah adeganku sedang menyedot habis klitorisnya yuli. Film sengaja ku cuT disitu dan yanti belum melihat penisku karena sepanjang film masih terbungkus rapi oleh celana dalam. Film sengaja kulanJutkan dengan rekamanku bersama nisa yang alur ceritanya juga dimulai dengan tarian erotis dengan lingerie merah yang menyala. Kali ini aku menggeserkan posisi dudukku menempel ke yanti..yanti sendiri sdh tidak konsen dengan yang difilm karena dia sibuk mengatur nafasnya yang tersenggal menahan nafsu. Ketika tanganku memegang pundaknya yanti diam saja dan membiarkan tanganku membelai rambut dan kupingnya…ketika nisa sedang asyik dijilatin punggungnya akupun melanjutkan aksi dengan menempelkan kepalaku ke pundak yanti. Begitu yanti merespon dengan menarik kepalanya kebelakang..akupun lansung menciumi lehernya..aku berbisik ditelinganya “kamu mau dijilati seperti mereka ..?” “Mau ko…tapi nanti Minta tambah yah duitnya.”..dasar pembantu matre..makiku dalam hati..
Lalu kujilati pungunggnya yanti..dan perlahan-lahan tanganku mulai meremas-remaspayudara yanti..yanti mulai melenguh menahan nikmatnya.
“.ko..enak betul yah..enak banget.”.ceracau yanti mengalahkan suara nisa di tv.
Setelah puas dipunggung aku pindah ke depan serta menjilati kedua bakpao kembar..yanti bergelinjang tidak keruan..aku sengaja berlama-lama karena adekan foreplayku dengan nisa cukup lama…jadi aku gak mau mendahului yang di tv…
Setelah itu aku turun menciumi perut dan pusar yanti..yanti tambah kegelian.. Sedari tadi aku belum memperhatikan memek yanti,,dan sambil menjilat piusar..aku liat memeknya sdh terbuka lebar dan sudah becek..wah ini mah tinggal langsung tancap..tapi aku tahan dulu..
Kemudian mengikuti adegan di tv aku menjilati paha dan daerah sekitar pubis,.., aku belum menyentuh ground zero sama sekali.ketika ditv adegan berganti dengan nisa mempeloroti celanaku dan mengulum kontolku,..aku langsung mulai menyerang ground zero..pikirku yanti sudah tidak berkeberatan/kaget melihat penisku jika sedang menikmati sedotan mulutku.. Sedang asyiknya kujIlati clitoris yanti..yanti menyeracau..”ko..kontolmu gede juga..aduh..aduh,…enak ko..lagi-..lagi,..” .begitu bersuara,..langsung kukeluarkan teknik sedotan mautku yang bikin para wanita simpananku merindukannya.
“Ko enak Betul.”..yanti sepertinya sdh 85%, dan akupun mengurangi seranganku..karena aku ingin menyelesaikan dengan kontolku…
Adegan ditv sdh berganti dengan nisa yang sedang keenakkan disodok olehku dipinggir sofa dgn posisi yang mirip dengan posisi kami sekarang.
Sambil merem melek yanti tidak melepaskan matanya dari tv…kemudian kulepaskan celana pendekku dan aku bersujud disamping yanti..kali ini aku mengarahkan tangan yanti memegang burungku yang sudah ngaceng berat.yanti kaget karena tidak menyangka sebesar itu..”apa bisa masuk ko? ….besar begini ?”
“masuk kemana yan?” Tanyaku purapura bego.”.kesini?”aku menunjuk memeknya. Yanti menganguk pelan.. Kudekati wajahnya kucium bibirnya aku berbisik dikupingnya..”yakin ? Kan kamu masih perawan..nanti gimana? ”
“Ko..aku pengen nikmatnya..udah ko.tolong puasin aku..aku gak tahan nih…teriaknya..”
“Ok..yah…aku buat kamu nanti nikmat yah yan..”
Langsung aku turun kembalI kebawah dan menjilati kembali clitoris yanti..
Gak lama yanti sdh bergelinjang tanda bentar lagi uda mau orgasme…
Pelan-pelan kuganti dengan gosokan jemariku diklitorisnya sambil kuarahkan burungku kelubang sasaran..tanganku satunya mengambil celana pendeekku dan menaruhnyAA dibawah pantat yanti..gawat nih kalo darah perawannya banyak..setelah aman kulesakkan pelan-pelan dan yanti merintih kesakitan sambil meracau keenakkan..setelah berusaha menekan akhirnya tembus juga keperawanan yanti…yanti sedikit meneteskan airmata..aku pun tidak langsung mengocok lobang nikmat yang Baru ini..kubiarkan didalam beberapa detik. Setelah yanti sdh enjoy lg kumulai irama 3×1 ajaran guru seksku…3x masuk pendek dan sekali masuk dalam..perlahan tapi pasti yanti mulai gak kuat menahan nikmat..dia menyeracau terus..berteriak ******..enak..aduh..enak ko..kontolmu enak koh..oh..oh..
Tidak lama adegan di tv diakhiri oleh teriakan nikmat nisa yang gua sodok pakai doggy style…
Setelah suara tv senyap, sekarang hanya terdengar suara lenguhan nafasku dan ceracau nikmat yanti..tapi aku lupa satu hal, aku lupa pakai kondom..gimana ini….aku tawari yanti ganti posisi dan dia mau..secepat kilat aku ambil kondom dikantung celana pendekk yang sebenarnya sdh kusiapkan. Yanti menghadap tv dan menahan tubuhnya dengan memegang meja didepan sofa. dan aku sodok dengan doggy style sambil berdiri..
Kali ini yanti tetap sangat menikmati sodokanku…selelah 1 menit aku menyuruh kembali tiduran aku pengen memberi dia kepuasan seks yang akan dikenanggnya seumur hidup.
Sambil kosodok, mulutku sibuk menjilati dan menyedot putting susunya…menurut pengalamanku susu seorang wanita yg akan orgasme biasanya juga akan menjadi sangat kenjang..bener saja tidak lama kemudian yanti bergelinjang dan berteriak..ahg…enak…gak kuat..ahg…
Akupun terus menyodoknya karena juga sdh diujung tanduk…..tidak lama gantian aku yang berteriak kenikmatan….ah yanti..enak …auw..ahggg..
Aku terkulai memeluk yanti disampingku yang juga lemas berkeringatan..
Ko..aku takut hamil…tenang aman kok..aku kan tadi pakai kondom..aku kan tahu kamu lagi masa subur.. Ok?
Udah cepetan saya mandi ganti baju…nih bawa bajumu semua…
Loh kok dikembalikan? Kan duitnya uda aku keterima..iya..gak papa..saya kasih lagi kekamu , anggap saja hadiah..senyumku licik..nanti beli baju gimana ?
Yah..nanti ajak kamu ..ok?
Ok sip deh…sebelum ngeloyor pergi..tangan yanti terbuka menunggu tips tamahan dari ku..terpaksa keluarkan lagi 200rb untuknya…yanti tersenyum senang, sambil berjalan telanjang dia menghitung total incomenya yang melebihi gajinya sebulan. Dasar matre..
Buatku 1 juta gak masalah anggap saja dapat perawan…yah hitung bagi -bagi rejeki.
Secepat kurapikan kembali ruangku yang hancur berantakan…setengah jam lagi mereka datang dan aku harus sdh mandi dan tidur sore…

 

Mei 21, 2008. Tag: . Cerita-cerita Erotis. Tinggalkan komentar.

Pembantu Q yang menggiurkan

Kejadian ini terjadi tepatnya pada tahun 2006, nama gue Donny Suhendra… Gue berasal dari suatu keluarga yang cukup berada di bilangan Jakarta Timur.
Gue merupakan anak ke empat dari lima bersaudara yang sekarang berumur 25 tahun… gue punya pembokat namanya Dian yang sampai sekarang masih setia ngabdi di keluarga gue semenjak masih gadis hingga udah menikah dan kemudian cerai dengan suaminya.
Kriteria pembokat gue dengan postur body menantang toket ukuran 36 B plus bokong yang bak bemper yang padet, tinggi badannya kira kira 160 dan berkulit putih…. karena pembantu gue ini orang asal Kota Bandung, umurnya sekarang kira kira 29 tahun. silakan bayangkan gimana bodynya, gue aja kalo liat dia lagi ngepel langsung otomatis dede yang di dalem celana langsung mengeliak saat bongkahan dadanya memaksa keluar dari celah kerah bajunya.

Terkadang di pikiran gue terlintas pemikiran kapan yang bisa nyicipin tubuh montok pembokat gue yang aduhai itu… udah naga bonar gak bisa di ajak kompromi lagi, liat sedikit aja langsung bangun dari tidurnya…
Pernah suatu hari gue lagi mau ganti baju di dalam kamar pas waktu itu gue lupa ngunci pintu… tiba tiba gue kaget pembokat gue masuk tanpa ngetuk ngetuk lagi, mungkin dia pikir udah lama kerja sama keluarga gue n udah kenal gue dari gue masih SD…
“Eh…, lagi ganti baju ya… Donn” kata pembantu gue sambil buka pintu kamar gue tanpa ada rasa kegelisahan apa apa saat liat gue gak pake apa apa… cuma tinggal CD aja yang belom gue lepas.
“Mbak, ketok dulu dong kalo mau masuk kamar Donny… gimana kalo pas masuk Donny lagi telanjang…” celetuk gue sama dia
“Emangnya kenapa sih Donn, saya kan udah lama kerja di keluarga Donny… ,lagian’kan waktu masih SD juga kamu suka pake CD aja kalo di rumah…”. Kata Dian sama gue yang kayaknya acuh terhadap posisi gue yang telanjang.
“Mbak… itu’kan dulu, waktu saya masih SD. Sekarang’kan saya sudah besar… Mbak memang gak malu yah liat saya kalo telanjang bulat gak pake apa apa…” celetuk asal keluar dari mulut.
“Iiiihhh…. malu gapain… lagian saya juga gak mau liat… yah udah sana kalo mau ganti baju, mbak mau beresin kamar kamu nih yang berantakan mulu tiap hari kayak kandang sapi…”
Karena dia menjawab dengan rasa yang tidak keberatan kalo gue ganti baju disaat ada dia. Dengan santai gue mulai turunin CD gue yang nutupin kont*l gue yang udah mulai agak kenceng dikit…
Tanpa sengaja gue tangkap lirikan matanya yang memandang ke arak selangkangan gue yang di tumbuhin rambut yang lebat…

“Nah… tuh ngeliatin mulu… katanya tadi mbak Dian gak mau liat, sekarang liat mulu…”
“Siapa yang liat… wong saya lagi beresin sprei yang berantakan ini kok…” bantah dia karena malu mungkin kepergok ngelihat kearah selangkangan gue.
AKhirnya gue tinggal dia di dalam kamar gue yang sedang beresin kamar gue yang berantakan itu, di luar gue jadi teringat gimana yah caranya buat bisa nikmatin tubuh pembantu gue yang bahenol ini… dan gue rasa dia juga kayaknya penasaran sama kont*l gue yang gede ini… buktinya beberapa kali gue pergokin dia ngelirik terus kearah gue.

Pas suatu hari libur, hari minggu keluarga gue pada pergi ke rumah kerabat gue yang mau nikahin anaknya.
“Donny… kamu mau ikut gak. Mama semuanya mau pergi ke pesta pernikahan anaknya tante Henny di Bandung…”. Tanya Mama gue.
“Kapan pulangnya Ma,…” Jawab gue sambil ngucek ngucek mata karena baru bangun…
“Mhhhmmm,… mungkin 2 hari deh baru pulang dari Bandung, kan capek dong Donn… kalo langsung pulang…
kamu tanya kapan pulang, kamu mau ikut gak… atau mau di rumah saja” tanya mamaku kembali…
“Kayaknya dirumah aja deh Ma… abis capek ah, jauh… lagian besok Donny ada acara sama teman teman Donny…” jawab
ku seraya kembali membenamkan kepalaku kembali ke bantal…
“Yah udah… mama mau berangkat jalan kamu baik baik yah jaga rumah… mau apa minta aja sama Mbak dian…”
“Dian… Dian… Dian…” panggil Mamaku
“Iyah Nyah…, Maaf saya lagi nyuci. Kurang denger tadi Nyonya panggil. Kenapa Nyah…” Jawab Mbak Dian
Sambil datang dari belakang yang ternyata sedang cuci baju… baju yang dikenakan sebetulnya tidaklah menantang, namun
karena terkena air sewaktu mencuci menjadi bagian paha dan dadanya seakan transparan menantang…
“Dian… kamu jaga rumah yah selama saya dan tuan pergi ke Bandung”
“Iyah Nyah… ,” jawab kembali pembokat gue itu ke mama gue…

Setelah kira kira selang beberapa jam setelah keberangkatan mamaku… akhirnya aku keluar dari kamar hendak buang air kecil.
Perlu Bro Bf ketahui jarak antara tempat pembantu gue nyuci sama kamar mandi deket banget… waktu gue jalan ke kamar mandi, gue liat pembantu gue yang lagi nyuci baju dengan posisi duduknya yang buat naga di dalam cd gue bangun…
Pembantu gue pake T shirt putih yang tipis karena dah lama di tambah lagi kaosnya kena air, secara langsung keliatan jelas banget BH krem yang dipake pembantu gue berserta paha mulusnya yang udah agak terbuka karena duduknya hingga keliatan CD putihnya…
“Anjriiit, mulus juga nih pembantu gue meskipun udah janda anak satu tapi dari paha dan teteknya masih keliatan kenceng, kayak cewek yang belum pernah kesentuh sama laki laki”.oceh gue dalam hati sambil kencing trus ngelirik ke pahanya yang mulus itu.
Sambil kencing gue mikir gimana caranya buka omongan sama pembantu gue, biar gue bisa agak lamaan liat CD dan teteknya yang aduhai itu… pantes banyak tukang sayur selalu suka nanyain Mbak Dian mulu kalo tiap pagi…
“Mbak gimana kabar Ani, sekarang udah umur berapa… Mbak Dian kok bisa sampai cerai sih sama suaminya”Iseng gue tanya seputar hubungan dia sama mantan suaminya yang sekarang udah cerai, dan kenapa bisa sampai cerai… gugup juga sih gua waktu nanyanya kayak gue nih psikolog aja…

“Kok tiba tiba Donny tanya tentang itu sih sama Mbak… “
“Gak pa pa
kan Mbak… “
“Anak mbak sekarang udah umur
lima tahun, mbak cerai sama suami mbak karena dia pengangguran… mau nya enak doang.
Mau bikinnya tapi gak mau besarin. Yah… lebih baik mbak minta cerai aja. masa sih mbak sendiri yang banting tulang cari uang,
sedangkan suami mbak cuman bangun, makan, main judi sampai subuh… males Donn punya suami pengangguran, lebih baik
sendiri… sama aja kok” Jawab pembantu ku panjang lebar, seraya tangannya tetap membilas baju yang sedang ia cuci.

Ini dia masuk ke dalam dialog yang sebenarnya… akhirnya pembicaraan yang gue maksud agar gue arahin pembicaraan hingga tentang persoalan hubungan intim.

“Lah… bukannya enakan punya suami, mbak… daripada gak ada…”
“Enak dari mananya Donn… punya suami sama gak punya sama aja ah…”
“Loh beda dong mbak…”
“Beda dari mananya Donn… coba jelasin, aah kamu ngomongnya kayak kamu dah pernah ngerasain menikah aja sih Donn…”
tanya pembantuku sambil bercanda kecil.
“Yah beda lah mbak… dulu kalo masih ada suami kan kalo lagi pengen tinggal minta sama suami mbak… sekarang udah cerai
pas lagi pengen… mau minta sama siapa…” Jawab gue sambil menjuruskan kalimat kalimat yang gue tuju ke hal yang gue
inginin.
“Maksud Donny apa sih… mau apa. Ngomongnya jangan yang bikin mbak bingung dong Donn…”
“Gini mbak, maksudnya apa mbak gak pernah pengen atau kangen sama ini nya laki laki…” waktu gue ngomong gitu sambil gue turunin dikit celana pendek gue, trus gue keluarin punya gue ngadep ke depan mukanya…

“Iiih gede banget punya kamu Donn… punya mantan suami mbak sih gak begitu gede kayak gini…” Jawab mbak dian sambil melotot ke kont*l gue yang udah Super tegang, karena dari tadi udah minta di keluarin.
“Kangen gak sama Kont*l laki laki mbak…” tanya kembali saya yang sempat membuyarkan pandangan mbak dian yang dari
setadi tak lepas memandang kont*lku terus.
“…… waduh mbak gak tahu deh Donn…, kalo punya mbak dimasukin sama punya kamu yang gede kayak gini. Gimana rasanya
mbak gak bisa ngebayangin…”
“Loh… mbak saya kan gak tanya apa rasanya di masukin sama punya saya yang lebih gede dari punya mantan suami mbak. Saya kan cuman tanya apa mbak gak kangen sama punyanya laki laki”Padahal didalam hati gue udah tahu keinginan dia yang pengen ngerasain kont*l gue yang super size ini…
“mmmmhhhhh… maksud mbak dian sih… yah ada kangen sama punya laki laki… tapi kadang kadang mbak tahan aja, abis
mbak kan dah cerai sama suami… ” jawab mbak dian yang keliatan di pipinya merona karena merasa jawabannya ngawur
dari apa yang gue tanyain ke dia”
“Mbak… boleh gak saya pegang tet*k mbak “
“Iiihh… Donn kok mintanya sama mbak sih, minta dong sama pacar Donny… masa sama mbak…”
“Yah… gak pa pa sih, saya mau ngerasain begituan sama mbak dian… gimana sih begitu sama ce yang udah pernah punya
anak… boleh yah mbak… ” kata gue sambil mendekatkan kont*l gue lebih dekat ke mulutnya…
“iiih donny… punya kamu kena mulut mbak nih… memangnya kamu gak malu gituan sama mbak dian…” jawab mbak dian sambil merubah posisi duduknya sambil menghadap ke kont*l gue dan ngelepasin baju yang sedang dia bilas…
“Yah gak lah kan gak ada yang tahu… lagian kan gak ada yang tahu, kan sekarang gak ada orang selain mbak dian sama saya”
jawab gue sambil yakinin ke dia, biar di mau kasih yang gue pengen.
“Tapi jangan keterusan yah… trus kamu mau di apain sama mbak…”
“Mbak mulutnya di buka dikit dong, saya mau masukin punya saya ke dalam mulut mbak dian…”
“Iih… gak ah jijik… masa punya kamu di masukin ke dalam mulut mbak… mbak gak pernah lakuin kayak gini sama mantan
suami mbak, gak ahh… ” tapi posisi tangannya sekarang malah megang kont*l gue sambil ngocok ngocok maju mundur.
“Cobain dulu mbak enak loh… anggap aja mbak dian lagi kemut permen lolipop atau es krim yang panjang” rayu gue ngarep
mbak dian mau masukin kont*l gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.

Akhirnya permintaan gue diturutin tanpa banyak ngomong lagi mbak dian majuin mukanya kearah kont*l gue yang udah
super tegang itu kedalam mulutnya yang mungil… sementara dia kemut kont*l gue maju mundur yang terkadang di selingin jilatan jilatan yang bikin gue pegang kepalanya trus gue tarik maju hingga kepala kont*l gue mentok sampe kerongkongan mbak dian.
“Ooooooh… mbak emut truuuus mbak…. ennnnak banget” sambil tangan gue mulai turun megang tet*knya yang mengoda itu.
Tangan gue masuk lewat kerah kaosnya, trus langsung gue remes kera tet*knya… Tangan mbak dian juga kayaknya gak mau
kalah sama gue. Dia malah makin ngedorong pantat gue dengan tangannya hingga hidungnya nempel sama jembut gue…

Karena tempatnya kurang tepat untuk bertempur lalu gue ajak mbak dian ke ruangan tengah sambil ngemut kont*l gue jalan ke ruangan tengah. Perlu di ketahui mbak dian merangkak seperti anjing yang haus sex gak mau lepas dari kont*l gue, merangkak berjalan ngikutin langkah kaki gue yang mundur ke arah ruang tengah.
Gue liat mulutnya yang mungil sekarang terisi kont*l gue… tangannya sambil remas remas buah dadanya sendiri…
” Mbak dian lepasin dulu dong kont*l saya, buka dulu baju mbak dian. Entarkan mbak juga nikmatin sepenuhnya punya saya…”
” Donnn…. punya kamu enak banget… mbak kira dari dulu jijik kalo liat ce ngemut punyanya cowok… ehh ternyata nikmatnya
bener bener bikin ketagihan Donn…”

Dengan cepat cepat mbak dian membuka seluruh baju dan roknya yang tadi basah karena kena air… Wooow, sungguh pemandangan yang sangat indah… kini di hadapan gue telah ada seorang wanita yang telanjang tanpa tertutup sehelai benang… berjalan menghampiri gue dengan posisi doggie style mbak dian kembali memasukkan kont*l gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.
Dengan jels bisa gue liat buah dada yang gelantungan dan bongkahan pantat yang begitu padat, yang slama ini udah banyak bikin kont*l gue penasaran pengen di selipin diantara bongkahan itu…
nafas suara mbak dian semakin lama semakin membara terpacu seiringin dengan birahi yang selama ini terkubur di dalam dirinya. Sekarang terbangun dan mendapatkan suatu kepuasan seks yang selama ini ia tahan tahan.
Sementara mbak dian ngemut kont*l gue, gue remas tet*knya yang menantang itu terkadang gue pegang MQ nya yang ternyata udah banjir oleh cairan kenikmatan.
Gue tusuk tusuk jari tengah gue ke dalam mem*knya hingga mbak dian ngeluarin desahan sambil meluk pantat gue…

” Mmmmhhhhh….. ooooooohhhhhh……” desahannya begitu menambah gue buat semakin cepat menusuk nusuk liang kenikmatannya semakin cepat.
“Donnn…..OOooooohhhh…. Donnn… enak donnn… enak….” Desahan mbak dian benar benar membuat semakin terangsang…
tusukan jari yang gue sodok sodok pun semakin gencar…

” Aaaaaahhhh…. Donnnyyyyyy…. OOOhhhhh Dooooonnn… mbakkkkk….. mmmmbb….. klllluuuaar… ” bersamaan dengan desahan mbak Dian yang panjang, akhirnya mbak Dian telah mencapai puncak kenikmatannya yang terasa di jari tengah yang
gue sodok sodok ke lubang MQ nya waktu mbak Dian menyemprot cairan kenikmatannya….
Karena mbak Dian telah mengalami organismenya yang pertama, maka Gue pun tak mau kala. Irama sodokkan kont*l gue percepat kedalam mulut mbak Dian berkali kali hingga desahan panjang gue pun mulai keluar yang menandakan sperma gue akan muncrat…

” Mbak Donny mau kkkkelllluaaar…. aaaaahhhh…. sedot mbak… sedot peju Donny…. ” kata gue sama Mbak Dian sambil menahan kepalanya untuk memendamkan kont*l gue hingga masuk ke tenggorokannya. Namun Mbak Dian meronta ronta tidak menginginkan sperma gue keluar di dalam mulutnya… sia sia rontahan mbak Dian Sperma gue akhirnya keluar hingga penuh di dalam mulutnya.
Crroooot…. Crooot… crooot… akhirnya Gue semburkan berkali kali peju gue di dalam mulut mbak Dian. Meskipun pada saat Mbak Dian tidak ingin menelan Sperma gue namun gue memaksanya untuk menelannya dan menikmati Sperma gue yang segar itu.

Posisi mbak Dian masih sama seperti sebelumnya, namun sekarang kakinya seperti kehilangan tenaga untuk menahan berat badannya mengalami kenikmatannya… dari sela sela bibirnya mengalir sisa spermaku yang di jilat kembali. Tubuh mbak Dian kini terkapar tak berdaya namun menampilkan sosok wajah penuh dengan kepuasan yang selama ini tak ia dapatkan.
Melihat expresi wajahnya membuat gue kembali semakin nafsu… karena dari tadi gue anggap hanyalah pemanasan.

Gue berjalan mendekat ke tubuh mbak dian yang sedang lemes… trus menelentangkan posisi tubuhnya dan gue rengangkan kedua belah pahanya. Dengan tangan sebelah kanan gue genggam kont*l gue yang udah tegang terus menerus mengesek gesekan kepala kont*l gue di atas permukaaan Mem*k mbak dian yang udah licin, basah karena cairan kenikmatan milik mbak dian. Saat Gue mau menjebloskan kont*l gue yang udah menyibak bibir mem*knya, tiba tiba mbak dian menahan dada gue dan berharap gue gak masukin kont*l gue ke dalam mem*knya yang sudah lima tahun gak pernah terisi sama kont*l laki laki…

Karena saat itu nafsu gue udah sampe otak, gue dah gak perduli lagi sambil tetap ngeliat ke bawah tempat dimana kont*l gue sekarang akan menembus liang kenikmatan yang sungguh sungguh mengiurkan…

“Tenang mbak tahan dikit… saya ngerti mungkin kont*l saya terlihat terlalu besar dibandingkan mem*k mbak. Tapi nanti disaat
udah masuk kedalam mem*k mbak… nikmatnya akan 10x lipat nikmat yang pernah mbak dian rasain sama mantan suami
mbak…” gue bisa liat di matanya takut saat detik detik gue akan menghujang basoka yang besar ini kedalam mem*knya yang terbilang sempit…
” Dooonnnn….. peeellllannn… mbak ngeri liat punya kamu yang besar banget itu…. ” kata mbak Dia sambil melirik ke arah basoka rambo yang siap mengaduk gaduk isi mem*knya.
” Iya… Donny coba pelan pelan masukin nya… mbak tahan dikit yah… mungkin karena dah lama aja mbak kali mbak… ” kataku kembali kepada mbak Dian seraya meyakinkan hatinya.

Sambil kembali menaikkan kembali libidonya, gue gesek gesek kepala kont*l gue tepat diatas bibir mem*knya yang mulai kembali basah sama cairan kewanitaannya. Terkadang gue selipin sedikit demi sedikit ke dalam liang mem*knya mbak Dian, lalu gue tarik kembali dan mengesekkan kembali ke itil nya yang merah segar itu.
sleep…sleep… sleeep… mungkin sangkin basahnya mem*k mbak Dian hingga mengakibatkan suara seperti itu….
” hhmmmmm… eeee… ssstttt….. Donnn… Donnn… Kamu apain punya mbak Dian. ” tanya mbak Dian sambil matanya terpejam mengigit bibir bawahnya sendiri…
” Donn… udah dong… jangan bikin mbak Dian kayak gini trus….
masukkin aja Donn “
” Mbak mohon kasihan kamu… entot*n mbak… mbak gak tahan lagi… ooohhh… eemmmm…
” rengge mbak Dian sama gue mengharap segera kont*l gue masuk ke dalam mem*knya dan memompa dia.

” Tahan mbak yah… ” lalu tanpa menunggu jawaban selanjutnya ku tancapkan seluruh batang kont*l gue yang udah dari tadi mau mengobok gobok isi mem*knya.
” Doooooonn…… ” sahut mbak Dian di saat pertama gue terobos mem*knya, tangannya langsung merangkul leher gue. Seperti orang yang mengantungkan setengah badannya.
” Pelan… pelan… Donn… nyeri… bannngeet …”

Namun gue gak sahutin ucapan mbak Dian, karena gue lagi nikmatin sesuatu yang memijit kont*l gue yang terkadang menyedot yedod kont*l gue ini. Rasanya begitu nikmat hingga gue tanjap lagi lebih dalam sampai terasa kont*l gue mentok di dasar rahim mbak Dian yang motok ini.
Desahan liar mbak Dian pun semakin tak karuan… terkadang dengan tangannya sendiri mbak Dian memelintir puting susunya yang udah mengeras…

” Gimana Mbak masih sakit… sekarang rasanya apa… enak gak mbak… ” tanya ku kepada mbak Dian setelah gue liat raut mukanya yang penuh dengan expresi kenikmatan. Gerakkannya dan goyangan pinggulnya yang mengikuti irama enjotan gue pun semakin lama semakin liar. Kadang kadang pantatnya di hentakkan ke atas yang berbarengan dengan sodok sodokkan yang gue hujam ke mem*knya.
” Donnn… Donnn… kamu hebat banget… Donnnn….”
” Donnn… mmmmmaaauuu… mmmmmbbbaaakk keluar lagi nih… OOOOOoooooohhh ” Cengkraman tangannya di punggungku dan lipatan kedua kakinya pada pinggangku bersamaan dengan erangan panjang yang menandai bahwa mbak
Dian akan menyemburkan air maninya untuk kedua kalinya…

Karena gue masih ngaceng dan semakin bertambah bernafsu setelah ngeliat raut muka seorang janda beranak satu ini merasa kepuasaan, lalu tanpa banyak buang waktu lagi.
Gue langsung membalikkan tubuh mbak Dian dan memintanya untuk menungging, ternyata mbak Dian tanpa bertanya kembali ia menuruti permintaan gue yang ingin cepat cepat menghajar kembali mem*knya…
” Donnn, kamu memang hebat Donn… mbak baru pertama kali di ent*t sama laki laki lain selain mantan suami mbak sendiri “
” Donnn, sekarang kamu mau apain aja mbak ikutin aja… yang penting mbak bisa ikut nikmatin peju kamu Donn… ” kata mbak Dian sambil mempersiapkan mem*knya dengan membersihkan mem*knya dari cairannya sendiri yang mengalir hingga di kedua pangkal pahanya. Beberapa kali ia seka mem*knya sendiri hingga bersih dan terlihat kering kembali… dan siap untuk di santap kembali.

Sekarang di hadapan gue mbak Dian sudah siap dengan 2 pasang bongkahan pantatnya yang masih kenceng, dengan posisi kepalanya lebih rendah dari pada pantatnya. Liang kewanitaannya seakan akan menantang Kont*l gue untuk memompa mem*knya mbak Dian kembali…
Jelas terlihat belahan bibir mem*knya yang membuka sedikit mengintip dari celah daging segar karena barusan gue ent*t.
Dengan tangan sebelah kanan gue pegang batang kont*l gue dan tangan sebelah kirinya gue membuka belahan pantatnya yang mulus sambil terkadang gue usap permukaan mem*knya yang tandus bukan karena suka di cukur namun memang sudah keturunan, setiap wanita dikeluarga tidak akan memiliki bulu/jembut pada mem*k. Sungguh indah sekali pemandangan yang terpampang, mem*k yang mengiurkan terjepit oleh dua bongkahan pantatnya yang bahenol itu.
Kumajukan kont*l gue hingga menempel di permukaan mem*k mbak Dian, mengorek gorek permukaan mem*knya dengan kepala kont*l gue. Ternyata apa yang gue lakukan ini sangat dinikmati oleh mbak Dian sendiri… yang terkadang selalu mendesah setiap kali bibir mem*knya tersibak karena gesekan kepala kont*l gue.

Lalu dengan gerakan perlahan gue tusuk mem*k mbak Dian perlahan biar sesasi yang timbul akan semakin nikmat disaat itilnya ikut masuk bersama dengan dorongan kont*l gue yang mulai terpendam.
” Geli banget Donn rasanya… tapi lebih enak Donn rasanya daripada sebelumnya… “
” Donn… lebih keras…. Donn… entot*n mbak… puasin mbak Donn… ” pinta mbak Dian sembari memeras buah dadanya sendiri.
” Donn… lagiii… laggiii… Donn… lebiiihhh.. kencenggg lagi… ” pinta kembali mbak Dian sambil mulutnya yang ter engap engap seperti ikan yang baru saja keluar dari air.

Hujangan kont*l ku kini semakin cepat dan semakin gencar ke dalam mem*knya… hingga menimbulkan suara suara yang terjadi karena sodokan sodokan kont*l gue itu. Tingkat aktivitas yang gue lakukanpun kini semakin gencar. Tangan gue memeras buah dada mbak Dian hingga erangan mbak Dian pun semakin menjadi tak kala hentakan kont*l gue yang kencang mengesek dinding liang kewanitaannya.
Cukup lama juga gue mengent*t*n mbak Dian dengan style doggie ini, hingga gue menyuruh mbak Dian berganti variasi seks. Posisi mbak dian sekarang tidur terlentang namun kakinya menimpa pada kaki sebelahnya dan badannya agak miring, dengan posisi ini mem*knya yang terhimpit terlihat seakan membentuk belahan mem*k.
Lalu kembali lagi gue masukin kont*l gue yang masih keras ini kedalam mem*k mbak Dian, dengan tangan sebelah gue menahan di pinggulnya. Kali ini dengan mudah kont*l gue masuk menerobos liang kewanitaannya, enjotan gue kali ini benar benar nikmat banget karena sekarang posisinya kont*l gue serasa di jepit sama pantatnya.
Setiap dorongan kont*l gue menimbulkan sensasi yang lebih di raut muka mbak Dian. Mukanya mendahak ke arah gue sambil memegang lengan tangan sebelah kiri sambil mulutnya terbuka seperti pelacur yang haus kont*l kont*l para pelanggan setianya.

” Mbak… enak gak… kont*l Donn… ” tanya gue sama mbak Dian dengan nafas yang telah terengah engah.
” Enaaaak… Donnn …. Truuus …. Donnn…. jgan brenti… “
” Ngomong mbak Dian kalo mulai saat ini mbak memang pelacur Donn… mbak suka banget sama kont*l Donn…” Suruh gue ke mbak Dian buat niru ucapan gue.
” Mbak memang pelacur Donnny… kapan aja Donnny mau… mbak layani… sssstt… Dooonn… “
” Mbak suka bngeeeeet… koooont*l Donnnnyyy… ennnntot*n mbak Diannn tiap hari Donnnn… entot*n… entot*n…. trussss “

Mendengar seruan mbak Dian yang tertahan tahan karena nafsu yang besar kini sudah menyelubungi seluruh saraf ditbuhnya, menambah birahi gue semakin memuncak. Menambah gue semakin cepat dan cepat mengent*t*n mbak Dian, sampai sampai goyangan buah dadanya seiringan dengan dorongan yang gue berikan ke dalam mem*k…

Akhirnya mbak Dian kembali mencapai puncaknya kembali, sambil memasukan jarinya kedalam lubang anusnya sendiri…
” Donnnn… mbak.. mmmmau… kllllluaaar laaagi…. ooooooohhh…Doooonnn…. ” erang mbak Dian yang hendak memuncratkan air semakin membuat ku terangsang karena mimik mukanya yang sungguh sungguh mengairahkan.
Dengan badan yang telah lunglai, mbak Dian terkapar seperti orang yang lemah tak berdaya. Namun pompaan kont*l gue yang keluar masuk tetap gak berhenti malah semakin lama semakin cepat.

Tiba tiba gue ngerasain sesuatu yang berdenyut denyut disekitar pangkal kont*l gue. Dengan keadaan mbak Dian yang sudah tidak berdaya aku terus mengent*t*n mem*knya tanpa memperdulikan keadaan mbak Dian yang sekujur tubuhnya berkeringat karena kelelahan setelah gue entot*n dari setadi.

” Mbaaaak… Dooonnn…nyyy mmmaaau.. kkklarrrr… Aaaahhhh…. ” Seruku disaat sesuatu hendak mau menyembur keluar dan terus menerus memaksa.
Crrrooot… Crrrooot… CCrooot… akhirnya gue tersenyum puas dan mencabut kont*l gue dari dalam mem*k mbak Dian dan menghampiri mbak Dian dan memangku kepalanya dan meminta mbak Dian membersihkan bekas bekas peju gue yang bececeran di selangkangan gue…

Gak pernah gue sia sia in saat berdua dirumah… setiap saat gue mau, langsung gue ent*t mbak Dian. Saat mbak Dian lagi ngegosok baju tiba tiba gue sergap dia dari belakang dan langsung buka celananya dan gue ent*t mbak Dian dalam keadaan berdiri dan slalu gue keluarin di dalam mem*knya dan yang terkadang gue suruh mbak Dian sepong kont*l gue lalu gue keluarin di dalam mulutnya serta langsung di nikmatin peju gue itu… katanya nikmat manis…
Hari hari yang sangat sungguh indah selama beberapa hari gue selalu ent*tin mbak Dian dengan berbagai variasi seks… hingga sampai mbak Dian sekarang hebat dalam mengemut kont*l gue… Mbak Dian pun gak pernah menolak saat gue membutuhkan mem*knya karena dia juga sudah ketagihan sodokan kont*l gue. Sering malam malam mbak Dian suka masuk ke kamar gue dan suka sepongin kont*l gue hingga gue bangun dan langsung gue ent*t mbak Dian.

NIKMATNYA PEMBOKAT GUE… KAPANPUN GUE MAU DIA PASTI MENGHIDANGKAN MEM*KNYA UNTUK GUE NIKMATIN.

Mei 21, 2008. Tag: . Cerita-cerita Erotis. 1 komentar.

Dunia Pinggiran

Aku lebih senang mengangkat pengalaman pribadiku yang mungkin sebagian orang menganggapnya dunia pinggiran, karena Tidak ada bahasa asing (biar kelihatan exclusive dan Bonafide), tidak ada kata atau kalimat yang ngejlimet yang bikin orang buka kamus, karena di lingkungan aku kerja banyak sekali mpok-mpok, mbak-mbak, mas-mas, yang pendidikannya pas-pasan, hanya sekedar bisa baca dan ngitung gaji setiap hari Sabtu. Nah yang ini perlu sekali diketahui oleh seluruh pembaca supaya wawasan tambah luas, dan rasa sosialnya semakin bertambah.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pergaulan pabrik dalam hal seks lebih berani daripada ‘anak gaul’ di perkotaan. Aku sebagai pengawas kadang-kadang ingin juga menikmati keringat anak buahku yang tidak kenal parfum. Hanya saja aku kuatir tidak bisa bertindak adil kepada seluruh karyawan/ti, kalau saja perhatian dan penilaianku bukan berdasarkan pekerjaan malah berdasarkan bisa atau tidaknya ‘dipakai’. Lagian aku tidak mau dimanfaatkan oleh anak buahku hanya karena mencicipi nikmat sesaat.
Jadi aku hanya dapat melihat pergaulan anak buahku yang rata-rata berani. Di depan umum saja seenaknya main tepuk pantat karyawati yang bahenol, bagaimana kalau di tempat tersembunyi? Entah, sudah beberapa pasang anak buahku yang nikah karena ‘kecelakaan’, dan entah sudah berapa pasang yang disidang oleh security karena tertangkap ‘mojok’.

Tapi dari sekian ratus karyawati ada seorang yang menjadi primadona, namanya sebut saja Linda. Belum lama jadi karyawati, pernah berkerja sebagai kasir di NAGA swalayan, pendidikannya termasuk lumayan untuk ukuran buruh yaitu SMEA, wajahnya sepintas mirip Iis Dahlia penyanyi dangdut kenamaan (Kenal nggak?). Pokoknya cantik, hidungnya mancung, bibirnya sensual dan berkumis halus. Alis matanya tebal rapi tanpa cukuran, rambutnya hitam sebahu, Kulitnya putih bersih, dadanya perkiraanku 36B. Cuma sayangnya pantatnya kurang bahenol, meskipun pinggangnya ramping, tapi justru berdasarkan pengalamanku pantat yang model begini yang dapat memberikan kepuasan maksimal dalam persetubuhan. Biasanya yang pantatnya bahenol cuma enak dipandang tapi kurang sip untuk dinikmati.

Linda tidak sombong dan mudah bergaul dengan siapa saja, murah senyum, dan kelihatannya ‘jinak’. Gaya bicaranya seperti menggoda. Aku sendiri setelah berfikir panjang akhirnya mengambil keputusan untuk mendekatinya. Pendekatan pertama waktu jam istirahat. Kebetulan dia sedang makan di kantin, dan hanya ada beberapa orang saja yang makan di situ (mungkin harganya mahal sehingga sebagian besar karyawan/ti makannya di luar pabrik).
“Mari makan, pak!” Linda langsung berbasa-basi ketika aku datang.
“Terima kasih,” aku menjawab tawarannya dan langsung memesan makanan dan minuman.
Kami terlibat dalam obrolan yang mengasyikan sampai tak terasa jam istirahat berakhir. Aku membayarkan semua makanan termasuk teman-teman Linda (yang begini aku sudah biasa, jadi teman-teman Linda tak curiga sedikitpun bahwa aku ada maksud tertentu).

Ternyata makan siang itu adalah awal dari segalanya. Aku jadi sering ‘sengaja’ makan siang di kantin supaya bisa memandang wajahnya yang cantik. Dan pada pertemuan yang kesekian kalinya aku mencoba mengajaknya makan di luar. Ternyata dia ok saja, bahkan waktu aku tawarkan untuk menjemput di rumahnya, dia malah tidak mau, dan minta dijemput di tempat yang dia tentukan. Wah, aku sih tambah senang jadi tidak ‘terikat’.

Sore itu sepulang jam kerja, aku menemuinya di tempat yang telah dijanjikan. Ternyata dia sudah ada di sana. Penampilannya kali ini jauh berbeda dengan penampilannya saat kerja. Jeans dan kaos ketat yang dipakainya membuat jakunku naik-turun. Bagaimana tidak? Buah dadanya yang memang besar seperti mau loncat dari dadanya.
Sepanjang perjalanan aku tak bisa konsentrasi menyetir. Pikiranku dipenuhi dengan ‘permainan’ seks yang akan kami lakukan, serta kenikmatan yang sebentar lagi aku rasakan. Tapi aku juga agak takut bila dia menolak.
Akhirnya aku belokkan mobilku ke arah rumah makan Kalasan untuk pendekatan lebih dalam. Kami ngobrol tak tentu arah bagai sepasang kekasih. Juga tentang ekonomi keluarganya yang morat-marit sejak ditinggal pergi ayahnya. Bahkan selesai makan dan aku membayar Rp 80.000 dia agak terkejut.
“Wah, sayang banget, pak! Makan begitu saja 80.000″
“Memangnya kenapa?” aku balik bertanya.
“Ah, nggak sih. Saya jadi ingat adik saya yang belum bayar SPP 3 bulan.”
Aku baru mengerti bahwa meskipun dia tidak kentara seperti orang susah, tapi sesungguhnya dia amat tersiksa dengan jerat kemiskinan yang dialaminya. Aku jadi tergugah mendengarnya.
“Memang berapa SPP adik kamu sebulan?”
“40.000” jawabnya pendek.
Aku keluarkan dompetku dan memberikan Rp 200.000.
“Nih, untuk bayar SPP adik kamu.”
“Nggak usah, pak!” dia bersikeras menolak. Aku sedikit memaksanya dan akhirnya dia menerima.
“Tapi, Bapak Ikhlas dan tanpa pamrih?”
“Iya,” meskipun ada sedikit pamrih, kan nggak mungkin aku ungkapkan, batinku dalam hati.

Setelah makan, Aku mengajaknya ke pantai dan duduk berdua ditemani riak gelombang dan semilir angin yang menerpa wajah kami.
“Lin, kalau sedang berdua begini, kamu jangan panggil ‘bapak’. Panggil aja ‘kakak’, ok?”
“Eh, ya pak. Eh..ya kak.”
Aku melingkari tanganku di pundaknya, dia tampak sedikit grogi.
“Jangan kak, Linda malu,” tangannya berusaha menepis tanganku.
“Tidak mengapa, kan nggak ada orang.”
“Tidak! Linda tidak mau.”
Aku mengalah dan hanya mengobrol saja.
“Memangnya kamu belum pernah pacaran?” tanyaku.
“Sudah, tapi belum pernah sedikitpun Linda bersentuhan dengan pacar Linda.”
Aku menangguk mengerti. Berarti gadis ini masih suci, otak iblisku langsung berfikir keras.
“Sebentar ya, Lin. Kakak mau cari minuman dulu.”
Aku beranjak, dan membeli 2 kaleng sprite di counter-counter yang banyak bertebaran di pinggir pantai. Kukeluarkan serbuk perangsang yang kusiapkan dari rumah, dan kutaburkan di minumannya.
“Lin, ini minumannya,” aku menawarkan. Tanpa curiga sedikitpun Linda langsung meminumnya. Aku tersenyum dalam hati. Tak lama reaksinya mulai kelihatan. Aku lihat tubuhnya berkeringat.
“Kak, kepala Linda agak pusing. Pulang yuk.”
“Baru jam 07.00, ntar aja yah?”
Linda semakin banyak meminum sprite yang sudah aku taburkan serbuk, dan mungkin akibat terlalu banyak Linda tak sadarkan diri. Aku sedikit panik. Aku segera memapahnya ke Cottage terdekat. Aku diam sejenak memikirkan apa yang harus aku lakukan?
Mumpung dia tak sadar, aku segera melepaskan kaos ketat yang dipakainya. Tampak branya sudah tak cukup menampung buah dadanya yang besar dan putih. Bulu ketiaknya sangat lebat dan hitam, kontras dengan kulitnya yang putih. Nafasku semakin memburu terbawa nafsu. Kulumat bibirnya yang sensual, kuciumi lehernya, kupingnya dan seluruh tubuhnya hingga Linda bugil tanpa sehelai benangpun melekat pada tubuhnya.
Sambil melepas pakaianku sendiri aku memandangi keindahan tubuhnya, terutama buah dadanya dan kemaluannya yang amat rimbun. Setelah sama-sama bugil, aku kembali mencumbunya, meskipun dia belum siuman dan seperti orang mati tapi aku tak perduli. Kugunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Putingnya yang kemerahan aku lumat dengan rakusnya, aku hisap dalam-dalam. Lidahku menari-nari menelusuri keindahan lekuk-lekuk tubuhnya. Aroma ketiaknya yang khas tanpa parfum pun tak luput dari ciumanku, sampai pada lipatan pahanya yang penuh dengan hutan rimbun.
Lidahku menyibak rerumputannya, dan tampak segaris kemaluannya yang kelihatannya masih rapat. Lidahku terus mencar-cari klitorisnya. Setelah ketemu lidahku mengitarinya dan kadang menghisap lembut, sampai aku sendiri sudah tak tahan dan dengan kuat kuhisap klitorisnya. Aku terkejut. Ternyata rambutku tiba-tiba ada yang meremas kuat.
“Ahhhh, terus kak.” Linda ternyata sudah siuman dan mulai merasa keenakan. Aku semakin semangat. Jari-jariku langsung bergerak ke arah buah dadanya dan kupilin-pilin kedua putingnya, sementara lidahku semakin asyik mendorong untuk masuk ke liang kemaluannya. Tapi sungguh sulit sekali rasanya. Kemaluannya sama sekali tidak ada lubang. Linda semakin merintih tidak karuan. Secara reflek tangannya mencari pegangan. Kuarahkan senjataku yang sudah meregang kaku ke jarinya, dan Linda dengan kuatnya menarik senjataku. Aku merasakan kenikmatan. Percumbuan kami kian panas. Lumatan bibirku di bibirnya disambut dengan rakusnya. Sepertinya Linda benar-benar terpengaruh kuat oleh obat yang aku berikan.

Bahkan dia sudah mengangkangkan pahanya dan membimbing senjataku utk memasuki lembahnya, dan menarik pinggulku agar senjataku terdorong. Tapi aku mencoba menahannya karena aku yakin Linda masih dalam pengaruh obat. Aku menarik nafas panjang dan menenangkan debar jantungku.

Linda terus memaksa…
Aku semakin bimbang. Bagaimanapun juga aku masih punya nurani. Aku tak mau merusak kegadisan orang, apalagi sampai merusak masa depannya. Aku kuatkan hati dan bangkit dari lingkaran nafsu yang telah membelenggu kami berdua. Aku ambil air segayung dan menyiram kepalaku dan kepala Linda.

Nafsuku yang sudah memuncak langsung drop, dan Linda sendiri kelihatannya mulai sadar, dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Oh, Apa yang terjadi?” Linda panik, bangkit dan memukul dadaku. Aku mencoba bersabar.
“Kakak jahat ” Linda semakin kencang memukulku, aku merangkul tubuhnya.
“Sabar sayang, semua belum terjadi.”
“Tapi tubuh Linda sudah kotor. Kakak kejam menjebak Linda.”
“Siapa yang menjebak Linda?”

Setelah suasana agak reda, aku baru menjelaskan kepadanya (tentunya berbohong) bahwa semua yang terjadi adalah kehendak dia sendiri yang memancing gairahku. Bahkan aku malah yang menolaknya, dan memang Linda dalam keadaan setengah sadar dan seperti bermimpi juga mengiyakan bahwa aku yang menolaknya.

Sejak kejadian itu Linda semakin akrab denganku. Meskipun akhirnya dia tahu bahwa aku sudah mempunyai pacar yang sudah seperti istri, tapi dia tidak bisa melupakanku karena aku yang pertama menjamah tubuhnya.

Mei 7, 2008. Tag: . Cerita-cerita Erotis. Tinggalkan komentar.

Pembantu Menggairahkan

Sekarang ini aku adalah seorang ayah dari dua orang putri dan seorang putra. Kehidupan perkawinanku biasa-biasa saja, tidak terlalu menggebu dalam masalah hubungan pasutri. Meskipun sebenarnya aku termasuk lelaki yang mempunyai nafsu besar, tapi karena istriku sangat tidak pandai dalam hal satu ini, sering aku merasa kosong dan hambar.

Cerita ini terjadi sekitar tahun 2003 akhir, bermula ketika babby sitter anakku yang kedua dipanggil pulang orang tuanya karena kakaknya juga baru melahirkan. Selang seminggu kemudian bapakku datang ke Jakarta mengantarkan seorang baby sitter baru untuk anakku. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah merasa terangsang sekali terutama bila melihat dua gundukan besar di dadanya yang sampai saat ini aku tidak tahu pasti berapa ukurannya, tapi sangat besar mungkin 36D.
Sebut saja namanya Mimin dan saat itu dia baru berusia 17 tahun tapi mempunyai tubuh yang bongsor dengan tinggi 167cm. Paras mukanya biasa saja dan bentuk badannya juga biasa. Hanya dua gundukan itu yang selalu menghantui pikiranku sejak pertama kali melihatnya.
Sejak kedatangannya tidak ada yang special yang terjadi, karena aku jugatidak pernah berusaha untuk berbuat sesuatu yang mengarah kepada berhubungan seks dengannya. Dan dia nampaknya juga bisa membawakan diri dengan baik dan juga sayang pada putriku yang kedua yang saat itu baru berusia 3-4 bulan juga putri pertamaku.
Oh ya pembaca, kami masih tinggal di pavilion rumah mertuaku yang ada pintu penghubung dengan bangunan utama.
Kejadian berawal ketika pada suatu siang Mimin meminta tolong kepadaku untuk mensetting handphone yang baru dibelinya. Aku sedanglibur hari itu dan istriku sedang di kantor. Ketika sedang berdiri minum kopi di meja makan, tiba-tiba Mimin datang dan berkata:
“Pak, tolong dong settingin handphone saya. Saya ga bisa”.
Kuterima handphonenya dan mulai kuutak-atik. Sedang asik mengutak-atik hp itulah ketika mulai terasa ada hembusan nafas dibelakang telinga kiriku dan ketika kutengok, Mimin berdiri disitu sedang memperhatikan caraku mensetting hp-nya.
“Sekalian belajar Pak”, katanya.

Aku biarkan saja dan mulai mengajarkan caranya, masih sambil berdiri. Tiba-tiba lengan kiriku merasa ada benda kenyal empuk menyentuhnya. Kucoba tarik untuk menghindarinya tapi malah semakin terasa menempel di punggung dan lenganku.
“Apa maunya nih anak?”, pikirku.
Kutengok lagi ke belakang dan muka Mimin berada sangat dekat dengan mukaku, sambil matanya tetap tertuju pada hp-nya. Kemudian kuberanikan diri untuk mengecup pipinya dan dia diam saja. Bahkan kurasakan hembusan nafasnya yang hangat di telinga kiriku. Tentu saja hal itu membangkitkan gairah kelelakianku.
Kemudian kuberanikan diri untuk memegang pahanya dengan tangan kiriku yang bebas. Mimin diam saja. Kuusap-usap pahanya dan hembusan hangat nafasnya di telingaku makin kencang. Tangan kirikupun makin naik dan berhenti dipangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya dan perlahan jari tengahku kutekan-tekan tepat ditengah gundukan. Mulai terdengar desahannya dan gundukan kembar makin menekan punggung dan lenganku. Makin kutekan jari tengah tangan kiriku dan makin konsentrasi di satu tempat yang kuyakin adalah clit-nya. Kurasakan tangan kananya memeluk dan mulai meremas pinggangku.
Akhirnya kutarik keatas roknya yang sebatas lutut dan kembali kuusap-usap gundukan venusnya yang masih terbungkus cd. Remasan dan pelukannya dipinggangku makin kencang dan tangan kirinya membantu tangan kiriku menekan dan mengusap-usap pangkal pahanya. Mulai kurasakan lembab cdnya dan akhirnya kutelusupkan telapak tangan kiriku kedalamnya. Disambut oleh bulu-bulu halus yang masih jarang dan ketika jarinya mulai membuka bibirnya, kurasakan basah yang hangat disana. Gerakannya makin cepat terutama jari tengahku dalam mengilik-ngilik dan memutar-mutar clit-nya dan mulai terdengar eranganya perlahan.

“Eshhh… Enak Pak…”
“Terus Pak… Essshhh… Mimin mau pipis Pak”.
Tanpa sadar dia menggigit pundakku dan secara reflek kutarik tanganku karena sakit yang kurasakan di pundak. Setelah meletakkan hp yang belum selesai kusetting diatas meja makan, kubalikkan badanku dan langsung kukulum bibirnya. Mimin menyambut ciumanku dengan tidak kalah bernafsunya dan lidah kami saling belit saling hisap.
“hmmm… Hmmm…”. Tangan kananku menggantikan peran tangan kiriku yang sekarang memeluk dan menarik tubuh Minah merapat ke tubuhku hingga kurasakan dua bukit kembarnya menekan dadaku. Nikmat sekali rasanya.
“Terus Pak… Enak Pak”, katanya lembut ditelingaku ditingkahi oleh suara desahan dan erangannya. Makin kuputar-putar dan kutekan-tekan jari-jariku di clit-nya. Dengan ditingkahi erangan tertahannya (takut terdengar mertua atau adik iparku) di rumah sebelah, dipeluknya badanku erat sekali. Kulepaskan pelukannya dan langsung berjongkok di depannya dan dengan sekali tarikan maka tanggallah celana dalamnya. Langsung kuserbu dengan ciuman, jilatan dan hisapan di sekujur bibir indah itu terutama tonjolan kecilnya. Tak lama kemudian kudengar.
“erghhh… Min mau…pipis Pak… Ssshhhh… Enak”.
“Aaahhh…ssshhhh… oohhh”
Perlahan mulai kurasakan tubuhnya menegang dan meliuk-liuk dengan diiringi kejangan. Untung kedua tangannya bersandar ke meja makan. Kubiarkan dia melepas gelombang yang mendera tubuhnya agak lama sambil tetap memeluknya dan menahan dorongannya dengan bersandar ke meja makan. Setelah agak lama kurasakan nafasnya mulai teratur kembali dan dia mengecup dan menjilati leher dan telingaku yang membuat tongkatku makin mengeras.
“Terima kasih Pak.. Enak sekali Pak”, katanya lembut sambil mengecup pipiku kali ini.
“Kok kamu mau Min?”, tanyaku untuk mengurai rasa penasaranku.
“Min kadang suka dengarin kalau Bapak sama Ibu lagi begituan. Kayanya seru dan enak. Jadi Min sering juga pakai jari sendiri”.
“Tapi belum pernah seenak dan senikmat pakai jari Bapak. Badan Min sampai lemes begini. Terima kasih ya Pak”.
“Ya..”, jawabku, “tapi sekarang bagaimana dengan dede? Kalau dah keras begini dan tidak mendapatkan musuh, sakit sekali Min”, kataku sambil memegang tongkatku yang sudah menonjol sejak tadi.

Kupegang tangannya dan kutuntun kearah tongkatku yang sudah sangat keras. Mula-mula dia nampakragu tapi tidak ditariknya tangannya dan perlahan kurasakan tangannya mulai meremas-remas tongkatku.
“Masa sih Pak sakit? Min harus gimana Pak untuk menghilangkan sakit dede ini?”, begitu tanyanya, sambil mulai dikocok-kocoknya perlahan dengan lembut.
“Biar hilang sakitnya, dede harus masuk ke memey-nya Min dan pipis disitu”, jawabku.
“Min mau?”, tanyaku lagi.
Dia diam saja. Menunduk sekarang. Remasan tangannya ditongkatku makin kencang kurasakan.
“Pernah ada dede kecil yang masukin memey Mimin?”, tanyaku.
“Belum Pak?”, jawabnya.
Aku tertegun sejenak. Berkecamuk banyak hal dalam otakku, antara menyalurkan hasrat kelelakianku yang sudah membara dengan banyak pertimbangan moral lainnya, terutama karena ternyata Mimin masih perawan. Akhirnya…
“Min mau memey-nya dimasukin dede?”, tanyaku. Dia makin tertunduk dan tetap diam. Ditelusupkannya tanganya kedalam celana kolorku dan masuk kebalik cd-ku. Diremas-remasnya tongkatku dan dikecupnya serta dijilatinya leher dan kupingku. Lebih dari sekedar jawaban “ya”, lewat mulut, begitu pikirku.
Kuajak dia masuk ke kamarnya yang berada di belakang. Setelah kukunci pintunya, perlahan kurebahkan dia diatas kasur. Kupandangi mukanya dengan teliti dan Mimin hanya tersipu malu. Kuturunkan kepalaku mendekat dan kukecup bibirnya dengan lembut. Lalu mulai kukeluarkan lidahku dan kumasukkan ke mulutnya, kucari, ketemu lidahnya dan langsung lidah kami saling berbelit, hisap dan sedot. Tanganku tak mau diam saja. Kuusap-usap perutnya dengan lembut, pinggangnya dan perlahan naik ke dua gundukan kembar di dadanya. Kuusap-usap dengan sangat lembut, perlahan dari pinggirannya, memutar dan kucoba menghindari untuk tidak langsung menyerbu. Ingin kunikmati sepenuhnya momen demi momen.
Perlahan mulai kudengar desahannya seiring remasan-remasan lembut tanganku di dadanya. Mulai kuusap-usap putingnya dari luar dan Mimin melingkarkan tangannya memelukku sambil mengangkat sedikit dadanya kearah remasan tanganku.
“shhh… Ehhhh…”

Lalu tanganku mulai menyusup ke balik kaosnya, mengawali lagi usapan dari perut dan pinggangnya dan perlahan naik ke bukit kembarnya. Kuusap dan kuremas perlahan dari luar bh-nya dan mulai kurasakan daging kenyal yang seakan mau meletus dari cengkeraman bh-nya yang agak kekecilan. Kukecup dan kujilati lehernya yang putih bersih dengan aroma yang merangsang. Kuusap dengan agak sedikit menekan bagian putingnya dan dijawab dengan “sssshhhh… Cepet Pak… Diremas aja Pak… Copot bh-ku Pak… Min pingin disayang ma Bapak… ssshhh…”

Langsung kujawab dengan menarik lepas kaosnya ke atas dan kubuka kaitanbh-nya yang ada di depan. Terpampanglah di depan mataku dua bukit kembar berwarna putih mulus, besar (satu tanganku tak cukup untuk menangkupnya) dengan puting berwarna agak kecoklatan yang sudah mulai mengeras. Lama kutatap untuk menikmati keindahanya yang sudah menghantui pikiran dan mimpi-mimpiku selama ini, ternyata sekarang teronggok dengan indahnya didepan mata.
“Jangan diliatin aja Pak… Min malu”.
“Justru kamu harus bangga Min”, jawabku, “payudaramu sungguh indah. Terindah yang pernah Bapak liat. Bapak sudah memimpikan ini sejak pertama melihatmu Min. Sungguh”.
Dengan lembut kuusap kembali dua bukit kembar tersebut mulai dari pangkalnya, memutar sambil kuremas dengan lembut. Kembali terdengar desahannya seiring kulumat lagi bibir mungilnya. Perlahan kusentuh putingnya yang sudah agak mengeras dan kurasakan hentakan lembut dari tubuhnya. Kuputar-putar jariku diatasnya dan mulai kupilin putingnya pelan-pelan.
“Mmmmhhh…sssshhhh…”, desahnya diiring suara kecipak mulut kami yang saling mengulum dan melumat.
Tangan kiriku mengusap-usap rambut, kepala, tengkuk dan sesekali kupingnya. Setelah yang kanan agak lama maka kuberikan servis yang sama ke bukit yang satunya. Setelah puas meremasnya, maka perlahan ciumanku mulai turun kebawah dari lehernya dan kuperbuat yang sama dengan jariku, kali ini dengan lidahku. Setelah puas menjilat dan sedikit menggigit-gigit daging kenyalnya, maka mulai kujilat putingnya yang sudah mengeras, mengacung. Desahan dari mulutnya makin mengeras. Kujilat dan kuhisap dengan rakus dua bukit kembar yang sangat indah itu dengan sesekali kugigit-gigit gemas. Hal itu makin merangsang Mimin dan perlahan tapi pasti desahannya berubah menjadi erangan. Kupuas-puaskan diriku dengan dua bukit kembar yang telah memenuhi otak dan nafsuku selama ini.

Puas dengan dadanya, yang sekarang digantikan perannya oleh muluntuku, tanganku menggerayang menyusup kebawah ke lututnya. Mengusap-usap perlahan naik kepahanya dan sampailah ke pangkal pahanya yang sudah basah sejak orangasmenya waktu berdiri tadi. Kugosok-gosok bukit venusnya dari luar cd-nya. Karena takut terdengar erangannya yang makin keras oleh orang rumah, kumasukkan jari-jari tangan kiriku kemulutnya yang langsung di sambutnya dengan hisapan dan jilatan. Tubuhnya makin menggelinjang-gelinjang waktu kususupkan tanganku kedalam cd-nya dan langsung kuremas lembut clit-nya sambil kugosok-gosok tanpa menghentikan jilatan dan hisapan di putingnya yang sekarang makin meruncing dengan sombongnya.
“sssshhhhhh…… Erghhhh… Nikmat banget Pak…”
“Min…. Mau pipis…. lagi… Pak… Terusss… Jangan brenti Pak…”
Belum selesai kalimatnya sudah kurasakan cairan kental yang keluar dari liang memey-nya diiringi lengkungan tubuhnya yang disertai erangan panjang dengan sedikit kejang-kejang. Kubiarkan dia sejenak kembali menenangkan diri. Kukecup lembut bibirnya.
“Enak Min?”, tanyaku.
“Shh… Enak sekali, nikmat sekali Pak.Bapak pintar sekali menyenangkan Mimin Pak!”
“Ini pengalaman pertama yang luar biasa buat Mimin Pak. Sungguh”.
“Sekarang gentian Mimin yang membuat enak Bapak ya”, pintaku.
“Bagaimana caranya Pak?”, tanyanya.
“Mimin mau melakukan apa saja asal bisa membuat Bapak senang dan puas seperti yang Mimin rasakan”.
Sebelum mulai, kubuka dulu seluruh baju, celana berikut cdku juga roknyidr dan celana dalamnya. Maka sekarang kami benar-benar tanpa sehelai benangpun. Bulet. Kuminta ia mulai mencumbuku dengan mencium dan menjilati seluruh tubuhku. Enak dan nikmat sekali jilatan dan hisapannya disekujur tubuhku dan mulai kupegang dan kuarahkan kepalanya ke bawah kearah dedeku yang sudah mengacung tegang. Tidak begitu panjang dan besar memang tapi sudah sangat keras. Sebelum memulai, diangkatnya mukanya menghadapku, dipegangnya dedeku, diremas-remasnya lembut dan senyum manis tersungging dibibirnya. Pelan dia mulai menjilati kepala dedeku, kebawah dan ke kedua bola yang menggelantung. Bukan hanya dijilati karena sekarang Mimin mulai memasukkan buah zakarku ke mulutnya dan menghisapnya pelan. Nikmat sekali.”Pintar juga anak ini”, pikirku. Naik keatas dan lengsung dimasukkannya dede-ku kedalam mulutnya. Kurasakan sensasi yang luar biasa saat lidah dan mulutnya yang penuh dengan dede-ku mulai menghisap dan menggelitik-gelitiknya.
“ssshhhh… Ahhh… Nikmat sekali… Min…”.
“terus Min…. Kamu…. Pintar sekali… Min…”, kalimat terputus-putus keluar dari muluntuku karena sensasi luar biasa ini. Dengan semangatnya terus dihisap dan dikulumnyadedeku hingga sesekali nampak kempot pipinya. Sungguh luar biasa.
Aku tidak mau tinggal diam. Kusuruh dia untuk mengangkang diatasku yang langsung dipatuhinya. Maka sekarang aku juga melakukan hal sama di memey-nya. Kucium aroma wangi menyegarkan yang keluar dari memey-nya yang sangat menggairahkan. Maka langsung kujilat-jilat clit-nya dan seluruh bagian bibirnya yang berwarna agak kemerahan, cenderung merah muda, hingga pelan-pelan mulai kusodok-sodokan bibirku kedalam liang yang basah hangat tersebut. Hmm, sungguh wangi nikmat memey ini. Agar lebih leluasa, kugunakan dua tanganku untuk sedikit membuka bibir tersebut dan makin ganas jilatan dan hisapanku disitu.
“Sssshhhh… Eerrgghhh… Nikmat sekali…”
“terus… Jangan brenti… Lebih dalem…”
Entah siapa yang mengerang tak jelas lagi, saling ganti-ganti antara aku dan Mimin.
“Pak… Sekarang Mimin…mau dede masukin memey ya. Udah ga tahan nih…”

Kudengar suaranya dari bagian bawah tubuhku. Langsung kubalikkan badannya dan kukangkangkan kedua pahanya. Memey-nya sungguh indah dengan bulu-bulu halus rapi diatasnya yang menandakan pemiliknya merawatnya dengan baik.
Pelan-pelan kuposisikan dirinya diatasnya. Kugosok-gosok dede ke clitorisnya hingga kutemukan ujung pintu masuk rumah memey. Mimin hanya bisa mendesis-desis menahan nikmat. Ketika mulai kumasukkan kedalam liangnya, seolah mentok kurasakan. Kutekan-tekan sedikit sambil tangan kiriku mencengkeram pinggangnya. Pelahan tapi pasti kepala dede mulai memasuki memey. Seret sekali. Terdengar erangan menahan sakit dari bibir Mimin. Kuhentikan sejenak tusukanku sambil mulai kugoyang-goyang kepala dede agar lebih mmengenal rumah barunya. Setelah agak lama maka mulai kutekan lagi dan berhasil masuk sepertiganya.
“Ssst. .. erghhh… Sakit Pak…”.
“Iya sayang… Pelan-pelan ya… Ntar jadi enak ko…”
“Tahan bentar ya sayang…”

Setelah agak terbiasa didalam rumah barunya yang nikmat, kutarik sedikit lalu kumasukkan lagi pelan-pelan. Hingga akhirnya dengan satu dorongan kedepan, maka disambutlah dede-ku oleh memey dengan hangat didalam.
“Aduh… Sakit Pak… Pelan-pelan Pak…”
Kurasakan liang memey yang masih sangat rapat tapi basah dan sangat hangat pula. Cengkeraman jari-jari Mimin di punggungku sangat sakit kurasakan karena terasa kukunya menancap disana tapi tak kuhiraukan. Kukecup lembut bibir manisnya dan kukulum untuk mengurangi rasa sakit dibibirnya yang lain.Kudiamkan dede sejenak didalam agar makin saling mengenal dengan baik dengan memey tercinta. Kurasakan basah hangat mengguyur dede, darah perawan Mimin!
Lalu mulai kutarik keluar dede dan kumasukan lagi, sedikit-sedikit. Cengkeraman dipunggungku berubah menjadi elusan dan usapan. Desis dan desah mulai terdengar keluar dari bibir manisnya. Setelah saling mengenal dengan baik, maka mulai kupercepat tusukan-tusukan dede ke memey. Kedua kakinya terasa memeluk pinggangku sementara kepalanya mendongak keatas hingga makin membuat dua gundukan besarnya makin mengacung sombong ke udara dengan indahnya. Kedua tangannya meremas-remas sprei. Sungguh pembaca, tidak ada pemandangan yang melebihi keindahan momen seperti ini.

“Ssssshhhh… Pak… Enak sekali Pak… Terus Pak”.
“Aaahhhh… Memey nikmat sekali Min…”
Agak lama kami masih dalam posisi yang sama hingga terdengar:
“Terus Pak… Lebih cepet Pak… sssshhhhh… Aaahhhh..”
“Mimin mau… pipis lagi…Pak”.
Nafasnya makin memburu dengan ditingkah erangan.
“Jangan ditahan… Min…. Keluarin aja”.
Tidak berapa lama kemudian kulihat tubuhnya melengkung keatas dengan cengkeraman tangan disprei yang makin kuat.
“Aaagghhh… Mimin… Pipis… Pak.”
“Nikmat… Sekali… Pak….. Aaahhhh”.
Pada saat yang bersamaan kurasakan cengkeraman memey yang sangat kuat pada Dede dengan disertai denyutan dan cairan basah hangat yang mengguyurnya. Saking banyaknya hingga kulihat menetes keluar dari bibir Memey.
Kubiarkan dia merasakan saat-saat orgasmenya hingga detik-detik terakhir yang ditandai dengan mulai teraturnya kembali nafasnya dan lemas tubuhnya. Keringat membasahi dadanya yang sangat indah. Dede dan Memey masih bersatu saat dia bangkit memelukku dengan sangat erat dan menciumi seluruh mukaku dengan rakusnya.
“Terima kasih Pak telah memberikan kenikmatan tak terkira seperti ini kepada Mimin. Mimin sayang banget sama Bapak”.
“Iya Min, Bapak juga sayang banget sama Mimin”.
“Dede pinter ya Pak. Memey jadi enak banget deh”.
Kukecup bibirnya dan kutarik dede keluar.
“Ko dikeluarin Pak?”, protes Mimin.
“Iya, sekarang balik badan Min. Kita ganti posisi”.

Kusuruh Mimin menungging, kurendahkan bahunya dan kukangkangkan kedua pahanya hingga memey terlihat menyembul dengan indahnya. Kutuntun dede dengan tangan kananku, kutempelkan ke memey dan pelan tapi pasti kumasukkan kedalamnya. Masih agak seret tapi bisa masuk seluruhnya kali ini dengan perlahan. Kubiarkan sejenak didalam agar terbiasa.
Lantas mulai kukeluarkan pelan dan kumasukan lagi. Makin lama makin cepat tusukan-tusukanku. Gila. Enak sekali si memey ini. Dinding-dindingnya menjepit keras, kuat. Ikut keluar ketika dede kutarik dan menyedotnya ketika kutusuk. Seolah tidak mau melepaskan pasangan barunya yang sangat dicintainya yang telah memberinya kenikmatantiada tara.
“Oooohh… Memey enak sekali…Min.”.
“Dede… Juga enak… Pak”.
“Terus… Pak… Yang keras… Pak… Mimin nikmat sekali Pak”.

Makin lama makin cepat kukeluar masukkan dede di memey. Erangan-erangan dan desahan kami saling tindih, riuh hingga aku sudah tidak peduli lagi bila ada yang mendengar dan tahu apa yang sedang kami perbuat. Soalnya memey sungguh nikmat pembaca.
Perlahan tapi pasti mulai kurasakan denyut halus muncul dari peruntuku yang berarti aku akan mengalami ejakulasi. Erangan Mimin juga makin keras dengan nafas yang makin memburu. Pada saat itulah kucabut dari jepitan memey. Kulihat raut muka Mimin yang bertanya-tanya, heran dan tidak mengerti. Bahkan ada semburat kecewa dan marah. Tanpa bicara kubalikkan badanya hingga telentang dan langsung kutusukan dede ke memey. Ada suara seperti orang tercekik keluar dari tenggorokan Mimin begitu kumasukkan dede dengan sekali tusukan.
“Oooohhhhh…”, hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Maka kembali kugoyang pantat dan pinggangku maju mundur, makin lama makin cepat. Erangan dan nafas kami saling memburu, sahut menyahut. Rasa berdenyut diperuntuku mulai kembali dan denyut di dinding-dinding memey juga mulai cepat kurasakan. Aku tahu bahwa sebentar lagi kami akan sampai. Maka makin kupercepat gerakanku. Tempat tidur dimana kami bergumul mengeluarkan suara deritnya seolah tidak mau ketinggalan partisipasinya dalam meramaikan pergumulan kami.

“Ahhh… Nikmat sekali Pak”.
“Iya Min… Nikmat sekali… eergghhhh.”
“Min… Mau…pipis lagi… Pak”.
“Iya…kita… Pipis… Bareng… Min”.
Maka letupan itupun terasa begitu nikmat dan indah.
“Aaaahhhh… Ssshhhhhh”. Hanya itu yang mampu kami keluarkan dari mulut. Sejenak kami melayang diawang-awang dengan taburan bunga dan harum wewangian.Sungguh indah momen ini. Dan aku tidak mau cepat-cepat kembali ke bumi. Kutubruk tubuhnya dan kupeluk dengan sangat erat. Miminpun memelukku tidak kalah eratnya saat kami berejakulasi bersama. Kukeluarkan semua yang kupunya tanpa sisa dengan disambut oleh semburan cairan Mimin hingga kurasakan liang senggamanya banjir oleh cairan kami berdua.
Lama kami berpelukan erat hingga nafas kami mulai teratur dan normal. Kucium bibirnya dan kukulum dengan sepenuh rasa sayang. Dede masih dijepit memey, Seolah tak ada yang mau berpisah.
“Nikmat sekali Min. Indah sekali. Sungguh Bapak baru pernah merasakan yang seindah dan senikmat ini”, kataku.
“Mimin juga merasakan hal yang sama Pak. Mimin jadi sayang banget sama Bapak. Mimin mau melakukan apa saja untuk membahagiakan Bapak”.
“Untuk kebahagiaan kita Min”.
“Mulai hari ini, dede hanya untuk memey ya Pak”, pintanya sambil dikeduntukannya hingga dede terasa diremas.
“Gimana dengan ibu dong Min?”, tanyaku.
“Ibu sih boleh. Tapi jangan yang senikmat seperti untuk memey”.
Kurang ajar juga nih anak sudah mau mengatur. Tapi benar juga sih. Karena aku merasakan sesuatu yang lain yang sangat indah ketika bersenggama dengannya.

Kenikmatan kami terputus oleh suara tangis anakku yang ternyata sudah bangun dari tidur siangnya. Demikianlah pembaca, sejak saat itu kami selalu mengulangi apa yang telah kami mulai setiap kali ada kesempatan. Bahkan seringkali kami lah yang menciptakan kesempatan tersebut. Dan Mimin tidak pernah hamil meskipun kami tidak pernah peduli dengan kalender. Entah kenapa. Padahal antara aku dan dia sama-sama berasal dari sebuah keluarga besar.

Kejadian itu berlangsung selama sekitar tiga setengah tahun hingga Mimin dipanggil pulang oleh orang tuanya karena ibunya sakit yang membutuhkan pengobatan intensif.
Dan setelah itu pamannya mengajaknya bekerja sebagai TKW di Malaysia dan diterimanya karena pertimbangan ekonomi harus membiayai sakit parah ibunya. Sebelum keberangkatannya ke Malaysia, aku sempatkan datang menjemput ke desanya dan kami habiskan tiga malam yang sangat seru dan indah di sebuah hotel di kota kabupatennya. Aku sungguh menyayangi dan merindukanmu Min. Kapan kita akan bertemu lagi, sayang?
Tamat

Mei 7, 2008. Tag: . Cerita-cerita Erotis. 11 komentar.

Minin

Sejauh ini ‘pelajaran’ yang kuberikan kepada Mimin sudah hampir seluruhnya, seingatku. Mimin dalam umurnya yang hampir 17 tahun sudah mengerti tentang hubungan suami-isteri, tentang bagaimana perangsangan dilakukan, dan juga tentang ejakulasi. Menyaksikan Aku, ayah angkatnya ejakulasi saat dia belajar mengoralku, juga menonton hubungan seks yang kulakukan dengan isteriku dari awal sampai akhir. Bahkan dia juga sudah merasakan sendiri nikmatnya dirangsang ketika Aku mengulumi puting dadanya dan menjilati kewanitaannya.

Yang dia belum alami adalah orgasme-nya sendiri. Tentu saja ini sulit kuberikan, karena Aku sudah commit tak akan merusak anak angkatku walaupun dia pernah memintanya. Bahkan Aku sempat juga tergoda untuk melakukannya. Tapi, biarlah yang satu itu ia dapatkan dari suaminya kelak. Kadang Aku merindukan saat-saat berdua saja dan bebas melakukan apa saja (kecuali yang satu itu). Tapi Aku memang benar-benar ingin lagi merabai tubuhnya. Sudah beberapa bulan Aku tak lagi ‘memeriksa’ sudah sebesar apa buah dadanya, atau sedah lebatkah bulu-bulu kelaminnya. Kesempatan untuk berdua semakin susah kudapatkan, apalagi Mimin sudah semakin sibuk dengan kegiatan-kegiatan eks-kul-nya. Bahkan untuk bertanya berapa sekarang ukuran bra dia, aku tak punya kesempatan.

Tapi…. suatu pagi ketika Aku sedang di kantor, telepon berdering.
“Ayah, punya nomor telepon Avia Travel gak?” terdengar suara isteriku.
Aku hampir melonjak kegirangan. Itu artinya isteriku mau ke Bandung.
“Ada…ada… bentar Ayah cari dulu….”kataku girang.
Cepat-cepat Aku cari di HP, gak ketemu. Di buku catatan juga tak ketemu.
“Tutup dulu dah Bu, entar Ayah telepon”

Kenapa musti bingung cari-cari? Telepon saja 108, beres. Itulah Aku, saking gembiranya sampai lupa. Aku juga tak memikirkan kenapa isteriku tak nelepon saja ke Penerangan, mungkin dia juga lupa. Nomor sudah kudapat.
“Kapan Ibu mau ke Bandung?”tanyaku
“Eh… siapa yang mo ke Bandung” Seketika lenyaplah kegembiraanku.
“Lhah …. nanya travel buat apa?”tanyaku.
“Ini…. ibu-ibu tetangga pada mau jalan-jalan ke Jatiluhur….”
“Oooh….”kataku melongo, dan tentu saja kecewa.
“Ibu gak ikut?”
“Pasti dong ….. boleh kan Yah…”
“Boleh….boleh….”jawabku cepat.
“Makasih ya….” Untung dia tak curiga, kenapa Aku begitu bersemangat memberi izin….

***

Hari Minggu pagi-pagi isteriku sudah sibuk melakukan persiapan untuk jalan-jalan. Mimin sibuk pula membantunya.
“Bener kamu gak ikut, Min”tanya isteriku.
“Penginnya sih Bu…. tapi udah janjian ama temen2 nih….lagian ‘kan ibu-ibu semua…”
“Tante Rina bawa anaknya tuh….”
“Iya emang, tapi kan …. masa Mimin gaul ama anak SD….”kata Mimin.
“Iya sih… emang ini acara ibu-ibu. Kali aja Mimin pengin ikutan”kata isteriku.

Aku antarkan isteriku sampai pintu pagar, selanjutnya Mimin membawakan tas berisi makanan sampai ke taman di kompleks perumahan, di mana bus Avia travel sudah siap terparkir. Aku hanya melihatnya dari kejauhan saja. Dasar ibu-ibu, heboh, mulutnya yang lebih banyak bekerja dibanding tangannya. Kulihat Mimin masih disitu, padahal Aku harapkan dia segera balik. Sampai bus berangkat dan lenyap di tikungan, barulah Mimin pulang. Aku masih di depan pintu memperhatikan Mimin jalan menuju rumah. Inilah saatnya…. Aha… belum-belum penisku menegang melihat Mimin dengan blouse ketatnya. Dadanya berguncang indah ketika dia jalan cepat. Uh…. dada anak ini sudah tumbuh sempurna. Berapa bulan ya Aku tak melihat gumpalan daging kembar itu?

Aku masuk, dengan berdebar menunggu kedatangan Mimin. Begitu beberapa langkah Mimin memasuki pintu, Aku sergap dan memeluknya erat-erat. Walaupun agak kaget Miminpun segera menyambut pelukanku. Kurasakan ganjalan dadanya memang lebih sesak.
“Min…..”
“Ayah…..”katanya
“Ayah kangen….”
“Kan tiap hari ketemu”katanya.
“Iya, tapi udah lama Ayah engga peluk kamu…”
“Iya ya Yah…. dah lama banget”
“Tubuh kamu…..”kataku sambil merabai pantatnya. Makin padat dan makin membulat.
“Kanapa tubuh Mimin Yah….”
“Makin sexy aja….”
“Masa’ sih Yah…..”katanya sambil melepas pelukan dan mengamati tubuhnya sendiri.
“Rasanya biasa aja tuh…. sexy gimana Yah…”sambungnya.
Kutangkupkan kedua telapak tanganku ke kedua buah dadanya.
“Buah dadamu udah gede sekarang”kataku.
“Berapa sekarang ukuran bra kamu?”
“34B Yah….”
“Wow… udah sama ama punya Ibu tuh…”komentarku.
Kedua tanganku turun ke pinggangnya.
“Pinggang kamu mkin ramping….”
“Engga kok Yah….ukuran celana masih sama tuh…”
“Oh…mungkin ini nih…”kataku sambil tanganku merabai lengkungan indah pinggulnya.
“Pinggulmu nambah jadi pinggangmu terlihat menyusut”
Lalu tanganku ke belakang tubuhnya dan lalu meremasi kedua gumpalan pantatnya.
“Pantatmu ….. hmmm….. sexy banget….”

Lalu dengan cepat tanganku menuju dadanya melepas kancing blouse-nya satu persatu.
“Ayah mo ngapain….”
“Mimin blum mandi…..”katanya lagi. Tangannya mencegah tanganku.
“Cuman pengin ngeliat aja…”kataku.
Lalu tangannya melepas tanganku. Aku meneruskan pekerjaaanku sampai semua kancingnya lepas. Juga blouse-nya sekalian kutanggalkan. Mimin tak menolak.

Cup bra warna krem itu bagai tak mampu menampung kedua ‘bola’ putih mulus itu.
“Hmmm…. kaya’nya kamu harus pakai 36 Min….”
“Udah pernah nyoba…. kegedean Yah….”
“Atau coba yang 34 cup C deh….”
“Iya keknya”katanya.
Tanganku bergerak ke punggungnya dan melepas kaitan bra-nya. Mimin biasa saja, tak berreaksi. Bra itu terlepas….
Wow !
Kini kedua bola kembar itu tampak seutuhnya.
Sepasang gumpalan daging yang dibungkus oleh kulit putih dan mulus, tanpa cacat. Urat-urat kehijauan samar-samar menghiasi, menambah keindahan buah dada perawan ini. Mataku tak berkesip memandanginya…
“Kenapa Yah…. sampai melotot gitu….”katanya.
Puting dadanya berwarna nyaris pink, masih kecil seperti dulu, bedanya, sekarang menonjol menggemaskan.
“Puting dadamu……”
“Kenapa?”
“Udah nonjol, sekarang….”
“Habisnya…. Ayah raba-raba…. kan Mimin jadi horny….”
Aku terkejut. Dia sudah mengenal kata ‘horny’. Rasanya Aku belum pernah mengnalkan kata itu.

Langsung saja mulutku merapat hendak menjangkau puting indahnya.
“Yah…. Mimin blum mandi…..”
Aku tak peduli. Tak ada aroma aneh. Kukemot pelan-pelan puting yang mulai mengeras itu.
Mimin melenguh pelan.
Mulutku mengemoti puting kirinya sedangkan telapak tanganku meremasi dada kanannya. Puting itu makin keras.
Mimin merintih….
Sudah mirip rintihan wanita dewasa yang sedang menikmati rangsangan pada tubuhnya, bukan lagi rintihan gadis 16 tahun…

“Kita ke kamar Yah…..”bisiknya pelan sambil terengah
Aku tersadar. Aku menciumi buah dada anak angkatku di ruang tamu. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang masuk ?
Kututup pintu depan dan kukunci, lalu Aku membimbing Mimin masuk ke kamarnya. Mimin masih sempat menyambar blouse dan bra yang tercecer di lantai. Mimin langsung merebahkan diri ke kasur. Aku mengikutinya dan menindih tubuhnya.
“Ayah udah keras…..”katanya lemah.
“Terasa ya….”kataku.
Kubelai-belai dulu seluruh wajahnya. Dimataku, pagi ini Mimin jadi cantik luar biasa. Wajah putih bersih itu jadi bersemu merah. Aku langsung mencium bibirnya dan Mimin menyambut ciumanku dengan hangat. Bibir dan lidahnya segera bermain mengimbangi permainanku. Berbeda dengan ciuman beberapa bulan lalu, kali ini ciuman Mimin terkesan ganas. Aku tak ingat lagi bahwa wanita yang sedang kutindih tubuhnya dan kulumat bibirnya ini adalah anak angkatku. Rasanya Aku sedang mencumbui isteriku, cumbuan dalam proses menuju hubungan suami isteri. Dalam bayanganku, isteriku ini menjadi jauh lebih muda. Terbayang kan nikmatnya ? Aku lupa bahwa isteriku sebenarnya sekarang sedang duduk dalam bus menuju Jatiluhur.

Lelah berciuman, biasanya mulutku terus ke bawah menciumi leher. Biasanya isteriku menggelinjang menerima ciuman di lehernya. Tapi “isteri”ku ini hanya merintih dan merintih, tubuhnya hanya sedikit ber-gerak-gerak, bukan menggelinjang. Dari leher turun ke dada, pastilah.
Aku mulai dari menciumi buah sebelah kanan sementara tanganku meremasi dada kiri. Dalam genggamanku buah ini sama besarnya milik isteriku, tapi… kekenyalannya jauh berbeda. Dada “isteriku” ini begitu keras dan padat. Mulutkupun merasakan perbedaan. Puting yang sedang kukemot ini lebih mungil. Reaksinya juga beda. Berbeda dengan Mimin beberapa bulan lalu sering geli-geli sehingga kadang2 menepis, Mimin sekarang menikmatinya dengan merintih-rintih dan tubuh berkelojotan, sehingga sering mulutku harus mengikuti ‘buah’ yang ‘berlari’ kesana-kemari. Lalu tangan dan mulutku berganti peran, mulutku pindah ke dada kiri dan tanganku ke dada kanan.

Tapi tak lama, Aku seolah “diingatkan” oleh gerakan pinggulnya yang mendesakkan selangkangannya ke selangkanganku. Diingatkan ada yang belum kujamah. Tanganku melepas buah dadanya dan bergerak ke bawah menyusup ke balik rok-nya, lalu menyusup sekali lagi ke balik celana dalamnya. Ehm…. terasa oleh tanganku, bulu-bulu halus itu. Memang seperti yang sudah kuduga, Mimin telah basah. Tapi Aku tak mengira dia akan sekuyup ini. Kakinya membuka seolah memberi jalan untuk tanganku. Begitu ujung jariku menyentuhnya, Mimin langsung melenguh keras, dan panjang.
“Ooh….ayah….”
“Napa Min….”
“….Sedap….banget….”katanya terputus-putus.
Padahal jariku cuma menggosoki clit dan pintu liangnya.

Tiba pada tahap selanjutnya, yaitu seperti biasa, Aku akan membenamkan kepalaku di selangkangan isteriku, cunillingus. Maka Aku bangkit, memelorotkan rok dan sekaligus celana dalamnya. Sejenak Aku tertegun. Dua hal yang membuatku ‘pause’, pertama, yang sedang kutelanjangi ini ternyata bukan isteriku seperti bayanganku tadi. Dan kedua, vagina ini sudah berubah. Permukaannya sudah ditumbuhi bulu-bulu halus yang hampir merata. Mirip vagina artis JAV yang sering kulihat di internet, kalau tak salah namanya Miyabi…

Isteriku atau bukan, kali ini dia adalah milikku. Lalu ketika aku menundukkan kepala, “isteriku” ini bangkit.
“Yah…. jangan di sini….’
“Kenapa…?”
“Kalo-kalo temen Mimin nanti dateng…. biasanya langsung ke kamar….”
“Emang jam berapa mereka dateng”
Mimin melirij jam dinding.
“Masih sejam lagi sih…. tapi….”
“OK. kita pindah ke kamar Ayah”kataku.
Mimin bangkit sambil buru2 menyambar pakaiannya yang berserakan.

Sampai di kamarku, tiba-tiba Aku ingat sesuatu.
“Kita ke atas aja yuk….”
Kalau teman2 Mimin datang pasti akan mendengar lenguhan Mimin yang sekarang jadi keras. Mimin menangkap maksudku, maka dengan masih telanjang bulat sambil menggamit pakaiannya Mimin naik tangga. Aku ikut di belakangnya sambil menikmati goyang pantat polosnya yang begitu menggairahkan.

Kita berdua masuk ke kamar anakku dan langsung menguncinya. Mimin rebah terlentang di kasur, pahanya dibuka lebar-lebar menyuguhkan belahan vagina yang membasah. Aku juga langsung melepas seluruh pakaianku dan menyerbu selangkangan Mimin. Segera tercium aroma khas perawan, aroma yang kusukai. Aku mulai dengan menjilati clit dan liangnya. Mimin lagi-lagi merintih dan tubuhnya gelisah.
“Ayah…..Ayah….”serunya pelan di sela-sela rintihannya. Beberapa menit kemudian…. tibalah saatnya.
“Ayo …Yah…. masukin….sekarang…..”katanya terputus-putus.

Aku bangkit dan bertumpu pada kedua lututku. Kelaminku dengan gagahnya telah siap. Kami berdua sudah terrangsang sedemikian tingginya sehingga kami lupa tentang diri kami masing-masing. Yang Aku ingat hanyalah Aku segera akan memasuki tubuh perempuan yang gelisah membasah ini. Kuletakkan kepala penisku di liang senggama Mimin yang hanya terlihat seperti garis lembab. Kugosok-gosokan vertikal dari kelentit ke bawah dan sebaliknya. Begitu terus berulang-ulang agar “garis” itu membuka. Mimin makin tak karuan.

Lalu…. pada posisi yang tepat, Aku menekan pelan. Mentok. Kepala penisku seperti membentur dinding. Kuulang menggosok lagi beberapa kali, lalu mulai menekan, agak keras. Kepala penisku nyaris tenggelam ketika Mimin mengaduh. Kulihat wajahnya berkerut menahan sakit. Tekanan kukendorkan.
“Sakit…Min…..”
Mimin mengangguk-angguk. Bibirnya mengatup, kepalanya tengadah menatap atap dan matanya terpejam.
“Terus aja Yah….”serunya agak keras.
Justru suaranya yang agak keras ini menggugah kesadaranku. Sebentar lagi Aku akan merobek selaput dara anak angkatku. Pantaskah perbuatanku ini?
“…..Ayo Yah…..”
Anakku lah yang mengundang, akankah Aku menerima undangannya ?
Aku bimbang.
Antara ya dan tidak
Antara memenuhi nafsu dan menimbang moral.
Sempitnya vagina ini memang menggiurkanku untuk merasakan sensasi yang pernah kurasakan belasan tahun lalu di waktu malam pengantin. Tapi, harus dibayar mahal oleh masa depan anak perwan ini.
Begitu bejatkah Aku ?
Tidak ! Aku tak sebejat itu. Mengorbankan masa depan anak angkat hanya demi sensasi selaput dara.

Aku menarik kelaminku.
Mata Mimin terbuka.
“Kenapa Ayah….?”
Aku hanya memandanginya.
“Ayah….?”
“Engga, Min….”
Wajah Mimin masih menatapku dengan keheranan.
“Sebaiknya tidak kita lakukan….”kataku.
“Tapi Ayah…. Mimin pengin ngerasain…..”
“Tidak Mimin, tidak sepantasnya ….”
“Mimin ingin Ayah yang pertama melakukannya….”
Aku hanya diam.
“Aku rela Yah……”
Aku bingung.
Tapi di saat kritis begini, Aku tiba-tiba menemukan jalan keluar.

Kubenamkan lagi wajahku ke selangkangan Mimin. Kujilati lagi clit-nya, liangnya.
Mimin kembali mendesah.
Bahkan clitnya kini kukemot-kemot.
Mimin makin tak karuan.
Aku terus tak peduli rintihannya.
….Sampai beberapa menit kemudian……

Tubuhnya mengejang hebat. pahanya menjepit kepalaku dengan kencang.
Lalu kudengar lenguhan panjang, bahkan teriakan nada tinggi.
Kurasakan tubuhnya bergetar dan lalu berkedut-kedut beraturan, beberapa kali.
Mimin telah sampai.
“Ayah……… enak bangeeet……..”
Kulepas kemotanku, kubiarkan tubuhnya berkedutan. beberapa lama.
Lalu kurasakan jepitan pahanya melonggar.
Pahanya jatuh, tubuhnya rebah lemas.
Aku melepaskan diri. Mimin lalu meraih tubuhku dan memelukku kencang.
“Terima kasih Ayah……. enak banget……”
Aku juga memeluknya erat.
“Baru kali ini Mimin merasakan sedapnya……”
Mimin telah merasakan orgasme pertamanya…… !
Orgasme Sang Perawan,
Orgasme clitoral.

Kubiarkan Mimin larut menikmati orgasme pertamanya. Wajahnya bersemu merah dihiasi butiran2 keringat, matanya masih terpejam. Pinggulnya kadang masih berkedut. Beberapa menit kemudian tubuhnya mulai agak tenang, dan matanya membuka, menatapku, dan tersenyum… (Friends, menurutku senyum yang paling indah adalah senyum tulus dari cewe yang baru saja mengalami orgasme ! Silakan buktiin sendiri…he..he..)

“Makasih Ayah….”ujarnya pelan.
Aku mendekati wajahnya dan kucium pipinya dengan lembut. Tanpa kusengaja penisku menyentuh pinggangnya.
“Oh….” seru Mimin.”…..Ayah…belum…..”lanjutnya.
Dipegangnya penisku yang masih agak keras. Dielus-elusnya sampai mengeras kembali. Lalu dia bangkit dan kepalanya menuju ke selangkanganku, diciuminya penisku. Aku mulai ‘naik’ lagi.
Dijilatinya batangku sebelum akhirnya dimasukkan ke mulutnya yang mungil. Aku melenguh. Mimin makin semangat mengulum dan menghisap. Nafsuku merambat seiring dengan desisan mulutku.

Mimin mengerjai kelaminku dengan bervariasi seperti yang pernah kuajarkan. Kepalanya naik-turun lalu berhenti untuk menyedot-nyedot ‘kepala’ku. Kadang dia mengulum sampai jauh ke belakang sehingga ujung penisku menyentuh kerongkongannya, kadang dia lepas kulumannya untuk sekedar menjilat-jilat batang. Semuanya membuatku makin tak karuan rasanya. Aku nilai Mimin sudah lihai dalam memberikan oral-sex kepada Ayah angkatnya. Rasanya tak ada semilipun bagian kelaminku yang terlewat oleh mulut dan lidahnya. Mimin begitu telaten melakukan ‘pekerjaan’nya.

Tentu saja ulahnya ini membuatku makin melayang di awang-awang. Kalau Aku memejamkan mata, segera terbayang yang sedang melakukan oral ini adalah isteriku. Tapi begitu membuka mata, Aku tersadar…. dia adalah Mimin yang sekarang keterampilannya dalam meng-oral sudah menyamai isteriku. Ketika kepalanya sedang tak banyak gerak karena menghisap, Aku membelai-belai rambutnya.

“Mimin……”kataku pelan, setengah merintih.
Mimin tak menghentikan pekerjaannya, hanya bola matanya menatapku sejenak, lalu nunduk lagi menatap kelaminku.
Tatapan mata yang hanya sedetik itu membuatku merasakan sesuatu yang lain, suatu perasaan yang lebih nikmat.
“Mimin….” Aku memanggilnya lagi. Dia menatapku lagi hanya sekejap lalu nunduk lagi dan tetap pada aksinya.
Kubelai rambut dan keningnya. Mimin terus saja meng-oral.
“Min… liat Ayah Min….”
Kulumannya berhenti, matanya menatap mataku penuh tanda tanya.
“Teruskan Min…. tapi sambil liat Ayah…”
Mimin nurut. Kembali ia asyik dengan pekerjaannya tapi kini sambil menatapku.
Uuiih…. rasanya…. selangit.

Ini mungkin subyektif, rasanya Aku jadi enjoy banget ketika seorang cewe meng-oralku sambil bertatapan mata. Bukan main rasanya.
(Aku perlu informasi nih, gimana dengan kalian para BFers, lebih merasakan enak atau biasa2 aja kalau kalian di-oral sambil bertatapan mata. Belum pernah ? Coba dong….). Supaya lebih nyaman Aku mengubah posisi. Kubilang ke Mimin untuk melepas sebentar. Aku pindah duduk ke satu2nya sofa di kamar anakku, duduk senyaman mungkin. Mimin ‘lesehan’ di karpet di depanku. Sekarang posisinya lebih santai tak perlu menunduk dalam-dalam. Mimin memulai aksinya lagi, kini matanya tak lepas dari mataku. Yang begini nih… yang membuatku cepat merambat. Bayangkan, mata saling bertatapan sementara mulutnya asyik mengulumi penisku. Seluruh aksinya dengan mudah Aku tonton. Aku makin naik….

Dulu sewaktu Aku mengenalkan untuk pertama kalinya dia melakukan oral, Aku tak menyetop atau melakukan gerakan lain ketika Aku ejakulasi. Semprotan pertama sempat di dalam mulutnya sebelum dia melepas kulumannya dan meludah. Kali ini Aku ingin dia seperti yang dilakukan isteriku, yaitu membiarkan Aku memancarkan cairan di dalam mulut. Setelah itu terserah Mimin, mau ditelan atau dibuang. Isteriku kadang menelan kadang membuang tergantung mood-nya.

Aku masih terus membelai-belai rambutnya, kadang memegang kepalanya. Sewaktu kurasakan rambatan semakin naik, Aku semakin sering memegang kepalanya dibanding membelai rambut. Aku memang ada niatan nakal. Ketika Aku merasakan waktunya hampir tiba, Aku tak pernah membelai lagi, tapi terus memegang kepalanya. Dan……… ketika saatnya tiba….
Aku pegang kepalanya (oh…. jahatnya Aku), kupancarkan mani di dalam mulut Mimin. Bersamaan dengan pancaran pertama, Mimin memundurkan kepalanya hendak melepaskan kuluman, tapi tanganku menahannya. Pancaran kedua, kudengar Mimin menggumam. Pancaran ketiga dan seterusnya Mimin membiarkan saja apa yang terjadi. Dia mungkin merasa bahwa Aku memang menginginkan begitu.

Sampai akhirnya penisku tak berkedut lagi, Aku melepas pegangan kepalanya dan Mimin melepaskan kulumannya dengan mulut tetap mengatup. Buru2 dia mencari-cari tissu. Diambilnya beberapa lembar dengan cepat, lalu ditumpahkan isi mulutnya ke atas gumpalan tissu…
“Iih….Ayah….. “katanya terengah.
“Kenapa Min?”
“Pas keluar, kepala Mimin malah ditahan….”
“Sorry ya Min…. ”
“Untung engga ketelen….”
“Ketelen juga gak pa-pa”kataku. Mimin menoleh kaget. Ditatapnya mataku, menunggu penjelasan.
Kujelaskan tentang air mani, bersih, sepanjang si empunya tak penyakitan, protein, dll…
“Sorry ya Min….. Ayah merasa lebih nikmat begitu….”
“Oh iya, beneran Yah ?”
“Iya, beneran”
“Kalo Ayah ngerasa lebih enak, lain kali Mimin engga ngelepas deh….”
Kami masih tergeletak telanjang, sama-sama puas, sebelum akhirnya Mimin mengingatkan sebentar lagi teman2nya mau datang.
“Siapa aja yang mau dateng?”tanyaku.
“Biasa… Dity dan Trissy…”
“Dity yang kamu bilang dadanya gede itu ya….”
“Kok Ayah masih inget aja”
“Iya dong. Temen2 anaknya harus Ayah kenal. Kalo Trissy yang mana tuh?”
“Emmm… yang putih, rada kurus, tinggi”
“Oh itu…. tapi rasanya engga lebih tinggi dari kamu”
“Samalah kira2. kan Mimin termasuk tinggi…”
“Tinggi dan sexy….”tambahku. sambil meremas dadanya.
“Ih…. Ayah genit”
Aku berpakaian dan Mimin memunguti pakaiannya lalu keluar kamar, turun, dan langsung masuk ke kamar mandi. Terdengar guyuran air.
Aku masuk ke kamarku juga untuk mandi, dan keramas….

***

Keluar dari kamar mandi sudah terdengar dari kamar Mimin suara ribut cewe-cewe, sudah datang rupanya teman2 Mimin. Aku ke ruang tengah baca koran. Pintu kamar Mimin terbuka, Mimin nongol.
“Eh … Ayah udah selesai….”katanya. Dia masuk kamar lagi. Selesai apanya?
Lalu mereka bertiga keluar kamar.
“Yah…. Dity ama Trissy mo lebaran ama Ayah”
Kuletakkan koran lalu Aku bangkit. Dity menghampiriku sambil senyum. Anak ini sudah lebih dewasa dibanding yang kulihat beberapa bulan lalu. Memang dia sering main ke rumah, tapi Aku jarang ketemu. Dadanya membulat kencang, senyumnya manis, kulitnya bersih walau tak seputih Mimin.
“Selamat Lebaran Oom….”
“Kemana aja kamu”
“Ada. Dity kan sering ke sini, Oom aja yang gak liat…” Bersalaman. Di belakangnya berdiri Trissy. Aku ingat anak ini dulu kurus, sekarang tubuhnya telah berbentuk, padat langsing. Kelihatannya dadanya kencang walau tak besar. Masih putih seperti dulu.
“Selamat Lebaran Oom….”kata Trissy. Lengan tangannya berbulu halus, menambah sexy.
“Kamu juga…. udah lama gak lihat eh…. udah gede ya sekarang” Sialan, tanpa kusadari Aku melirik dadanya yang sudah bertumbuh.
Basa-basi sebentar sebelum mereka minta izin kembali ke kamar.

Kembali Aku duduk pegang koran, tapi pikiranku melantur…
Seandainya anak2 itu jadi “murid”ku juga seperti Mimin…. Ah, ngaco. Ramai obrolannya, entah apa saja yang dibicarakan, Aku tak bisa menangkap. Sebentar2 diselingi dengan ketawa meriah. Itulah ABG, di mana2 sama.
Sekarang apa yang harus kulakukan ? Kalau ngelamun terus begini pikiranku jadi ngeres, terus kepingin menelanjangi Mimin lagi. Hari libur, isteri tak ada, seharusnya bisa seharian menghabiskan waktu bertelanjang dengan Mimin. Tapi masa Aku usir teman2nya. Bingung Aku mau ngapain. Cuma bisa berharap teman2nya segera pulang. Tak mungkinlah, mereka sudah biasa berkumpul berjam-jam sampai sore.
Baca lagi, timbul kantuk, dan Aku tertidur di kursi……

Aku terbangun ketika seseorang menepuk pundakku.
“Eh…. sorry… Ayah tidur ya….”kata Mimin. Kuliat arloji, oh… Aku ketiduran sampai sejam. Rupanya ejakulasi memuaskan pagi tadi membuatku terlelap…
“Teman2mu udah pulang?”
“Belum…. Eh, Yah” Mimin mendekatkan mulutnya ke telingaku.
“Bentar lagi mo pada buka2an tuh….”bisiknya.
Aku belum tersadar sepenuhnya.
“Buka apa?”tanyaku.
“Ih Ayah…. kaya dulu yang Mimin ceritakan”
Perlahan kesadaranku pulih.
Ya, Aku ingat. Mimin pernah cerita, teman2nya kalau di kamar rame2 suka saling membuka pakaian memperlihatkan tubuh masing2.
Aku tak tahu kenapa Mimin perlu bilang hal itu kepadaku. Apakah dia ingin supaya Aku melihat tubuh teman2nya?
“Kok bilang ke Ayah?”
“Ssst…. pelan2″bisiknya.”Bukan gitu. Tadi Aku disuruh ngecek Ayah ada dimana, lagi apa, sebelum mulai ‘acara’ “katanya.
“Trus?”
“Kali aja Ayah mo liat….”
Gila. Apa anak ini sudah gila? Oh iya, baru Aku ingat. Dulu Mimin pernah mengeluh tentang dadanya yang kecil belum tumbuh sambil membandingkan dada temannya, ya Si Dity ini. Mendadak timbul ideku, ide yang menyenangkan.
“Mau, mau”kataku bersemangat.
“Idih…. semangat bener…”
“Lho kan dulu kamu pernah cerita…..”
“Iya …iya…makanya Mimin tawarin”
“Bilang aja Ayah ada di kamar udah tidur”kataku.
“Entar Ayah ngintip dari kamar Ayah?”
“Ya”
“Mana bisa Yah….”

Anak ini pintar. Posisi daun pintu hanya memungkinkan seseorang mengintip dari kamar Mimin ke kamarku, bukan sebaliknya. Selain dari pintu, tak ada lubang lain di dinding pemisah kedua kamar itu. Apa akal ? Ini kesempatan emas ! Ayo pikir ! Dan, jalan menuju kesesatan selalu mudah ditemukan, ide segera didapat.
“Gini aja Min, bilang aja Ayah ada di kamar, entar gak enak kalo ketahuan”
“Sementara Ayah mo beresin kamar di atas. Nanti kamu bilang kalo mo buka2an di kamar atas aja, aman”lanjutku.
“Kalo soal beginian, Ayah jagonya deh….”kata Mimin sambil beranjak kembali ke kamarnya. Aku hanya sempat menepuk pantat padatnya.

Aku ke atas ke kamar yang tadi kugunakan bersama Mimin. Aku beres-beres sampai rapi. Rencananya, Mimin kusuruh ajak teman2nya buat buka2an di kamar ini, sedangkan Aku bisa ngintip dari kamar sebelah lewat lubang angin yang berlapis kawat nyamuk. Aku lalu ke kamar sebelah untuk menyiapkan acara pengintipan. Pelan2 banget Aku geser meja belajar anakku ke dekat lubang angin, lau Aku coba mengintip. Ah, posisinya kurang pas. Mereka pastinya akan beraksi di tempat tidur. Pandangan dari sini ke tempat tidur sebelah kurang leluasa.

Aha, kenapa tak ditukar saja. Mereka Aku suruh ke kamar ini sementara Aku ngintip dari kamar sebelah. Posisi tempat tidurnya pas, dan lebih terang karena jendela kamar ini langsung menuju ke arah depan rumah. Dengan hati2 ku kembalikan posisi meja belajar, dan Aku tinggal menggeser sedikit posisi tempat tidur supaya seluruh permukaatn tempat tidur bisa ku”monitor” dari kamar sebelah. Aku kembali ke kamar sebelah untuk mempersiapkan tempat pengintipan. Aku geser meja ke dinding yang ada lubang anginnya, aku naik dan ….. pandangan ke sebelah luas, terang, dan leluasa ! Tapi harus ditest dulu supaya keamanan terjamin. Kutaruh suatu benda di dekat lubang angin, Aku turun dan mematikan lampu kamar, dan menuju ke “kamar shooting”. Dari tempat tidur “shooting” Aku memandang ke lubang angin. Gelap. benda tadi hanya samar banget terlihatnya. Aman. Kamar ini sengaja pintunya kubuka lebar-lebar, sedangkan pintu kamar sebelah Aku tutup rapat. Show time….

Aku turun sambil berpikir gimana caranya memberitahu ke Mimin bahwa kamar sudah siap. Aku masuk ke kamarku, terbatuk-batuk supaya Mimin tahu keberadaanku. Benar saja, tak lama kemudian MImin masuk kamarku, Aku segera memberi “instruksi” supaya acaranya di kamar atas depan saja.
“Jadi Ayah di kamar tengah?”tanyanya setengah berbisik
“Ya”
“Tapi hati2 ya Yah, jangan sampai ketahuan”
“Beres”

Kudengar mereka dengan berhati-hati naik ke lantai atas. Dengan tak sabaran dan bertelanjang kaki Aku menyusul ke atas dan langsung masuk ke kamar tengah. terdengar suara cekikikan meraka. Hati2 Aku naik ke meja dan mendekat ke lubang angin. Dan…….

Mereka bertiga sudah membuka baju masing2, hanya ber-bra tapi bawahannya masih lengkap. Mereka ketawa-tawa sambil saling colek. Dity jelas buah dadanya bagai tak tertampung oleh bra-nya. Pinggirannya jelas membulat. Tapi Trissy, Aku tak menyangka. Tadi sewaktu salaman, dari luar kulihat dadanya biasa saja, hanya sedikit tonjolan kecil. Tapi setelah dia buka baju, dada itu jelas berbentuk dan menonjol. Memang kecil, tapi bentuknya indah, bulat dan nonjol. Pelan tapi pasti, penisku mengembang dan mengeras. Mimin tak perlu kuceritakan, kalian sudah tahu semua kan ?

Mereka saling meminta kawannya agar duluan membuka bra. Trissy mencoba menarik bra Dity. Dity memegang erat bra-nya.
“Ya udah…gw duluan….”kata Mimin. Dengan tenang Mimin mencopot bra-nya.
“Oh…. punya elo gede sekarang”kata Trissy.
“Eh…ini apaan…. kaya bekas cupang”kata Dity menunjuk buah dada kiri Mimin. Disambut ketawa ngakak mereka berdua. Mimin hanya senyum kecut.
Ah…. tadi Aku ciumin dada kiri Mimin dengan gemasnya. Mungkin sekarang berbekas.
“Sekarang buka”kata Mimin
“Elo dulu”kata Trissy nunjuk Dity.
“Elo duluan”sahut Dity
“Gimana sih elo….katanya tadi pengin buka2an…”kata Mimin.
“Ya tuh Dity…”
“Eh, elo yang ngotot pengin…”
“Elo juga”
“Suit deh…”kata Mimin. Berdua suit, Trissy kalah, dia mulai membuka kaitan bra di punggung, dan dadanya kini terbuka. Benar2 dada yang menggemaskan. Putih, kecil, bulat, menonjol, dan putingnya mungil hampir tak kelihatan. Penisku kini telah tegang. Ah…Aku pengin lagi. “Sekarang elo” Aku dikejutkan teriakan Trissy. Dity membuka bra-nya….

Dua gumpalan itu serasa terbebas dari kungkungan. Benar kata Mimin, buah dada Dity memang besar. Anak ini paling umurnya baru 17 tahun juga, tapi dadanya…. Putingnyapun jelas menonjol ke depan. Serasa enak kalau dikemot-kemot… Walaupun terkesan berat, tapi buah itu masih tegak ke depan, tidak turun. Inilah menangnya umur ABG, masih serba kencang.
“Tuh bola apa toket…”kata Trissy sambil tangannya memegang bulatan. Dity menangkis.
“Makin gede aja punya elo….”kata Mimin.
Besarnya mirip buah dada isteriku, tapi jelas lebih kencang punya Dity.
Aku makin gelisah…
AKu lalu ingat isteriku. Sedang apa dia ya. Aku kini sungguh2 berharap isteriku segera pulang, tapi ini belum sore….

“Ayo kita lepas semuanya…” kata Mimin sambil melepas roknya. Kedua temannya juga berbuat yang sama. Tapi saatnya Mimin sudah telanjang bulat, kedua temannya masih belum bersedia melepas celana dalamnya. Mendadak Mimin menangkap tubuh Trissy dari belakang.
Dity segera tahu apa yang harus diperbuat. Dipelorotkannya celana dalam Trissy, Trissy meronta-ronta. Tapi dikeroyok dua orang Trissy tak berdaya. Celana dalam crem itupun terlepas sudah, menyajikan bulu2 yang sungguh lebat ! Giliran Dity yang dikeroyok.
“Udah…. udah…. gw lepas sendiri…”teriak Dity. Kini ketiganya sudah bugil. Bulu2 Dity sedikit lebih rimbun dibanding bulu Mimin.
Ketiganya kini tergolek di kasur. Tiga gadis remaja telentang berjajar, semuanya bugil. Sungguh pemandangan yang indah ! Mereka ngobrol acuh. Tak jelas apa yang diomongkan.
Aku yang tak kuat ….

Aku membayangkan, seandainya Dity, atau Trissy, tergolek seperti itu dan Aku ada di situ, mungkin Aku dengan lancarnya akan memasukkan kelaminku menembus keperawanannya, tanpa hambatan mental seperti yang kualami pada Mimin. Mereka toh bukan anak angkatku… Tapi apakah mereka juga bersedia seperti Mimin? Mereka harus jadi muridku dulu…

Mimin bangkit, menyambar kain selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Kemana elo?”tanya dua temannya berbarengan.
“Mo ke bawah, ngecek babe dulu sambil ambil minuman…haus euy…”
“Jangan pake lama ya…”
Mimin keluar kamar dan turun ke lantai 1.
Aku dengan amat hati2 tak bersuara, turun dari tempat ngintip, keluar kamar mengikuti Mimin.

“Min….”
Mimikn menoleh kaget. Matanya melirik ke bawah tubuhku yang amat jelas menonjol.
Aku seret dia masuk ke kamarku, sekali renggut kain selimutnya jatuh ke lantai, kutarik ke kasur. Dengan cepat kubuka celanaku, dan kudekatkan kelaminku yang sudah mengeras ke mulutnya. tanpa bicara Mimin mengerti maksudku. Didorongnya tubuhku hingga rebah terlentang.
“Hi..hi…. Ayah gak tahan ya…..”
Dia mulai meng-oralku. Dia sudah tahu, matanya menatap mataku. Tapi justru Aku yang merem, karena membayangkan Dity yang melakukannya.
Mungkin karena didahului oleh pameran tubuh2 remaja tadi, mungkin juga karena membayangkan Dity, dan kadang2 berganti Trissy yang melakukannya, Aku jadi cepat “naik”.
naik semakin tinggi….
terbang….
melayang di awan….
Dan….
Mimin tahu apa yang harus dilakukannya
Tanpa dipegangi kepalanya, Mimin membiarkan penisku tetap di dalam mulutnya ketika Aku sampai di puncak.
Penisku berdenyut-denyut sambil memuntahkan sperma di dalam mulut Mimin….
Mulutnya tetap ‘menggenggam’ penisku hingga denyutan berhenti.
Mimin telah belajar….
Cara melepasnyapun sudah pintar
Surut ke belakang dengan bibir masih melekat erat, menyapu…
Juga mengambil tissu, setelahnya. Tapi hanya untuk mengelap mulutnya, tidak untuk menampung seperti tadi.
“Mimin……?”
Mimin mengangguk.
“Habisnya …. waktu ayah keluar tadi, punya Ayah pas di dalem banget, ketelen deh ama Mimin….”
Semuanya?
“Tanggung…. Mimin telen aja semuanya….”
“Gimana rasanya?”
“Aneh”

Mei 7, 2008. Tag: . Cerita-cerita Erotis. Tinggalkan komentar.

Bi Inah

Pengalaman ini terjadi sekitar tujuh tahun lalu. Saat itu aku masih bujangan dan kfadxntinggal bersama orang tuaku di kota X. Di sebuah kawasan yang tergolong padat penduduk. Jarak antara satu rumah dengan lainnya berhimpitan dan cenderung kumuh. Maklum kebanyakan yang tinggal dari kalangan ekonomi papan bawah.

Persis di belakang rumahku, tinggal keluarga Pak Was. Pria yang berprofesi sebagai penarik becak ini hidup bersama Bi Nah istrinya dan anak bungsunya Karni yang masih balita. Sedang kedua anak mereka yang lain, Sri dan Drajat, telah merantau ke Jakarta dalam usia yang masih cukup belia.

Bi Nah punya usaha sampingan menjual kupon judi, semacam “Togel” yang populer sekarang ini. Hingga di rumahnya selalu banyak orang baik untuk merumus maupun memasang taruhan. Termasuk aku yang sering diminta untuk menulis dan mencatat taruhan pemasang dengan upah beberapa ribu rupiah. Sedang Pak Was, kalau sedang tidak narik becak lebih senang mabuk dengan Pak Dal, temannya yang berprofesi sebagai tukang kayu. Rumah Pak Dal berjarak sekitar delapan rumah dari rumah Pak Was.

Lama bergaul dengan keluarga Pak Was aku merasakan adanya keganjilan. Yakni soal hubungan Pak Dal dan Bi Nah. Keakraban keduanya, sepertinya tidak lazim. Di samping mereka sering ngobrol intim dan berbisik-bisik, beberapa kali aku memergoki tangan Pak Daliri meraba dan meremas pantat Bi Nah. Tentu saja saat Pak Wasjud tidak di rumah.

Saat itu usia Bi Nah menjelang 40 tahun. Memang sih wajahnya tidak tergolong cantik dan berkulit sawo matang. Namun dengan sosoknya yang tinggi besar dan berbuah dada menantang, wanita itu memang masih mampu menggetarkan syahwat laki-laki. Aku malah sering dibuat kelabakan bila melihat kancing dasternya yang terbuka mempertontonkan sebagian busungan payudaranya. Cara berpakaian Bi Nah memang sering sembarangan. Tetapi apa mungkin Pak Dal punya hubungan khusus dengan Bu Nah mengingat ia teman akrab Pak Was? Pikiran dan pertanyaan semacam itu sering melintas-lintas dalam anganku yang akhirnya terjawab juga.

Malam itu, sekitar pukul 22.30 WIB, terlihat Pak Was menaiki sepada onthel milik Pak Dal. Ia melintas melewati depan rumahku. “Mau kemana Pak?” sapaku. Ia berhenti, “Ini Rin mau beli sate dan anget-anget,” jawabnya. Lalu sebelum kembali menggenjot pedal sepada yang dinaikinya, “Nanti kamu ke rumah ya, ikut makan sate,” ujarnya lagi dan aku mengiyakan.

Aku senang dengan tawarannya itu karena memang sedang lapar. Tetapi kemana membeli sate dan minuman keras di malam selarut ini? Memang ada, tetapi jaraknya lebih dari tiga kilometer. Apa Pak Was harus pergi ke tempat sejauh itu? Ah, masa bodo yang penting kalau dapat bisa ikut makan.

Karena tawaran Pak Was, kendati aku yakin ia belum sampai, aku bermaksud ke rumah tetanggaku itu. Aku keluar lewat pintu dapur dengan membawa kunci agarmudah kalau mau pulang. Rumah Pak Was memang behimpit dengan pintu dapur rumahku dan hanya dibatasi lontrong sempit. Saat berada di lontrong kudengar suara mencurigakan. Suara mendesah Bi Nah yang diselingi suara lain dari laki-laki. Sepertinya suara Pak Dal. Arah suara itu datangnya dari kamar Pak Was dan istrinya.

Aku jadi ingin tahu. Bercampur kecurigaan yang selama ini kupendam, dengan berjingkat kudekati bagian kamar rumah Pak Was yang berdinding bambu. Aku merapat ke dinding. Jelas kudengar arahnya dari dalam kamar. Maka segera kucari lubang untuk mengintip yang tidak begitu sulit kudapatkan karena cukup banyak dindingnya yang berlubang.

Ah, benar seperti yang kukira. Bi Nah dengan Pak Dal memang selingkuh. Di kamar itu kulihat Bi Nah duduk di pangkuan Pak Dal yang terduduk di tepian ranjang. Keduanya sama-sama telanjang tanpa sehelai benang menutupi tubuh. Bahkan mulut Pak Dal tengah asyik mengulum dan menghisapi puting susu sebelah kiri Bi Nah. Sedang tangannya menggerayang dan meremasi yang sebelah kanan. Sesekali dipilin-pilinnya putingnya yang coklat kehitaman dan tampak mencuat.

Beberapa kali memang aku sempat melihat buah dada wanita itu. Tetapi hanya sebagian. Terutama bila ia tidak mengancingkan semua kancing dasternya. Terlebih bila di rumah, ia memang kerap tidak mengenakan kutang. Tetapi melihat keseluruhannya jauh lebih indah. Besar dan nampak masih kenyal. Pantas Pak Dal begitu asyik dengan mainannya itu sampai Bi Nah mendesah dan menggelinjang.

Jakunku turun naik dan degup jantungku kian terpacu saat Pak Dal mengganti permainan. Lepas dari buah dada Bi Nah, tangan Pak Dal merosot dan merayap ke paha dan selangkangan wanita itu. Bi Nah merenggangkan kaki. Seperti memberi kemudahan pada pasangannya untuk beraksi. Kini, kemaluan wanita itulah yang menjadi sasaran obok-obok tangan Pak Dal. Karena keterbatasan penerangan di dalam kamar, aku memang tidak bisa melihat secara detail bentuk kemaluan Bi Nah. Terlebih segera tertutup tangan Pak Dal yang mulai mengusap dan mungkin mencolek-coleknya. Namun sepintas, dari kehitaman yang nampak, aku yakin memek Bu Nah lebat tertutup oleh rambut yang tumbuh di sekitarnya.

Keseluruhan bangun tubuh Bi Nah memang aduhai. Setidaknya begitu pendapatku saat itu. Betapa tidak, postur tubuhnya tinggi besar montok dan berisi. Susunya juga besar, mengkal, meskipun agak turun. Serasi dengan pinggangnya yang ramping namun makin ke bawah makin membesar. Kakinya panjang indah menyerupai kaki belalang dengan paha yang nampak kekar. Ah, ingin rasanya aku jadi Pak Dal, bisa memangku dan mengusap apa yang ingin kupegang. Tak terasa kontolku jadi ikut tegang dan nafas menjadi tak teratur.

Bi Nah turun dari pangkuan Pak Dal. “Kang ayo kita mualai. Nanti Kang Was keburu datang lho,” kata wanita itu. Malam itu Bi Nah nampak lebih cantik dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. Biasanya rambutnya lebih banyak digelung.

“Ah, tidak mungkin Nah. Beli sate dan minumannya kan cuma di tempat biasa. Paling dia belum sampai ke tukang sate itu. Dan katanya kamu mau ngemut iniku?” Pak Dal menjawab sambil menunjukkan kontolnya yang mengacung di selangkangannya. Ternyata punya Pak Daliri tidak besar-besar amat. Hanya ukurannya memang cukup panjang. Namun, dibandingkan dengan milikku, aku yakin masih kalah jauh. Punyaku, di samping berukuran besar, pernah kuukur diameternya sampai 5 CM lebih. Panjangnya juga mendekati 20 CM. Mungkin karena tubuhku yang bongsor.

“Ah besok saja. Takut Kang Was keburu datang. Makanya kalau mau diemut tidak usaha gerayangan dulu jadinya lama. Dan lagi aku sudah pengin,” ujar Bi Nah. Ia naik ke ranjang dan langsung tiduran mengangkang. Melihat lawannya sudah bersiap Pak Dal tak bisa menolak. Disusulnya Bi Nah dan langsung menindih wanita itu. Untung posisi tidur mereka persis membelakangi tempatku mengintip. Hingga aku bisa melihat semuanya, seperti close up yang sering tampil dalam film BF yang pernah kutonton.

Meski tak cukup jelas terlihat, kulihat penis Pak Dal dengan mudah menerobos masuk ke lubang vagina Bi Nah. Lalu seiring dengan pantat Pak Dal yang mulai naik turun, penisnya menjadi terayun keluar masuk dalam lubang memek itu. Penis Pak Dal nampak mengkilat, mungkin karena terlumuri cairan yang ada di dalam liang sanggamapasangannya. Keduanya nampak mendesah, menikmati permainan yang tengah dilakukannya. Sambil terus mengayun pantatnya, tangan Pak Dal tak henti bermain di payudara istri Pak Was. Sesekali tangan Bi Nah meremas pantat Pak Dal dan mencoba menekannya. Mungkin agar hunjaman penis pasangannya masuk lebih dalam.

Permainan menjadi semakin panas ketika kulihat pinggul Bi Nah mulai bergoyang. Goyangan pinggul dan pantatnya nampak memutar berirama. Ia bergoyang sambil merintih dan mendesah. Tak urung aku jadi makin terpengaruh. Sambil terus menatap ke dalam kukocok dan kuremas-remas sendiri kontolku seraya membayangkan nikmatnya digoyang istri PakWas.

Pengaruh goyang pinggul Bi Nah rupaya juga berimbas pada Pak Dal. Pria itu mulai merintih-rintih dan tusukan kontolnya pada memek pasangannya menjadi kian cepat. Akhirnya, tubuhnya mengajang dan ia melenguh panjang. Rupanya ia telah mendapatkan puncak kenikmatannya. Dan itu bersamaan dengan keluarnya mani dari kontolku yang membaur dengan rasa nikmat yang ikut kurasakan. Sedang Bi Nah yang terus menggoyang tubuh bagian bawahnya, setelah sesaat mengejang dijambaknya rambut kepala Pak Dal. Kepala pria pasangannya itu dibenamkannya ke payudarannya untuk akhirnya sama-sama terdiam dan ambruk dengan peluh berleleran di sekujur tubuh mereka. Suasana terasa hening sesaat.

Bi Nah yang telah turun dari ranjang memungut dasternya yang teronggok di lantai. Namun Pak Dal berusaha mencegah. Pantat besar wanita itu diremasnya dan berusaha ditariknya mendekat. “Sudah ah, nanti gampang diulang lagi. Dan jangan lupa ya janjimu untuk membelikanku cincin,” kata Bi Nah sambil keluar dari kamar. Mungkin ke kamar mandi membersihkan diri. Sedang Pak Dal, dengan ogah-gahan turun dari ranjang dan kembali mengenakan pakaiannya.

Aku tidak langsung masuk ke rumah Pak Was kendati kudengar Bi Nah dan Pak Dal telah bercengkerama di ruang depan dengan pintu yang sengaja dibuka. Kutunggu Pak Was diujung jalan, baru bersama laki-laki itu aku masuk menemui pasangan selingkuh yang baru menikmati indahnya sorga dunia. Aku bersikap seolah tidak mengetahui apa yang telah terjadi hingga Bi Nah dan Pak Dal tidak curiga. Hanya, aku sering tidak bisa mengalihkan tatapanku pada busung dada istri Pak Was. Pukul 02.00 dini hari aku keluar dengan Pak Dal yang mulai mabuk karena minuman keras yang ditenggaknya.

Pak Dal tidak hanya mendatangi Bi Nah saat suaminya beli sate dan arak.Tapi di siang hari, saat suaminya mencari penumpang bisa saja ia melakukannya. Sebab sebagai penjual kupon judi, rumah Pak Was selalu dikunjungi mereka yang hendak merumus dan menebak angka jitu yang akan dipasangnya termasuk Pak Dal. Bisa saja saat sepi mereka jadi punya kesempatan untuk melakukannya. Aku pernah melihat Pak Dal keluar dari rumah Pak Was suatu siang, namun saat aku masuk kulihat Bi Nah hanya membalut tubuh dengan kain panjang dengan rambut acak-acakan dan tengah bersiap mandi.

Mangintip kamar Bi Nah akhirnya menjadi kebiasaanku di malam hari. Memang tidak selalu kutemukan adegan wanita itu tengah bersenggama. Sebab bungan seks Pak Was dan istrinya tergolong jarang. Mungkin karena usia atau kerja keras yang harus dilakukannya. Tetapi kalau Pak Was beli sate atas perintah Pak Dal, dipastikan ada permainan panas dan itu telah kubuktikan lebih dari sepuluh kali dan menjadikanku kian terobsesi pada wanita setengah baya itu.

Suatu hari, seperti biasa semenjak sore aku membantu Bi Nah melayani pembeli kupon judi. Sampai akhirnya harus membuat rekapan angka-angka yang dibeli para pemasang. Namun hingga pukul 21.00 malam Pak Was tak kunjung datang. Padahal dia yang biasanya menyetor uang dan data rekapan pada agen. “Kok Pak Wasjud belum datang Bi?” Bi Nah tengah menidurkan Karni, si bungsu anaknya di kamarnya.

“Pak Was diajak Pak Dal nonton wayang. Paling mereka pasang judi kopyok sampai pagi. Nanti yang setor Bibi. Dibonceng kamu ya Rin pakai sepedanya Pak Dal?” Aku mengangguk. Inilah kesempatan itu, pikirku membathin. Ya kesempatan meminta layanan dari Bi Nah. Tetapi bagaimana caranya? Apa dia tidak marah? Sebab mungkin di matanya aku masih remaja ingusan kendati sosokku tinggi besar. Ah, yang penting aku berani menyampaikan, pikirku lagi tanpa terucapkan.

Dalam perjalanan pulang dari menyetor ke agen kupon judi aku sengaja memperlambat kayuhan pedal. “Kalau Pak Dal dan Pak Was nonton wayang jadi tidak ada acara makan sate ya Bi?” Ujarku memberanikan diri.

“Iya memang. Kalau kamu pengin sate, upahmu kan bisa digunakan untuk membeli beberapa tusuk. Nanti biar Bi Nah tambahi sedikit,” jawa Bi Nah, tak tahu arah pembicaraanku.

“Tetapi kan kurang asyik,” ujarku lagi.

“Kurang asyik bagaimana?”

“Kalau yang beli sate Pak Was kan aku bisa asyik nonton film BF-nya Bi Nah dan Pak Dal,” kataku lebih menegaskan.

Jleg! Bi Nah langsung turun dari boncengan tetapi sambil memegangi sepeda yang kukendarai. “Maksudmu soal film BF itu apa Rin, Bibi benar tidak tahu,” ujarnya keras. Ia agak panik.

“Anu lho Bi, sebenarnya aku sering ngintip Bibi saat begituan dengan Pak Dal,”
Reaksinya seperti yang kukira. Ia sangat kaget. Dan dengan merajuk dipeganginya tanganku sambil berucap, “Rin Bibi minta tolong. Kamu jangan cerita sama siapa-siapa apalagi pada Pak Was. Tolong ya Rin. Nanti Bibi lah yang belikan sate,”

“Aku tidak kepingin sate kok Bi. Tetapi kepingin begituan sama Bi Nah,” aku menandaskan. Ia terperanjat, tetapi cuma sesaat. Beberapa saat ia terdiam sambil menatapiku, sampai akhirnya, “Kalau maumu begitu, nanti kamu boleh melakukannya sepuasmu,” katanya dan kembali membonceng sepedaku.

Sepanjang perjalanan ia banyak bertanya. Soal apakah aku pernah berhubungan dengan perempuan lain dan sebagaimanya. Bahkan tangannya sempat iseng menggerayang ke selangkanganku dan membelai-belai milikku. “Rupanya punya kamu besar juga ya Rin. Belum berdiri saja sudah begini besar.” Aku senang dengan pujian Bi Nah. Pedal sepeda kukayuh kencang agar cepat sampai dan dapat melakukan segala yang ingin kulakukan.

Di rumah, Bi Nah langsung menarikku ke kamarnya. Tetapi aku jadi bingung harus memulai dari mana. Canggung karena belum pernah punya pengalaman intim dengan wanita. Apalagi perbedaan usia kami yang cukup jauh karena saat itu aku belum genap 19 tahun. Hingga aku cuma duduk tercenungdi tepian ranjang, sedang Bi Nah duduk di sisi yang lain mengawasiku. Mungkin ia menunggu reaksi dan keberanianku.

Lama aku tak bergeming, Bi Nah akhirnya mengambil insiatif. Ia turun dari ranjang dan mulai mepreteli sendiri pakaiannya. Setelah melepasi kancing-kancingnya, dipelorotkannya daster lusuh yang dikenakannya. Terjatuh dan dibiarkannya teronggok di lantai. Busung dadanya yang besar nampak menggunung karena masih tersangga oleh kutang hitam yang dipakai. Namun begitu BH-nya dilepas, ketahuan bahwa bukit kembar itu telah agak melorot. Putingnya yang coklatkehitaman nampak mencuat menantang. Aku jadi ingat adegan penari striptease dalamfilm porno karena Bi Nah seperti sengaja mempertontonkan bagian-bagian tubuhnya yang merangsang secara perlahan.

Aku menjadi tidak sabar untuk melihat semuanya karena setelah membuka kutangnya, Bi Nah tidak segera melanjutkan dengan membuka celana dalamnya. Ia asyik meraba dan meremasi sendiri buah dadanya. Ia tahu mataku mulai tertuju gundukan di selangkangannya yang masih terbungkus celana dalam. Namun seperti sengaja ia tidak segera memelorotkan celana dalamnya yang berwarna hitam itu. “Kalau ingin melihat yang ini, kamu harus membuka sendiri celana dalam Bi Nah,” ujarnya tersenyum sambil merabai sendiri kemaluannya dari luar CD-nya.

Bi Nah mendekatiku yang tetap duduk di bibir ranjang. Di hadapanku, dalam jarak yang sangat dekat, sepasang buah dadanya nyaris menyentuh wajahku. Maka aku langsung menyambutnya dengan mengecup salah satu puting dari susu montok itu. Lalu dengan rakus kukulum dan kupermainkan dengan lidahku. “Ssshh.., aahh.., ookkhh..,” Bi Nah mendesah, ketika aku mulai menghisapnya. Tubuhnya kian merapat dan diraihnya kepalakuuntuk dibenamkan di kehangatan payudaranya.

Sambil terus melumati puting susunya bergantian kiri dan kanan, tanganku meliar ke bagian lain tubuh bahenolnya. Kuraba-raba pinggulnya dan kemudian beralih dengan meremasi pantatnya. Sedikit demi sedikit kuturunkan celana dalamnya yang juga berwarna hitam. Celana dalam Bi Nah sangat longgar, mungkin karena terlalu sering dipakai. Maka setelah karetnya melewati pinggul dan bongkahan bokongnya, celana dalam itu merosot turun dengan sendirinya.

Benar rambut kemaluan istri Pak Was itu tumbuh sangat lebat. Terdengar bunyi kemerisik saat telapak tanganku mengusap-usapnya. Mungkin karena gesekan tanganku pada rambut lebat dan keriting kecil-kecil itu. Perhatianku jadi beralih ke vaginanya. Turun dari ranjang, aku langsung berjongkok. Sementara Bi Nah mengangkat salah satu kakinya untuk bertumpu pada bibir ranjang. Dalam posisi seperti aku jadi bisa melihat memeknya sampai ke detilnya. Lubangnya yang sedikit menganga dengan bibir kemaluan yang telah berkerut-kerut, juga tonjolan daging kelentitnya. Berbeda dengan bibir luar memeknya yang berwarna kehitaman, di bagian dalam lubang nikmatnya nampak memerah.

“Ayo Rin.., memek Bi Nah bukan tontonan. Jangan cuma dilihati saja. Kamu bisa menjilati atau menghisapnya,” ujarnya tak sabar. Maka kembali kuturuti perintahnya. Tanpa diminta, sebenarnya aku sudah mau melakukannya.

Dengan penuh nafsu kujilati memek wanita setengah baya itu. Baunya sangat khas, sulit kutemukan padanannya. Ketika lidahku menyapu lebih ke dalam bagian lubang nikmatnya, sedikit terasa asin dan berlendir. Tetapi tidak kupedulikan. Lidahku terus kugunakan untuk menyapu sampai ke bagian yang dapat dijangkau. Bahkan kelentitnya yang menonjol berkali-kali kuhisap. “aahhkkhh.., enak sekali Rin. Ternyata kamu sangat pintar. Ya.., ya.. begitu.., aahh.., sshh,.. oohh,”

Bi Nah memintaku melanjutkan adegan itu sambil berbaring di ranjangnya. Tetapi sebelumnya dibantunya aku melepasi pakaianku. Dan atas perintahnya posisi kepalaku diminta berada di bagian bawah tubuhnya dengan bagian tubuhku yang lain berada dekat kepalanya. Seperti membentuk hurup 69. Rupanya dengan posisi itu, kami jadi sama-sama memperoleh nikmat. Aku bisa tetap menilat dan menghisapi kemaluannya, namun ia juga bisa mengulum dan menjilati kontolku sekaligus. Lidah Bi Nah yang menyapu ujung kepala penisku terasa panas, namun sangat nikmat. Terlebih saat mulutnya mulai mengulum dan menghisap-hisapnya. Maka setelah ia telentang dalam posisi mengangkang, aku segera menubruknya dan kembali menjilati kemaluannya.

Cukup lama kami tenggelam dalam kenikmatan posisi 69. Seperti menari lidahku menyapu dan menjilat di kebasahan memek Bi Nah. Menimbulkan bunyi kecipak yang sangat khas, craap.., croop.., srusuup.. Bi Nah terengah, aku pun sesekali mengerang manahan nikmat karena sedotan-sedotan mulut wanita itu pada penisku. Terlebih saat ia mengulum dan melumasi biji pelirku dari luar kantongnya. Sampai akhirnya, tubuh wanita itu mengajang dan kepalaku dijepitnya kencang dihimpit kedua pahanya. “Aahh..ahh..aauuhh, enak sekali Rin, akhh Bi Nah sudah keluar Rin,..sshh..aahhkkhh,” rintihnya sambil menggoyang pantat dan pinggulnya. Ia telah mendapatkan puncak kepuasannya.

Dan tak lama berselang, aku pun mulai merasakan dorongan sangat kuat di penisku. Dorongan yang telah lama kutahan agar tidak jebol. “aa.., aku juga Bi. Akhh.. sshh.. auhh,” aku merintih. Berbarengan dengan itu, dari ujung penisku memancar kuat air maniku. Rupanya Bi Nah terlambat mengeluarkan penisku dari mulutnya saat aku mendapatkan itu hingga sebagian air maniku yang kental berwarna keputihan masuk ke dalam mulutnya. Sebagian yang lainnya berleleran di wajahnya. Wajah Bi Nah tampak puas dengan apa yang diperolehnya.

Sesuai dengan bentuk tubuhnya yang bongkok udang, nafsu Bi Nah tergolong besar. Terbukti beberapa saat setelah itu, ia kembali melancarkan serangannya. Kontolku yang kembali mengecil dan layu mulai dihisap-hisapnya dengan mulutnya. Bahkan entah disengaja atau, tanpa merasa jijik sapuan lidahnya sampai ke lubang anusku. Geli dan rasanya sangat aneh, namun sungguh sangat nikmat.

Rudalku kembali mendongak tegak. Besar, keras dan siap tempur. Senang karena hanya sesaat bisa membangkitkankembali, dengan gemas dikocok-kocoknya pelan tonggak daging milikku itu. Wajah Bi Nah tampak puas, senyumnya terlihat mengembang. Adegan berikutnya, sesuatu yang sangat kunanti akhirnya terjadi. Ia bangkit lalu mengambil posisi berjongkok persis di atas pinggangku yang terbaring telentang. Tepatnya persis pada posisi di atas batang zakarku yang mengacung. Saat itu, di mataku, sosok Bi Nah menjadi sangat indah. Belahan memeknya nampak terbuka di antara kaki dan kedua pahanya yang kekar menyangga.

Aku dibuatnya sedikit tegang dan berdebar saat dengan pelan ia mulai menurunkan pantatnya. Ujung penisku terasa mulai menyentuh bukit kemaluannya yang membusung. Sambil menggenggam batang penisku diarahkannya ujungnya tepat di liang sanggamanya. Ssslleesseepp.., bbllees..! Sedikit demi sedikit kontolku masuk di lubang memeknya. Rasanya hangat dan basah. Aku mendesis menahan nikmat yang baru pertama kali kurasakan.

“Enak Rin..,” ujarnya.

Aku mengangguk. Terlebih saat iamulai menggoyang pelan pantatnya. Milikku serasa diremas-remas dalam kehangatan lubang memeknya. Sepasang payudaranya yang besar dan menggelantung terlihat ikut bergoyang mengundang. Menarikku untuk kembali memegang dan membelai susu-susunya itu. Putingnya kupilin-pilin dan di saat yang lain kuremas-remasnya daging yang terasa kenyal di tangkupan telapak tanganku.

“Ayo Rin.., remas terus susu Bi Nah.., ah.., ah,..shh akh, enaknya kontolmu,” ia terus mendesah sambil menggoyang-goyang pantatnya. Aku jadi kian bersemangat. Saat posisinya kian membungkuk, langsung kusambar putingnya dengan mulutku. Kujilat-jilat dan kuhisap dengan rakus. Bi Nah tambah histeris. Goyangan pinggul dan pantatnya kian menjadi. Keringatnya berleleran, ikut membasahi tubuhku. Baunya sangat khas, bau wanita dewasa yang entah kenapa sangat kusuka.

Beberapa saat dalam posisi di atas, rupanya membuatnya cepat kehabisan tenaga. Ia akhirnya meminta berganti posisi. “Gantian Rin, kamu yang di atas. Mungkin karena Bi Nah sudah tua ya, jadi cepat cape,” katanya.
“Bi Nah belum tua, kok. Masih cantik dan montok..,”
“Ah bisa saja kamu,”
“Bener. Saya pengin terus bisa begini sama Bi Nah,” kataku lagi.
“Bisa Rin, bisa. Pokoknya kalau lagi tidak ada Pak Was dan Pak Dal, Bi Nah pasti siap ngentot sama kamu kapan saja,” ujarnya.

Masih di atas tempat tidur, kini aku bersiap menindih Bi Nah yang telentang mengangkang. Namun tidak seperti sebelumnya, penisku kali ini sulit masuk kendati telah kutekan ke lubang vaginanya. Ia memang sempat menyeka dan membersihkan memeknya menggunakan kain sprei. Mungkin karena itu lubang kemaluannya jadi kering dan menjadi sulit diterobos.
“Sini Rin kontolmu Bi Nah kulum dulu biar basah. Jadi nanti masuknya mudah,” kata Bi Nah setelah aku berkali tak berhasil menusuk liang sanggamanya. Ia bangkit dan mulai mengulum batang penisku yang keras dan berotot melingkar di sekujurnya. Oleh Bi Nah, sekujur batang penisku seolah diguyurinya dengan ludah.

Hasilnya, saat kutusukkan, penis berlumur ludah itu jadi lebih gampang masuk. Maka mulailah aku menggoyang dan memain-mainkan penisku di lubang nikmatnya. Hempasan tubuhku yang mulai naik-turun di atas tubuhnya menimbulkan bunyi seperti decakan karena kemaluan kami yang beradu. Dan sambil melakukan itu, tidak puas-puasnya aku meremasi sepasang susunya yang besar. Putingnya kujilati dan kusedot-sedot penuh nikmat. Variasi sodokan kontolku dan remasan di payudaranya membuat Bi Nah menggelinjang dan merintih.

“Aauuhh.., aauuhh.., oohh.., oohh enak sekalikontol kamu Rin. Ya.. terus sedot susu Bi Nah.., aahh.. ookkhh,” rintihnya sambilmenahan nikmat yang dirasakan. Ia terus merintih dan mendesah setiap kali batang penisku kusentakkan di lubang vaginanya.

Serangan balik Bi Nah tak kalah garang. Mengikuti irama turun naik penisku di lubang memeknya, pantatnya kembali digoyang. Bahkan dinding-dinding vaginanya seperti ikut bekerja. Menjepit dan meremas mengikuti irama goyangannya. Akibatnya kami sama-sama terbuai dengan kenikmatan yang tengah kami ciptakan. Kepala penisku mulai berdenyut setiap menerima reaksi jepitan dinding vaginanya.

Sampai akhirnya, gerakan kami menjadi liar. Goyangan pinggul dan pantat Bi Nah semakin cepat dan seolah kehilangan irama. Sama dengan gerakan turun naik tubuhku yang kian terpacu. Dan puncaknya, pertahanan kami sama-sama ambrol. Bi Nah memeluk erat tubuhku setelah mengejang hebat dan cengkeraman di lubang memeknya berubah menjadi menyedot dengan kuat. Maka seiring dengan itu, muncrat pula mani yang kutahan. Kami sama-sama mengerang menahan nikmat yang tiada tara dan akhirnya ambruk terkulai. Saat itu sungsum tulangku serasa dilolosi dan tenagaku habis terkuras.

Sejak malam itu, seperti halnya Pak Dal, aku menjadi kekasih gelap Bi Nah. Dan seperti janjinya, Bi Nah memang tidak pernah menolak setiap aku meminta layanannya. Bahkan ia yang lebih sering mengajak bila tengah tidak melayani Pak Was suaminya atau Pak Dal. Kami leluasa melakukannya di siang hari saat keduanya mencari nafkah.

Hubunganku dengan Bi Nah terputus setelah aku merantau dan menetap di kota lain. Ah, Bi Nah..
Tamat

Mei 6, 2008. Tag: . Cerita-cerita Erotis. 3 komentar.

Bi Asih

Gue Mau cerita pengalaman pertama kali gua melakukan hubungan sex.
waktu itu itu umur gua masih relatif muda kira-kira 14 tahun masih duduk di SMP
kelas 3
Sejak SD gue sudah sering baca buku buku porno yang stensilan pinjem dari
temen-temen gue.
Gue juga sering ngeliat foto-foto porno orang lagi begituan…
kalo udah baca buku porno wah burung gue keras banget dan tegang sekali rasanya
ada seer serrr gitu dikepala burung gua yang kayak helm bentuknya.
Gue adalah anak ketiga kakak gue dua-dua adalah cewek, waktu itu kakak gue dua
duanya udah pada menikah karena umur mereka ama gue cukup jauh sekitar beda 10
tahun dari kakak gua yang paling bungsu. Dan mereka sekarang tinggal ama
suaminya masing-masing. Jadi gua dirumah tinggal ama ibu dan bokap gua
bertiga….
Gua termasuk anak yang bongsor.. karena untuk ukuran kelas 3 SMP badan gua udah
lebih tinggi dari babeh gue, trus juga tulang-tulang gua termasuk kekar dan
besar……
Tapi yang paling gua ngak tahan adalah itu tuch penis gua kalo lagi tegang ..
Gedeee banget….
pernah gua ukur ama temen gue waktu itu kita sama sama telanjang di kamar mandi
kolam renang..
dan waktu di banding ama temen-temen gue, gue punya paling panjang dan gede…
dan pernah gua ukur waktu itu kira-kira panjangnya 17 Cm…
Yang paling gua ngak tahan adalah kalo lagi di kelas gua suka perhatiin ibu Ina
guru Bahasa Inggris… kadang-kadang tanpa sadar kalo gua liat itu ibu guru lagi
duduk dan pahanya yang putih agak sedikit tersingkap … burungku langsung
mengeras… dan menonjol kedepan… kalo lagi gitu gue berdoa moga-moga jangan
di suruh kedepan kelas…
Gue punya temen deket sekelas namanya Joko, kita punya hobi dan hayalan yang
sama… sering cerita tentang buku porno yang kita baca, dan kita juga sama-sama
tergila-gila ama ibu guru Ina yang berasal dari tanah minang. Kalo ibu guru ina
lagi nulis di papan kita berdua suka cekikikan memperhatikan betis ibu ina yang
indah, putih dan berisi dan pinggulnya juga cukup besar dan padat.
Gilanya kita berdua suka menghayal menjadi kekasih ibu ina dan melakukan
hubungan sex seperti yang di buku-buku porno dengan ibu ina… wah kalo lagi
menghayal berdua… burung kita ampe keras banget..
Temen gue si joko pernah nyarannin gue … eh Bram lu kalo mau tau rasanya
hubungan sex ama ibu ina gampang.. caranya lu di kamar mandi bayangin Ibu ina..
terus lu kocok burung lu pake sabun.
karena pengen tau waktu itu gue coba…wah memang enak mula-mula… burung gue
makin lama makin gede dan keras seperti batu… tapi udah gue kocok-kocok ampe
sejam lebih kok ngak keluar-keluar .. akhirnya gua bosan sendiri dan cape
sendiri…. trus besoknya gue cerita ama joko .. dia bilang wah ngak normal
loe…. sejak itu beberapa kali gue coba pake sabun tapi ngak pernah
berhasil…. akhir gua jadi males sendiri… ngocok pake sabun.
Nah ini awal mula cerita gue… waktu itu pembantu rumah tangga gua keluar, trus
ibu dapet lagi pembantu baru berasal dari Tasikmalaya, orang sunda, umur nya
kira-kira 27 tahun. Orangnya memiliki kulit kuning langsat wajahnya cukup cantik
apalagi kalau lagi tersenyum giginya putih terawat baik.
waktu baru mulai kerja aku nguping wawancaranya ama ibu gue, bahwa dia adalah
janda tapi belom punya anak dia cerai ama suaminya 3 tahun yang lalu, suaminya
adalah orang kaya di kampung itu tapi umurnya waktu kawin ama bi Asih udah
berusia 60 tahun dan dia menikah kira-kira 4 tahun, sekarang cerai karena
suaminya balik lagi ama bininya yang tua.
Aku memanggil dia bibi Asih… dia pinter masak masakan kesukaanku seperti sop
buntut wah enak banget masakannya. Orangnya sopan dan ramah sekali.. hampir ngak
pernah marah kalo di goda … ngak seperti mbok laskmi pembokat gua yang
sebelumnya… udah tua tapi cerewetnya minta ampun.
Bibi Asih sudah 3 bulan kerja di rumahku.. nampaknya dia cukup betah karena
kerjaannya juga ngak terlalu banyak cuma ngelayani gue, nyokap dan bokap gue.
Nah waktu itu adalah hari Jum’at… inget banget gua……. Nyokap gue dapet
telepon dari jakarta bahwa kakak gue yang nomor dua sudah masuk rumah sakit
bersalin mau beranak anak yang pertama.
Mereka pergi dengan Sopir kantor babe gue ke jakarta jum’at sore…
Aku ngak ikut soalnya sabtu besok aku ada pertandingan bola basket di sekolahan.
Jum’at malem aku sendirian di kamar ku baca buku porno sendirian di kamar… wah
cerita bagus sekali sambil membaca aku memegang burungku wah keras
sekali………
Kira-kira waktu itu sudah jam 9.00 malam… badanku terasa gerah.. habis baca
buku begituan… aku keluar kamar untuk mendinginkan otakku … kebetulan
kamarku dan kamar bi Asih tidak terlalu jauh … dan aku melihat pintunya agak
sedikit terbuka…..
Tiba-tiba timbul pikiran kotorku… ah pingin tau gimana bi Asih tidurnya…
trus aku berjingkat-jingkat mendatangi kamar tidur bi Asih.. pelan pelan aku
dorong pintunya…. dan mengintip kedalam ternyata Bi Asih sedang tertidur
dengan pulasnya… lalu aku masuk kedalam kamarnya…
Kulihat Bi Asih tidur terlentang… kakinya yang sebelah kiri agak di tekuk
lututnya keatas… dia tidur menggunakan jarik kebaya tapi tidak terlalu ketat
sehingga betisnya agak tersingkap sedikit… aku perhatikan betisnya… kuning
bersih dan lembut sekali…. kemudian aku coba mengintip kedalam kebayanya…wah
agak gelap hanya terlihat samar-samar celana dalam berwarna putih.
Aku menarik napas dan menelan ludah… aku perhatikan wajah bi Asih kalo-kalo
dia bangun tapi dia masih tidur dengan lelap… lalu aku memberanikan diri
memegang ujung kain kebayanya yang dekat betisnya tersebut… sambil menahan
napas aku angkat pelan-pelan kain kebaya tersebut keatas… terus kusibak
kesamping…. dan akhirnya terbukalah kain kebaya yang sebelah kiri dan
tersingkap paha bi Asih yang padat dan putih kekuning-kuningan… Aku kagum
sekali melihat pahanya bi Asih padat, putih dan berisi ngak ada bekas cacatnya
sedikitpun juga… lalu aku pandang lagi wajah bi Asih ..ah dia masih lelap…
aku memberanikan diri lagi membuka kain kebaya yang sebelah kanannya… pelan
pelan aku tarik kesamping kanan… dan wah akhirnya terbuka lagi… kini di
hadapan ku tampak kedua paha bi Asih yang padat dan kuning langsat itu…… aku
semakin berani dan pelan-pelan kain kebaya yang di ikat di perutnya bi Asih aku
buka perlahan-lahan… keringat dingin aku rasa menahan ketegangan ini… dan
burung ku semakin keras sekali …. akhirnya aku berhasil membuka ikatan itu..
lalu kebuka kekiri dan kekanan… kini terlihat bi Asih tidur terlentang dengan
hanya di tutupi celana dalam saja…..
Aku benar-benar bernafsu sekali saat itu….
Kulihat perut bi Asih turun naik napasnya teratur.. kulihat pusarnya bagus
sekali… perutnya kecil kencang ngak ada lemaknya sedikitpin juga.. agak
sedikit berotot kali…. pinggulnya agak melebar terutama yang di bagian
pantatnya agak sedikit besar.
Bi Asih memakai celana nylon warna putih dan celana itu kayaknya agak sempit..
mungkin ketarik kebelakang oleh pantatnya yang agak gede.. jadi pas di bagian
kemaluannya itu ngepas banget sehingga terbayang warna bulu bulu jembutnya yang
halus… ngak terlalu banyak… dan bentuk kemaluan Bi Asih lucu juga agak
sedikit menggunung kayak bukit kecil…….
Pelan pelan aku sentuh vagina bagian atasnya… tersasa empuk dan hangat…
terus pelan-pelan kucium tapi tidak sampai menempel kira-kira 1 milimeter di
depan vagina tersebut.. wah ngak bau apa-apa.. cuma agak terasa hangat aja
hawanya…. Kupandangi lagi vagina yang menggunung indah itu… wah pingin
rasanya aku remas tapi aku takut dia bangun…. Kulihat dia masih tidur nyenyak
sekali.. dan kulihat dadanya membusung naik turun… ahhh aku pingin tau gimana
sich bentuk tetek dari bi Asih……Pelan pelan kubuka baju bi Asih.. ngak
terlalu sulit karena dia hanya pakai peniti saja tiga biji… dan satu satu
kubuka peniti tersebut… lalu angkat geser kesamping bajunya… wah terlihat
dada sebelah kiri dan kubuka baju yang sebelah lagi… Kini bi Asih betul betul
hampir telanjang tidur telentang di hadapanku…
Ahh baru pertama kali dalam hidupku menyaksikan hal seperti ini… BH bi Asih
nampak sempit sekali menutupi buah dadanya yang padat dan berisi…. Aku
perhatikan buah dadanya… naik turun.. dan kulihat ternyata BH tersebut punya
kancing cantel dua buah di depannya pas di tengah-tengah di depan belahan dada
tersebut… dengan agak gemetar aku pelan buka buka cantelan itu….. satu
lepas… dan waktu mau buka yang satu lagi bi Asih bergerak.. wah aku kaget
sekali.. tapi dia ngak bangun kali lagi mimpi…
lalu aku memberanikan lagi membuka cantelan yang satu lagi…. dan akhirnya
terbuka…..
Aduh susunya indah sekali bentuknya besar hampir satu setengah kali bola tenis
kali… terus warna pentilnya agak merah muda… bentuk susunya betul-betul
bulat.. menonjol kedepan..
Aku pandangi terus kedua buah dada tersebut …indah sekali… apalagi bi Asih
pakai kalung tipis warna kunig emas dan liontinnya warna ungu itu pas deket buah
dadanya… serasi sekali….
Aku semakin bernafsu… jantungku bedegup kencang sekali.. pingin rasanya
meremas buah dada tersebut tapi takut bi Asih bangun dan apa yang harus
kulakukna bila dia bangun… aku mulai takut saat itu…. akan tetapi hawa
nafsuku sudah memmuncak saat itu. hingga lupa ama rasa malu tersebut… kini bi
Asih udah setengah telanjang.. tinggal celana dalamnya saja… aku pingin tau
juga kayak apa sih yang namanya memek itu… terus terang aku seumur itu belum
pernah melihat memek asli kecuali di foto…
Aku cari akal gimana ya… tiba-tiba aku lihat di meja bi Asih ada gunting
kecil… wah aku ada akal.. nih
ku ambil gunting tesebut… lalu pelan-pelan aku masukan jari telunjukku ke
samping celana bi Asih di dekat selangkangannya… aku tarik pelan-pelan agar
dia ngak bangun… terlihat selangkangannya berwarna putih bersih.. setelah agak
tinggi aku tarik celana nylon tersebut aku masukan gunting dan pelan pelan aku
gunting celana dalam tersebut.. ada kali 10 menit aku lakukan itu akhirnya…
segitiga yang pas didepan memek bi Asih putus juga ku gunitng… dan aku singkap
calana dalam tersebut ke atas…..
Kini aku betul-betul melihat kemaluannya Bi Asih tanpa sehelai benang pun…
memeknya bentuknya rapat sekali kayaknya ngak ada lobangnya… bulunya halus
tipis… samping-samping bibir kemaluan tersebut putih bersih agak sedikit
gelembung tapi belahannya betul-betul rapat…
Wah aku betul-betul udah nafsu buta saaat itu… Aku bingung gimana nich…
pingin pegang memek tersebut tapi takut dia bangun… Ah aku nekat karena udah
ngak tahan… lalu aku buka celana pendek ku dan celana dalamku….. wah penisku
udah gede banget kayak batu panjang dan keras.. lalu aku gosok-gosok burungku
pakai tanganku sendiri sambil ngeliatin tetek bi Asih dan dan memeknya….wah
tersasa nikmat sekali.. rasanya burungku sampai bunyi greng.. greng gitu.. dan
nikmat sekali… rasanya seperti mau pipis.. tapi ngak keluar-keluar. aku gosok
lagi yang keras sambil ngebayangin kalo penisku itu sudah berada di dalam
memeknya bi Asih… tapi ngak bisa juga keluar… ada kali 15 menit aku
gosok-gosok burungku….
akhirnya aku udah ngak tahan dan nekat.. pelan-pelan aku naik tempat tidur bi
Asih……
Aku ingat seminggu yang lalu bi Asih pernah dibangunnin oleh ibu gua jam sepuluh
malam waktu itu ibu gua mau minta tolong di kerokin.. nah bi Asih ini waktu di
ketok-ketok pintuhnya ampe setengah jam baru bangun.. dan dia minta maaf katanya
bahwa emang dia kalo udah tidur susah di bangunin nya…
Inget itu aku jadi agak berani mudah-mudah malam ini juga dia susah bangun…
lalu dengan sedikit agak nekat aku angkat dan geser paha bi Asih yang sebelah
kanan terus melebar.. wah untung dia ngak bangun juga.. bener-bener nich bi Asih
dalam hatiku punya penyakit tidur yang gawat.. aku geser terus sampai maksimal
sehingga kini dia benar benar mengkangkang posisinya… aku berlutut tepat di
tengah-tengah selangkangannya…….pelan-pelan aku tempelkan burungku di
memeknya bi Asih… tapi lubangnya kok ngak ada… aku agak bingung ….
pelan-pelan belahan daging itu ku buka pakai jari ku.. terlihat daging warna
merah jambu lembut dan agak sedikit basah.. tapi ngak keliatan lubang.. hanya
daging berwarna merah muda dan ada yang agak sedikit menonjol kayak kacang merah
bentuknya.. aku berfikir mungkin ini yang dinamakan itil oleh kawan-kawanku….
aku buka terus sampai agak kebawah dan mentok ngak ada belahan lagi… ternyata
emang ngak ada lubangnya… aku bingung….. wah gimana nich……..
tapi aku udah nafsu banget.. lalu pelan-pelan kutempelkan helm burungku ke
vagina bi Asih ternyata…ukuran helmku itu kayaknya kegedean sekali sehingga
boro-boro bisa masuk….baru di bagian luarnya saja rasanya belahan memek bi
Asih udah ngak muat….
tapi ku pikir udah kepalang basah aku tempel aja helm burung ku ke memek bi
Asih.. wah ngak bisa masuk hanya nempel doang… tapi aku bisa merasakan
kelembutan daging bagian dalam memeknya bi Asih… enak sekali hangat….. aku
gosok pelan-pelan……. dan memek bi Asih agak buka dikit tapi tetap aja kepala
burungku ngak bisa masuk… makin lama makin enak… aku benar-benar udah lupa
daratan … dan gosokanku semakin kencang dan agak sedikit menekan kedalam…
aku ngak sadar kalo bi Asih bisa bangun… akhir bener juga ketika aku agak
tekan sedikit bi Asih bangun dan dia sepertinya masih belum sadar betul.. tapi
beberapa detik kemudian dia baru aja sadar akan keadaan ini…. dia menjerit
den. Bram ngapain… aduh den ngak boleh den.. pamali dia bilang.. terus dia
dorong tubuh ke samping dan cepat-cepat dia menutup buah dadanya dan
kemaluannya…. den jangan…. den.. keluar…. den…
Aku seperti di sambar petir saat itu.. muka merah dan maluuuu banget ngak
ketulungan… aku ambil celanaku dan lari terbirit-birit keluar….. langsung
masuk kamar……rasanya mau kiamat saat itu… .. bingung banget… gimana ntar
kalo bi Asih ngadu ke orang tua gua…. wah mati gue….. …..
Besok paginya aku bangun pagi-pagi… terus mandi… ngak pake sarapan aku pergi
kesekolah……
di sekolah aku lebih banyak diam dan melamun… bahkan ada temen gua yang
godaain gue dengan mengolok gue… gue tarik kerah bajunya dan hampir gue tabok
untung keburu di pisahin ama temen gue…dan waktu pertandingan basket… gue..
di keluarin soalnya gue tonjok salah satu pemain yang dorong gue…. wah bener
bener kacau.. pikiran gue saat..itu.
Biasanya gue pulang sekolah jam 12.30… tapi aku ngak langsung pulang tapi main
dulu kerumah temen gue ampe jam 5 sore baru gua pulang……
Ampe dirumah… bi Asih udah menunggu di depan rumah… dia menyambutku… kok
lama sekali pulangnya den .. bi Asih sampe khawatir….. tadi ibu telepon dari
Jakarta bilang bahwa mungkin pulang ke Bandungnya hari senin sore… soalnya mba
Rini (kakakku) masih belum melahirkan, diperkirakan mungkin hari minggu besok
baru lahir.
Aku hanya tersenyum kecut.. dalam hatiku wah bi Asih ngak marah sama aku… baik
sekali dia… …
aku langsung masuk kamar… dan mandi sore…… terus tiduran di kamar…..
Jam 7.00 malam bi Asih ketuk kamarku den.. den… makan malamnya udah siap….
Aku keluar dan santap malam… lalu setelah selesai aku nonton TV.. bi Asih
beres-beres.. meja makan…
selama dia memberekan meja.. aku mencuri-curi pandang ke bi Asih… ah dia
ternyata cukup cantik juga…badannya sedang tidak tinggi dan bisa di bilang
langsing.. hanya ukuran dada dan pinggul bisa dibilang cukup gede……. bener
bener seperti gitar……setelah selesai aku panggil dia… bi. bi…. tolong
dong aku di bikinin roti bakar.. aku masih laper nich…baik den…. terus dia
bikiin aku roti bakar dua tangkap….dan menghidangkannya di depan aku….dan
langsung mau pergi….. tapi aku segera panggil lagi bi Asih jangan pergi dulu
dong…….dia Jawab ada apa den…. ehmmmm itu bi emmm bi Asih tadi cerita ngak
ama ibu soal semalam….. dia senyum wah mana berani bibi cerita…. kan kasian
den Bram…. lagian kali bi Asih juga bisa kena marah….wah lega hatiku… bi
Asih makasih ya.. dan maaf ya yang tadi malem itu…maaf celana bibi Asih
rusak.. soalnya… emmm soalnya…. aku ngak tau harus ngomong apa…..Tapi
kelihatannya bi Asih ini cukup bijaksana… dia langsung menjawab iya dech den
bi Asih ngerti kok itu namanya aden lagi puber… ya khan…aku tertawa.. ah bi
Asih ini sok tau ah…. dia juga tersenyum terus bilang den hati-hati kalo lagi
puber…jangan sampai terjerumus…… Kembali aku tertawa… terjerumus ke
mana… kalo ke tempat yang asyik sich aku ngak nolak… bi Asih melotot eh
jangan den… ngak baik…. Terus bi Asih langsung menasihati aku… dia bilang
maaf ya den Bram menurut bibi .. den Bram ini orangnya cukup ganteng… pasti
banyak temen-temen cewek den Bram yang naksir… bi Asih juga kalo masih sebaya
den mungkin naksir juga ama den Bram hi hi hi nah den Bram harus hati-hati..
jangan sampai terjebak… trus di suruh kawin… hayo mau ngasih makan apa…
Tiba-tiba ada semacam perasaan aneh dalam diriku aku ngak tau apa itu…. trus
aku jadi agak sedikit berani dan kurang ajar ama bi Asih….. Aku pandang
dia…. terus aku bertanya… bi … bi Asih khan udah pernah kawin khan…
gimana sich bi rasanya orang begituan…….bi Asih nampak terbelalak matanya
dan mukanya agak besemu merah… trus aku sambung lagi .. jangan marah ya bi..
soalnya aku bener-bener pingin tau katanya temen-temenku rasanya kayak di sorga
betul ngak… bi Asih diam sebentar… ah ngak den selama bi Asih kawin 4
tahun.. bibi ngak ngerasa apa-apa… maksudnya gimana bi….masa bibi ngak
begituan ama suami bi Asih… eh maksud bibi.. iya begituan tapi.. ngak sampai 1
menit udah selesai…..
Aku semangkin penasaran.. ah masa bi… terus itunya suami bibi ampe masuk
kedalam ngak…..
EEhhh ngaco kamu… dia tertawa tersipu-sipu… ehmm ngak kali ya… soalnya
baru didepan pintu udah loyo…. hi hi…..eh udah ah jangan ngomong begituan
lagi.. pamali dia bilang… lagian bi Asih khan udah cerai 3 tahun jadi udah
lupa rasanya…. sambil tersenyum dia mau beranjak bangun dan pergi….
ehh bi bi..bi tunggu dong… temenin aku dulu dong…. trus dia bilang eh udah
besar kok masih di temenin bibi udah cape nich… tapi setelah ku bujuk-bujuk
akhirnya dia mau menami ku nonton TV dan ngobrol ngalor ngidul ngak terasa udah
jam 9.00 malam.. diluar mulai hujan deras sekali… dingin juga rasanya… bi
Asih pandai juga bercerita… cerita masa remaja dia… rupanya dia sempat juga
mengeyam pendidikan sampai kelas 2 SMP…….
Aku duduk di sofa panjang.. bi Asih duduk di karpet bawah… terus aku panggil
dia bi sini dech…
tolong liatin dong ini ku di bagian pinggang belakang kok agak nyeri… bi Asih
datang dan pindah ke sofaku.. mana den ini nich aku tarik tangannya kepingang
belakang ku… .. trus dia dia bilang ngak ada apa-apa kok… ….Saat itu
tiba-tiba timbul lagi pikiran mesumku mengingat kejadian malam kemarin dan bi
Asih ngak marah… kalo sekarang aku agak nakal dikit pasti bi Asih ngak bakalan
marah….
Lalu aku bilang ini bi Asih tapi bi Asih matanya meram ya… soal aku malu
keliatan bodongku… dia tersenyum dan menganguk… lalu memeramkan matanya….
nah ini aku pikir kesempatanku…..
aku pegang kecang-kencang pergelangan tangan bi Asih… lalu aku buka resleting
celanaku dan aku tarik kebawah celana dalamku…. burungku masih setengah besar
belum gede banget……..
Lalu aku tarik tangan bi Asih dan letakkan di ata burungku…. dia bilang ehhh
apa ini… trus aku bilang eh awas jangan buka matanya ya… dia nganguk dan
tanya lagi apa sich ini kok anget…
Begitu tersentuh tangan bi Asih menaraku mulai berdiri dengan gagah sekali dan
mulai membesar cepat sekali… rupanya bi Asih curiga .. dan membuka mata… eh
pamali dia bilang…. tapi aku tahan terus tangannya dan aku pandangi mata bi
Asih.. dia tersnyum malu dan tersipu.. dengan lirih dia bilang jangan den ngak
sopan….tapi aku bilang tolong dong bi… pingin banget dech…..
Kayaknya bi Asih kasian sama aku… dia mengangguk… dan bilang.. cepetan ya
den sebentar aja jangan lama-lama dan ngak boleh macam-macam…ntar kalo orang
tua aden tau bi Asih kena marah.. dan dia bilang eeeh ih kok gede banget sich
den…iya jawabku singkat…lalu tangan bi Asih menggenggam burungku dengan
lembut dia gosok-gosok dari ujung kepala sampai kepangkal burungku… kira-kira
10 menit… dengan agak serak dia bilang udah belom den…..
Saat itu aku merasa melayang… dan ntah gimana tiba-tiba keberanianku timbul…
aku pegang lengan bi Asih terus naik ke bahu… leher.. pelan-pelan turun ke
dadanya… dia bilang eh den mau apa… tapi aku pura-pura ngak denger tanganku
terus turun dan sampai kedadanya yang agak membusung kedepan.. bi Asih agak
sedikit bergetar badannya.. dia bilang dengan halus jangan den….jangan. tapi
dia tidah menepis tanganku… aku semakin berani… pelan-pelan aku remas
dadanya kiri kanan bergantian… nampak napas bi Asih agak memburu.. aku semkin
berani lagi… teringat akan bentuk buah dadanya yang indah tadi malam.. maka
dengan sedikit nekat tangan ku mulai masuk ke BH nya ……
ah susunya terrasa lembut sekali…bi Asih bilang lagi dengan lirih… den
jangan …. aku ngak perduli….
lalu aku buka baju atas bi Asih dan ku buka juga BH nya… mula-mula bi Asih
menolak untuk di buka tapi dengan agak sedikit maksa akhirnya dia pasrah… dan
terbuka bagian atas badan bi Asih… susunya munjung membusung kedepan besar,
putih dan bundar…. lalu mulai kuremas-remas bi Asih agak sedikit
menggeliat…..napasnya memburu ……..aku ingat akan buku porno yang kubaca…
lalu aku coba praktekkan…. ya itu aku mencoba mencium pentil dari teteknya bi
Asih dan lalu aku emut-emut seperti mengemut permen…… wah kayaknya bi Asih
kenikmatan banget… napasnya memburu dan agak sedikit terengah-engah… waktu
aku kenyot lagi pentilnya dia pegang kepalaku dan bilang den.. udah den…
udah…. ah bi Asih ngak tahan… katanya…..
aku malah semakin semangat seluruh teteknya bi Asih aku jilatin aku kulum-kulum
aku emut-emut…..
bi Asih semakin gelisah dan tangannya yang tadi mengocok-ngocok burungku kiri
terhenti bergerak dan hanya meremas burungku dengan kencang sekali… agak sakit
juga rasanya tapi aku biarin aja….
Supaya lebih enak akhirnya aku buka baju atas bi Asih aku ciummi lehernya,
bahunya yang putih….
dan aku buka seluruh celanaku…sehingga bi Asih bebas memegang burungku dan
telurku bergantian….
Adegan ini cukup lama juga berlangsung hampir sejam… kali aku liat jam diding
udah jam 10.30….
Lalu aku rebahkan bi Asih di sofa panjangku.. mula-mula dia agak sedikit nolak
tapi aku dorong dengan tegas dan lembut dia akhirnya nurut aja… kini aku lebih
leluasa lagi menciumi buah dadanya bi Asih…. pelan-pelan agak turun … aku
ciummi perut bi Asih…. dia tampak agak kegelian…. aku semangkin
terangsang… aku ingat-ingat apa lagi yach yang harus dilakukan seperti di
buku-buku porno…
Akhirnya pelan-pelan aku buka kain kebaya bi Asih… dia bilang eh den jangan
mau apa… ngak bi tenang aja dech. aku bilang.. akhirnya kain bi Asih copot
sudah dan aku buang jauh-jauh…dia tinggal memakai celana dalam saja…. eh..
biarpun dia ini orang desa… tapi ternyata badannya bagus banget seprti gitar
dan mulus banget. betisnya indah, pahanya kencang sekali… mungkin sering minum
jamu kampung sehingga badannya terawat baik…..
Aku ciummi perut bi Asih terus turun kebawah… dan terus kebagian
kemaluannya…. dia tampak mendorong kepalaku… jangan den… tapi lagi-lagi
aku paksa akhirnya dia diam.. setelah dia agak tenang aku mulai beraksi lagi..
celana dalamnya kutarik turun… wah ini dia betul-betul melawan dan ngak kasih
aku kesempatan dia pegangin celananya itu… tapi aku terus berusaha… adu
tarik dan akhirnya.. setelah cukup lama dia menyerah tapi tetapnya tangannya
menutupi kemaluannya… pelan-pelan aku ciummi tangannya akhir mau minggir juga
dan kuciumi kemaluannya… bi Asih tampak mengelinjang.. dan dia bilang jangan
den… jangan den…. tapi aku ciumi terus….akhirnya suaranya itu hilang yang
terdengar hanya napasnya aja yang terengah engah…. dibagian tengah memek agak
keatas memek bi Asih ada daging agak keras seperti kacang… mungkin itil… nah
itilnya ini aku jilat-jilat dan kadang-kdang aku emut-emut dengan bibirku…
Aku ciumi terus memek bi Asih.. dan tau tau aku merasakan sesuatu yang agak
basah dan bau yang khas.
bi Asih tampak menggoyang-goyangkan kepalanya dan pantatnya mulai goyang-goyang
juga…
cairan yang keluar dari memek bi Asih makin banyak aja.. dan makin licin….
Ah aku udah ngak tahan lagi rasanya…lalu kubuka kaos bajuku… dan aku juga
sekarang sama bugilnya dengan bi Asih…aku periksa lagi memek bi Asih.. yach
masih seperti tadi malam ngak keliatan lobang apa-apa cuma daging-daging merah
jambu mengkilat karena basah… aku coba tusuk pakai jari tanganku dan eh ada
juga lubangnya tapi kecil banget pas sejari tanganku ini, rupanya lubang itu
tertutup oleh lapisan daging… aku pikir-pikir apa cukup ya lubang ini kalo di
masukin penisku…
Aku penasaran lalu aku bangun dan belutut di pinggir sofa dan burungku aku arah
kan ke memek bi Asih
bi Asih nampak terkejut melihat aku telanjang bulat dan dia hendak mau bangun…
dan bilang den jangan sampai ketelanjuran… ya ngak boleh… aku bilang iya bi
tenang aja… aku cuma mau ngukur aja kok…
dan dia percaya lagu rebahan lagi… sambil bilang janji ya den jangan di
masukkin punya aden ke liang nya bi Asih… iya jawabku singkat… lalu aku
ukur-ukur lagi lubang memek bi Asih dengan penisku ternyata memang penisku ini
ngak normal kali.. karena jangankan lubang yang didalan tadi itu yang seukuran
jari telunjukku besarnya… bibir bagian luarnya aja ngak muat… aku mulai
berfikir … wah bener kata joko aku ini ngak normal….. trus aku bilang ke bi
Asih…. bi kok kayaknya lubangnya bi Asih mampetnya… ngak ada lubangnya… bi
Asih mengangkat kepala… tau ya… dulu juga burungnya suami bibi rasanya ngak
pernah masuk sampai kedalam…
wah aku pikir yang normal aku atau bi Asih nich… tapi dasar udah nafsu
banget… ngak ada lubang …. lubang apapun jadi dech aku pikir… memek bi
Asih semakin basah aku pegang-pegang terus… lalu aku tarik bi Asih bangun dan
ku ajak ke kamar orang tuaku… dia menolak ech jangan den… ngak apa-apa aku
bilang…. aku paksa dia kekamar orang tuaku dan aku rebahkan dia di tempat
tidur spring bed… kebetulan tempat tidur itu menghadap ke kaca jadi aku bisa
liat di kaca… lalu aku naik di atas tubuhnya bi Asih… dan bi Asih agak
sedikit meronta.. den kan janji ya ngak sampai di gituin…. iya dech aku
bilang….
Aku lalu turun dari tubuh bi Asih dan berlutut disamping tempat tidur lalu
kutarik ke dua kaki bi Asih sampai pantat bi Asih tepat dipinggiran tempat tidur
lalu aku ciumi lagi memek bi Asih … dia kelihatannya senang diciumi lalu aku
praktekkan apa yang aku baca di buku porno … aku masukan lidahku di sela-sela
memek bi Asih .. terasa hangat dan basah .. lalu aku mainkan lidahku.. aku
jilat-jilat seluruh daging berwarna merah muda yang ada di dalam memek bi
Asih… aku jilat terus dan kadang kadan aku sedikit hisap-hisap bagian itilnya
itu… bi Asih tampak kegelian dan menggoyang-goyangkan pantatnya ke atas
seolah-olah hendak mengejar lidahku…. terasa semakin basah memek bi Asih dan
mungkin sudah banjir kali dan semakin banyak cairannya… semakin
licin……….aku lalu bangun……dan aku dorong lagi bi Asih ketengah tempat
tidur dan aku timpah lagi tubuhnya…….
Aku ciumi lagi tete bi Asih yang keras dan kenyal itu… dia nampak mulai
menikmati lagi dan agak sedikit mengerang-erang dan mengelus elus rambut
kepalaku…. pelan-pelan aku kangkangin paha bi Asih mula-mula dia agak melawan
tapi akhirnya pasrah… dan kutaruh penisku tepat di tengah-tengah vagina bi
Asih…pelan-pelan aku dorong.. dorong penisku ke vagina bi Asih… yang sudah
mulai banjir dan mulai licin… aku merasa bahwa sekarang helm penisku sudah
mulai terjepit oleh bibir memeknya bi Asih tapi tetap belum bisa masuk… pelan
pelan aku tekan agak keras bi Asih tampak agak menggelinjang dan bilang aduh den
jangan di toblos den… aku ngak perduli aku tekan lagi tapi susah juga rasanya
sampai dekok kedalam vagina bi Asih tapi belum mau tembus juga… aku tarik lagi
sedikit kebelakang dan dorong lagi tetap seperti tadi … tapi aku ngak menyerah
aku tarik dorong tarik dorong ada kali 10 menitan.. dan waktu aku tarik-dorong
itu terdengar bunyi ceprak..ceprok..ceprak… rupanya vagina bi Asih bener-bener
banjir… dan tiba-tiba aku mulai merasakan ada celah yang terbuka…. aku makin
semangat tarik dorong tarik dorong… bi Asih nampak mulai merem melek
matanya… dan matanya membalik balik kebelakang….mulutnya mendesis desis…
aku jadi semakin nafsu lalu aku kulum bibir bi Asih.. dia menyambut ciumku
dengan hot sekali.. baru pertama kali ini aku berciuman … jadi ngak tau
caranya tapi.. aku pake naluri aja aku isap-isap lidah bi Asih .. wah dia makin
membinal… dan celah di memek bi Asih makin terasa agak melebar… dan aku
merasa kalau aku tekan agak keras pasti helm burungku ini bisa masuk.. ke dalam
memek bi Asih… lalu aku ambil ancang-ancang… kebetulan kedua jari jempol
kaki ku bisa masuk di sela-selah tempat tidur sehingga aku punya pijakkan untuk
mendorong kedepan…
pelan-pelan aku hitung dalam hati sambil tarik dorong tarik dorong satu… dua
tiga…. empat …liiima
aku tekan yang keras penisku ke memek bi Asih bibir bi Asih yang masih ada di
dalam mulutku tiba… bersuara huhh…ehmmh hu
pelan-pelan aku hitung dalam hati sambil tarik dorong tarik dorong satu… dua
tiga…. empat …liiima aku tekan yang keras penisku ke memek bi asih,
sementara bibir bi asih yang masih ada di dalam mulutku tiba… bersuara
huhh…ehmmh huhuu dan bi asih memundurkan pantatnya kebelakang… dia memandang
ke padaku dan menggelengkan kepala …jangan… sakit… dia bilang… aku
mengangguk.. lalu aku mulai kerja lagi.. tarik dorong… belum mauk-masuk juga..
helm penisku… tapi akibat dorongang tadi kayaknya agak sedikit terbuka….aku
cari akal… wah gimana nich.. ya…. lalu kedua tanganku turun kebawah dan
kumasukan kebelakang pinggang bi asih lalu turun sedikit kuremas-remas pantat bi
asih yang besar … kayaknya dia tambah semakin terangsang… dan aku pikir ini
lah saatnya… aku pegang pantat bi asih keras-keras dan kutahan sekuat
tenaga..dan kuhitung lagi satu. dua tiga… tekaaaaannnnnn……… bi asih
tampak meronta-ronta… tapi aku ngak perduli terus kutekaaaaaaan dan blesssssss
penisku masuk kira-kira sepertiga… bi asih meronta lagi…mungkin merasa sakit
pada vaginanya karena penisku ukurannya kebesaran sekali sehingga aku juga
merasa bahwa kayaknya lubangnya bi asih kecil sekali sampai-sampai penisku ngak
bisa bergerak terjepit seperti mau dipress rasanya kurang enak juga sehingga bi
asih berusaha mendorong pinggulku keatas tapi aku lebih cepat lagi… kutarik
tanganku dari pantat bi asih dan ku pegang ke dua tangan bi asih dan kutarik ke
atas kepalanya dan kutahan… dia berusaha meronta… dengan mengeser pantat
kekiri dan kekanan tapi aku ngak mau lepas… aku ikuti arah pergerakan pantat
bi asih.. dia kekanan aku kekanan bi asih kekiri aku kekiri dia mundur aku
maju…. bi asih agah merintih-rintih dan seperti orang makan cabai pedas….
dia memang kuat pinggangnya… terus goyang kiri dan kanan …. tapi aku terus
tancap burungku yang udah masuk sepertiga ke memek bi asih…. akibat gerakan
bibi asih ini mula-mula penisku yang ngak bisa bergerak akibat terjepit memek bi
asih mulai bisa bergerak dan aku aku malah semangkin terangsang karena dengan
gerakan kiri-kanan gitu penisku terasa tersgesek-gesek oleh vaginanya bi asih.
terus aku panteng… penisku di dalam memek bi asih dan memang saat itu rasanya
lobang bi asih sempit sekali.. dan penisku terasa di emot-emot oleh memeknya bi
asih… Lama-lama gerakan bi asih agak melemah dan nafas agak terengah engah…
dan agaknya dia mulai bisa menerima kehadiran penisku di dalam memeknya dan
sakitnya mulai hilang….. Pelan-pelan aku mulai beraksi lagi kutarik sedikit
penisku keluar tapi buru-buru kutekan lagi kedalam. agar ngak lepas.. terasa
agak sempit tapi enak karena memek bi asih udah basah banget jadi agak licin dan
lancar pergerakkan penisku lalu aku terik sedikit..dan tekan kedalam.. kira-kira
5 menitan… aku melalukan hal itu aku benar-benar merasa nikmat sekali yang tak
terhingga… lalu dengan amat sangat bernafsu aku mulai menekan lagi penisku
agak masuk lebih dalam lagi… aku tarik dulu keluar sedikit lalu aku tekan
keras-keras kedalam bi asih menggelinjang.. dan bersuara … aduh.. huhh hmmm
tapi suara desahan itu malah makin merangsangku dan kutekan dengan keras lagi
dan .. blesssss masuk lagi penisku lebih dalam bi asih agak sedikit meronta..
mungkin agak sedikit nyeri… tapi aku ngak perduli aku tekan lagi lebih keras
lagi… cabut sedikit tekan lagi… bi asih agak meronta-ronta… aku semakin
nikmat sekali rasanya agak seperti mau kencing… aku semakin bersemangat… dan
dengan sekuat tanaga.. aku tekan tiba-tiba pantat ku kedepan …. dan bleessssss
penisku amblas kedalam memeknya bi asih…. bi asih agak sedikit menjerit..dan
berusaha mencabutnya dengan menggeser pantatnya kekiri dan kekanan lagi.. tapi
aku sudah samkin pintar aku tekan terus dan kuikuti pergerakannya…. setelah bi
asih ngak melawan lagi mulai aku cabut setengah dan kumasukin lagi .. begitu
berulang-ulang.. nampaknya bi asih mulai menikmati dan dia kelihatan menngejang
dan lalu memeluk aku keras-keras….. dan mulutnya mendesis desis… aku semakin
bersemangat… dan genjotanku semakin keras dan kencang…. dengan kedua kaki ku
kukangkangkan paha bi asih lalu aku genjot lagi penisku keluar masuk…..
kira-kira 10 menit.. bi asih mengejang lagi dan memelukku lebih kencang lagi..
kayaknya dia orgasme lagi…. dan… setelah itu dia kelihatan agak loyo… tapi
aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari penisku … aku semakin keras
mengocok penisku di dalam memek bi asih…dan kulihat dari kaca.. bagaimana
penisku keluar masuk memek bi asih… bila aku tekan… tampak memek bi asih
dekok kedalam dan bila aku tarik keluar kelihatan bibir memeknya ikut munjung ke
depan……… kira-kira…. 15 menit … aku merasa helm kepalaku agak panas
dan sret-sret…. ada sesuatu keluar dari penisku… aku merasa nikmat banget…
aku tekan keras-keras penisku di dalam memek bi asih… dan bi asih yang tadi
udah lemes tampak bersemangat lagi dan dia goyangkan pantatnya kekiri
kekanan…. aku semakin kenikmatan… dan tiba-tiba terasa lagi seeer serr ada
cairan keluar dari penisku… dan bi asih juga kelihatannya merasa nikmat
juga… dia seperti mencari-cari sesuatu… pantatnya naik-naik keatas dan
tiba-tiba dia mengejang dan memelukku keras sekali dan kedua pahanya melilit
keras di pingganku… seperti orang main gulat…. aku ngak berkutik ngak bisa
bergerak… dan terasa cairan dari dalam penisku semakin banyak keluar……. bi
asih semakin menggila dia mengigit.. gigit… bahuku…. dan menjerit lirih..
den.. enak sekali den……… aku peluk bi asih keras-keras….. dan kita
berpelukan kurang lebih lima menit……. penisku yang tadi keras kayak batu
sudah mulai melembek… dan bi asih nampak tergelak.. lunglai di sebelahku……
Aku lalu bangun dan kucabut penisku dari memek bi asih.. dan kulihat memek bi
asih…. … Aku pegang dan aku buka belahannya kini nampak ada lubangnya….
dan aku melihat di seprai dekat memek bi asih banyak sekali cairan.. dan agak
berwarna sedikit merah jambu…. aku agak kaget… dan bilang ama bi asih… bi
….. bibi masih perawan ya……….. Bi Asih tersenyum manis… dan
menjawab… iya den soalnya selama bibi nikah… bibi belum pernah kemasukan….
karena mantan suami bibi dulu orangnya loyo…. baru nempel udah banjir dan
lemes…. Aku menggumam…. pantas susah banget masuknya…….terus si bi asih
nimpali bukan susah….tapi emang burungnya den bram yang kegedean…. bibi ampe
hampir semaput rasanya…… Malam itu aku tidur berdua dengan bi asih di kamar
ortu gua…. kita tidur telanjang bulat…. cuma di tutup pakai selimut……
pagi-pagi jam 5 pagi udah terbangun…. dan penisku tiba-tiba mengeras lagi….
… tanpa permisi… aku langsung naik lagi kebadan bi asih…..yang masih
setengah tidur dan dia terbangun….. Aku kangkangin lagi pahanya kekiri dan
kekanan… bi asih diam aja pasrah hanya memandangi perbuatan ku dengan sedikit
senyum….. lalu penisku yang sudah mulai mengeras.. aku tempelkan lagi di depan
memek bi asih dan aku tekan-tekan… tapi ngak bisa masuk-masuk… bi asih
tersenyum…. dan dia bilang sini bi asih bantu… lalu tangannya kebawah
memegang penisku dan membimbing penisku tepat di muka lubang memeknya bi asih..
terasa hangat… lubang itu dan mulai basah… ternyata kali ini ngak sesulit
tadi malam… helm penisku dengan beberapa kali tusukan maju mundur… mulai
bisa masuk kedalam tapi tetapnya aja terasa sempit walaupun memek bi asih mulai
basah dan licin… dan kelihatanya bi asih juga merasa bahwa penisku luar biasa
ukuranya… beberapa kali dia sedikit mengaduh… tapi… setelah memeknya
betul-betul banjir… dan penisku bias masuk seluruhnya.. dia mulai bisa
menikmati… dan… pagi itu aku bersenggama dengan bi asih sampai jam 7.00
pagi… bi asih orgasme sampai 3 kali… dan aku muncrat juga tapi ngak sebanyak
tadi malam…… Seharian kita males-malesan di tempat tidur… dan sore hari…
kita ngentot lagi……ampe jam 10 malem…. Senin pagi aku bangun dan bolos
sekolah…. karena pagi itu sehabis mandi pagi dan sarapan…. aku rencananya
mau berangkat sekolah …. tapi tiba-tiba aku menjadi nafsu lagi melihat bi asih
baru keluar dari kamar mandi pakai handuk saja…. lalu aku tarik bi asih ke
kamarnya …. ku buka handuknya ku ciumi tetek .. ku isap-isap pentil… dan
kurebahkan dia di tempat tidurnya…. dan ku entot lagi…. wah enak rasanya
ngentot bi asih yang baru mandi karena bau badannya segar banget bau sabun…..
dan aku bersetubuh dengan bi asih di kamarnya senin pagi itu sampi jam 9.00
pagi… dan aku terpaksa membolos sekolah…… Sorenya orang tuaku pulang dari
jakarta…… dan sejak saat itu aku kalau malam sering kekamar bi asih dan
melakukan hal itu lagi.. dan kelihatannya bi asih juga mulai ketagihan seperti
aku…. Ibu aktif organisasi dharma wanita… sehingga kami sering punya
kesempatan berdua sama bi asih dan selalu ngak pernah menyia-nyia kesempatan
itu…..

Mei 6, 2008. Tag: . Cerita-cerita Erotis. 1 komentar.

Ima Pembantuku Sayang

Selama tiga tahun berumah tangga, boleh dibilang aku tidak pernah berselingkuh. Istriku cantik, dan kami telah dianugerahi seorang anak lelaki berusia dua tahun. Rumah tangga kami boleh dibilang rukun dan bahagia, semua orang mengakui bahwa kami pasangan yang serasi.

Sebenarnya godaan cukup banyak. Bukannya sombong, sebagai laki-laki berusia sekitar 29 yang cukup ganteng, punya jabatan pula, kukira aku termasuk idola para wanita. Di kantor, misalnya, aku tahu ada satu-dua karyawati yang menyukaiku. Tante Shinta, instruktur senam istriku, setiap kali bertemu pasti memberi sinyal-sinyal mengundang kepadaku, tapi tidak pernah kuladeni. Demikian pula Ibu Yessi, salah seorang rekanan bisnisku. Siapa sangka, akhirnya aku selingkuh juga. Yang lebih tidak dapat dimengerti, aku berselingkuh dengan pembantu!

Namanya Imah, usianya sekitar 18 tahun, asal Sukabumi. Wajahnya memang lumayan manis, lugu, ditambah lagi dengan kulitnya yang putih mulus. Tubuhnya agak kecil, tingginya sekitar 150 cm, tetapi sintal. Pinggangnya ramping, sementara pantatnya besar dan buah dadanya bulat montok.

Terus terang, aku sudah punya perasaan dan pikiran negatif sejak pertama kali dia diperkenalkan kepada kami oleh Bik Iroh, pembantu tetangga sebelah rumah. Entah bagaimana, ada desir-desir aneh di dadaku, terlebih lagi ketika kami beradu pandang dan dia mengulum senyum sembari menunduk.

Saat itu sebenarnya istriku merasa kurang sreg untuk menerima Imah bekerja. Naluri kewanitaannya mengatakan bahwa gadis itu type penggoda. Dia takut jangan-jangan akan banyak terjadi skandal dengan sopir-sopir dan para bujang di lingkungan kami. Tetapi kondisinya saat itu agak memaksa sebab istriku tiba-tiba harus berangkat ke luar negeri untuk urusan dinas, sementara pembantu kami baru saja pulang kampung.

Ternyata, skandal yang dikhawatirkan istriku itu benar-benar terjadi, tetapi justru dengan aku sendiri. Celakanya sampai saat ini aku tidak bisa menghentikan itu. Aku seperti mabuk kepayang. Harus kuakui, bersetubuh dengan Imah memang lain. Kenikmatannya tiada banding. Semakin sering aku menidurinya, rasanya malah bertambah nikmat.

Agar tidak terbongkar, aku segera mengambil langkah pengamanan. Hanya beberapa hari setelah istriku kembali dari luar negeri, Imah minta berhenti. Alasannya pulang kampung karena orang tuanya sakit keras. Tentu saja itu bohong. Yang betul adalah dia kuamankan di sebuah kamar kos yang letaknya tidak jauh dari kantorku. Aku juga membiayai semua kebutuhan sandang pangannya. Hampir setiap siang aku mampir ke sana untuk mereguk kenikmatan bersamanya. Kadang-kadang aku juga menginap satu-dua malam dengan alasan dinas ke luar kota. Dan itu telah berjalan hampir dua tahun sampai saat ini.

Hari pertama Imah bekerja di rumah kami, tidak ada kejadian yang berarti untuk diceritakan.Yang jelas, semua petunjuk dan instruksi dari istriku dilaksanakannya dengan sangat baik. Nampaknya dia cukup rajin dan berpengalaman, serta pandai pula menjaga anak.

Hari kedua, pagi-pagi sekali, aku berpapasan dengan Imah di muka pintu kamarnya. Aku sedang menuju ke kamar mandi ketika dia keluar kamar. Dia pasti baru selesai mandi karena tubuhnya menebarkan bau harum. Saat itu dia mengenakan rok span dan t-shirt ketat seperti yang umum dikenakan ABG zaman sekarang. Sexy sekali. Otomatis kelelakianku bangkit. Aku jadi seperti orang tolol, mematung diam sembari memandangi Imah. Sejenak gadis itu membalas tatapanku, lalu menunduk dengan muka memerah dadu. Aku lekas-lekas berlalu menuju kamar mandi.

Sehabis mandi, kudapati Imah sudah berganti pakaian, kembali mengenakan baju longgar dan sopan seperti kemarin. Keherananku segera terjawab ketika istriku bercerita di dalam kamar sembari bersungut-sungut:

“Gawat nih si Imah itu! Papa nggak lihat sih, pakaiannya tadi… Sexy banget! Jangan-jangan Papa juga bisa naksir kalau lihat.”

“Terus?” tukasku tak acuh.

“Yah Mama suruh ganti. Ingat-ingat ya Pa, selama Mama nggak ada, jangan kasih dia pakai baju yang sexy-sexy begitu!”

Hari ketiga, lewat tengah malam, aku bercumbu dengan istriku di ruang TV. Besok istriku berangkat untuk kurang lebih tiga minggu, jadi malam itu kami habiskan dengan bermesraan.Sebelumnya kami menonton film biru terlebih dahulu untuk lebih memancing birahi. Seperti biasa, kami bermain cinta dengan panas dan lama. Pada akhir permainan, di saat-saat menjelang kami mencapai orgasme, tiba-tiba aku merasa ada seseorang mengawasi kami di kegelapan. Aku tidak bercerita kepada istriku, sementara aku tahu, orang itu adalah Imah. Yang aku tidak tahu, berapa lama gadis itu menyaksikan kami bermain cinta.

Keesokan harinya, sore-sore, istriku berangkat ke Thailand. Aku mengantarnya ke airport bersama anak kami. Hari itu kebetulan Sabtu, jadi aku libur.

Pulang dari airport, kudapati Imah mengenakan t-shirt ketat berwarna pink yang kemarin. Jantungku langsung dag-dig-dug melihat penampilannya yang tak kalah menarik dibanding ABG-ABG Jakarta. Selintas aku teringat pesan istriku, tapi kenyataannya aku membiarkan Imah berpakaian seperti itu terus. Bahkan diam-diam aku menikmati keindahan tubuh Imah sementara dia menyapu dan membersihkan halaman rumah.

Hari kelima, pagi-pagi sekali, aku hampir tidak tahan. Aku melihat Imah keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Dia tidak melihatku. Kemaluanku langsung mengeras. Bayangkan saja, ketika istri sedang tidak ada, seorang gadis manis memamerkan keindahan tubuhnya sedemikian rupa. Maka, diam-diam aku menghampiri begitu dia masuk kamar.

Aneh, pintu kamarnya tidak ditutup rapat. Aku dapat melihat ke dalam dengan jelas melalui celah pintu selebar kira-kira satu centi. Apa yang kusaksikan di kamar itu membuat jantungku memompa tiga kali lebih cepat, sehingga darahku menggelegak-gelegak dan nafasku memburu. Aku menelan ludah beberapa kali untuk menenangkan diri.

Nampak olehku Imah sedang duduk di tepian ranjang. Handuk yang tadi meliliti tubuhnya kini tengah digunakannya untuk mengeringkan rambut, sementara tubuhnya dibiarkannya telanjang bulat. Sepasang buah dadanya yang montok berguncang-guncang. Lalu ia mengangkat sebelah kakinya dengan agak mengangkang untuk memudahkannya melap selangkangannya dengan handuk. Dari tempatku mengintip, aku dapat melihat rerumputan hitam yang tidak begitu lebat di pangkal pahanya.

Saat itu setan-setan memberi petunjuk kepadaku. Mengapa dia membiarkan pintunya sedikit terbuka seperti ini? Setelah menyaksikan aku bermain cinta dengan istriku, tidak mustahil kalau dia sengaja melakukan ini untuk memancing birahiku. Dia pasti menginginkan aku masuk Dia pasti akan senang hati menyambut kalau aku menyergap tubuhnya di pagi yang dingin seperti ini…

Ketika kemudian dia meremas-remas sendiri kedua payudaranya yang montok, sementara mukanya menengadah dengan mata terpejam, aku benar-benar tidak tahan lagi. Batang kemaluanku seakan berontak saking keras dan panjang, menuntut dilampiaskan hasratnya. Tanganku langsung meraih handle karena aku sudah memutuskan untuk masuk…

Pada saat itu tiba-tiba terdengar anakku menangis. Aku jadi sadar, lekas-lekas aku masuk ke kamar anakku. Tak lama kemudian Imah menyusul, dia mengenakan daster batik yang terbuka pada bagian pundak. Kurang ajar, pikirku, anak ini tahu betul dia punya tubuh indah. Otomatis batang kemaluanku mengeras kembali, tapi kutahan nafsuku dengan susah payah.

Alhasil, pagi itu tidak terjadi apa-apa. Aku keluar rumah untuk menghindari Imah, atau lebih tepatnya, untuk menghindari nafsu birahiku sendiri. Hampir tengah malam, baru aku pulang. Aku membawa kunci sendiri, jadi kupikir, Imah tidak akan menyambutku untuk membukakan pintu. Aku berharap gadis itu sudah tidur agar malam itu tidak terjadi hal-hal yang negatif.

Tetapi ternyata aku keliru. Imah membukakan pintu untukku. Dia mengenakan daster yang tadi pagi. Daster batik itu berpotongan leher sangat rendah, sehingga punggungnya yang putih terbuka, membuat darahku berdesir-desir. Lebih-lebih belahan buah dadanya sedikit mengintip, dan sebagian tonjolannya menyembul. Rambutnya yang ikal sebahu agak awut-awutan. Aku lekas-lekas berlalu meninggalkannya, padahal sejujurnya saat itu aku ingin sekali menyergap tubuh montoknya yang merangsang.

Sengaja aku mengurung diri di dalam kamar sesudah itu. Tapi aku benar-benar tidak dapat tidur, bahkan pikiranku terus menerus dibayangi wajah manis Imah dan seluruh keindahan tubuhnya yang mengundang. Entah berapa lama aku melamun, niatku untuk meniduri Imah timbul-tenggelam, silih berganti dengan rasa takut dan malu. Sampai tiba-tiba aku mendengar suara orang meminta-minta tolong dengan lirih…

Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat dari ranjang dan segera berlari ke arah suara. Ternyata itu suara Imah. Sejenak aku berhenti di muka pintu kamarnya, tetapi entah mengapa, kini aku berani masuk.

Kudapati Imah tengah meringkuk di sudut ranjang sambil merintih-rintih lirih. Aku tercekat memandangi tubuhnya yang setengah telanjang. Daster yang dikenakannya tersingkap di sana-sini, memamerkan kemulusan pahanya dan sebagian buah dadanya yang montok. Sejenak aku mematung, menikmati keindahan tubuh Imah yang tergolek tanpa daya di hadapanku, di bawah siraman cahaya lampu kamar yang terang benderang. Otomatis kelelakianku bangkit. Hasratku kian bergelora, nafsu yang tertahan-tahan kini mendapat peluang untuk dilampiaskan. Dan setan-setan pun membujukku untuk langsung saja menyergap. “Dia tidak akan melawan,” batinku. “Jangan-jangan malah senang, karena memang itu yang dia harapkan…” Kuteguk liurku berulang-ulang sambil mengatur nafas. Untuk sesaat aku berhasil mengendalikan diri. Kuraih pundak Imah, kuguncang-guncang sedikit agar dia terbangun.

Gadis itu membuka mata dengan rupa terkejut. Posisinya menelentang kini, sementara aku duduk persis di sisinya. Jantungku bergemuruh. Dengan agak gemetar, kutepuk-tepuk pipi Imah sambil berupaya tersenyum kepadanya.

“Kamu ngigo’ yaa?” godaku. Imah tersipu.

“Eh, Bapak?! Imah mimpi serem, Pak!”

Suaranya lirih. Gadis itu bangkit dari tidurnya dengan gerakan agak menggeliat, dan itu malah membuat buah dadanya semakin terbuka karena dasternya sangat tidak beraturan. Aku jadi semakin bernafsu.

“Mimpi apaan, Mah?” tanyaku lembut.

“Diperkosa…!” jawab Imah sembari menunduk, menghindari tatapanku.

“Diperkosa siapa?”

“Orang jahat! Rame-rame!”

“Oooh… kirain diperkosa saya!”

“Kalau sama Bapak mah nggak serem…!”

Aku jadi tambah berdebar-debar, birahiku semakin membuatku mata gelap. Kurapikan anak-anak rambut Imah yang kusut. Gadis itu menatapku penuh arti. Matanya yang bulat memandangku tanpa berkedip. Aku jadi semakin nekad.

“Kalau sama saya nggak serem?” tanyaku menegaskan dengan suara agak berbisik sambil mengusap pipi Imah. Babu manis itu tersenyum.

Entah siapa yang memulai, tahu-tahu kami sudah berciuman. Aku tidak peduli lagi. Kusalurkan gejolak birahi yang selama ini tertahan dengan melumat bibir Imah. Dia membalas dengan tak kalah panas dan bernafsu. Dia bahkan yang lebih dahulu menarik tubuhku sehingga kami rebah di atas ranjang sembari terus berciuman.

Tanganku lasak meremas-remas buah dada Imah. Kupuaskan hasratku pada kedua gundukan daging kenyal yang selama beberapa hari terakhir ini telah menggodaku. Imah pun tak tinggal diam. Sambil terus membalas lumatanku pada bibirnya, tangannya merayap ke balik celana pendek yang kukenakan. Pantatku diusap-usap dan diremasnya sesekali dengan lembut.

Ketika ciuman terlepas, kami berpandangan dengan nafas memburu. Imah membalas tatapanku dengan agak sayu. Bibirnya merekah, seakan minta kucium lagi. Kusapu saja bibirnya yang indah itu dengan lidah. Dia balas menjulurkan lidah sehingga lidah kami saling menyapu. Kemudian seluruh permukaan wajahnya kujilati. Imah diam, hanya tangannya yang terus merayap-rayat di balik celana dalamku.

Aku jadi tambah bernafsu. Lidahku merambat turun ke leher. Imah menggelinjang memberi jalan. Terus kujilati tubuhnya yang mulai berkeringat. Imah menggelinjang-gelinjang hebat ketika buah dadanya kujilati. “Geliii..” desisnya sambil mengikik-ngikik, dan itu malah membuatku tambah bernafsu. Daging-daging bulat montok itu terus kujilati, kukulum putingnya, kusedot-sedot dengan rakus, tentunya sambil kuremas-remas dengan tangan.

Payudara Imah yang lembut kurasa semakin mengeras, pertanda birahinya kian meninggi. Lebih-lebih putingnya yang mungil berwarna merah jambu, telah amat keras seperti batu. Aku jadi semakin bersemangat. Sesekali mulutku merayap-rayap menciumi permukaan perut, pusar dan turun mendekati selangkangannya.

Imah mulai merintih dan meracau, sementara tangannya mulai berani meraba batang kemaluanku yang telah menegang sedari tadi. Kurasakan pijitannya amat lembut, menambah rangsangan yang luar biasa nikmat. Aku tidak tahan, tanganku balas merayap ke balik celana dalamnya. Imah mengangkang, pinggulnya mengangkat. Kugosok celah vaginanya dengan jari. Basah. Dia mengerang agak panjang ketika jari tengahku menyelusup ke dalam liang vaginanya, batang penisku digenggamnya erat dengan gemas. Aku semakin tidak tahan, maka kubuka celana pendek dan celana dalamku sekaligus.

Imah langsung menyerbu begitu batang kemaluanku mengacung bebas tanpa penutup apa pun lagi. Dengan posisi menungging, digenggamnya batang kemaluanku, lalu dijilat-jilatnya ujungnya seperti orang menjilat es krim. Tubuhku seperti dialiri listrik tegangan tinggi. Bergetar, nikmat tak terkatakan.

“Imah udah tebak, pasti punya Bapak gede…” desis Imah tanpa malu-malu.

“Isep, Mah…!” kataku memberi komando.

Tanpa menunggu diminta dua kali, Imah memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya.

“Enak, Mah… enak banget…,” aku mendesis lirih, sementara tubuhku menggeliat menahan nikmat.

Imah semakin bersemangat mengetahui betapa aku menikmati hisapannya pada penisku. Batang kemaluanku dikocok-kocoknya dengan amat bernafsu sementara mulutnya mengulum dengan gerakan maju mundur. Sesekali lidahnya menjulur menjilat-jilat. Pintar sekali.

Belakangan baru kuketahui bahwa Imah itu seorang janda. Dia dipaksa kawin sejak usia 14 dengan lelaki berumur yang cukup kaya di desa. Ternyata suaminya seorang pemabuk, penjudi, dan mata keranjang. Satu-satunya yang disukai Imah dari lelaki itu adalah keperkasaannya di atas ranjang. Hanya itu yang membuatnya sanggup bertahan empat tahun berumah tangga tanpa anak. Baru setahun yang lalu suaminya meninggal, sehingga statusnya kini resmi menjadi janda.

Pantas saja nafsunya begitu besar. Dia mengaku bahwa hasrat seksualnya langsung bangkit kembali sejak pertama kali bertemu aku. Kenangan-kenangannya tentang kenikmatan bermain cinta terus menggodanya, sehingga diakuinya bahwa sejak hari itu dia terus berusaha untuk menarik perhatianku.

Nafsu yang menggebu-gebu, serta hasrat yang terpendam berhari-hari, membuat gadis itu menjadi liar tak terkendali. Sambil terus mengulum dan menjilat-jilat batang kemaluanku, tubuhnya beringsut-ingsut hingga mencapai posisi membelakangi dan mengangkangi tubuhku. Pantatnya yang bulat, besar seperti tampah, tepat berada di depan wajahku. Kuusap-usap pantatnya, lalu kuminta lebih mendekat sambil kuturunkan celana dalamnya. Dia menurut, diturunkannya pinggulnya hingga aku dapat mencium selangkangannya.

Terdengar dia mendesis begitu kujulurkan lidahku menyapu permukaan liang vaginanya yang merekah basah. Kedua pahanya mengangkang lebih lebar, sehingga posisi pinggulnya menjadi lebih ke bawah mendekati mukaku. Kini aku lebih leluasa mencumbu kemaluannya, dan aku tahu, memang itu yang diharapkan Imah.

Kusibakkan bulu-bulu halus di seputar selangkangan babu cantik yang ternyata mempunyai libido besar itu. Kugerak-gerakkan ujung lidahku pada klitorisnya. Kuhirup baunya yang khas, lalu kukenyot bibir vaginanya dengan agak kuat saking bernafsu. Imah merintih. Tubuhnya sedikit mengejang, hisapannya pada kemaluanku agak terhenti.

“Jangan berhenti dong, Maaaahh,” desisku sambil terus menjilat-jilat vaginanya.

“Imah keenakan, Pak…” jawab Imah terus terang. Lalu kembali dia mengulum sambil mengocok-ngocok batang kemaluanku. Dengan bernafsu dia terus berusaha menjejal-jejalkan batang penisku sepenuhnya ke dalam mulutnya, tetapi tidak pernah berhasil karena ukuran tongkat wasiatku itu memang cukup luar biasa: gemuk, dan panjangnya hampir 20 cm!

Aku membalas dengan merekahkan mulut vaginanya dengan kedua tangan. Lubang surgawi itu menganga lebih lebar, maka kujulurkan lidahku lebih ke dalam. Imah membalas lagi dengan menghisap-hisap batang kemaluanku lebih cepat dan kuat. Aku tak mau kalah, kutekan pantatnya hingga kemaluannya menjadi lebih rapat pada mukaku, lalu kujilat dan kuhisap seluruh permukaan liang kemaluannya.

“Ooooohhh… Imah nggak kuattt….” terdengar Imah mengerang tiba-tiba. Aku tak peduli. Aku justru jadi semakin bersemangat dan bernafsu mencumbu kemaluan Imah. Gadis itu juga kian liar. Tangan dan mulutnya semakin luar biasa cepat mengerjai batang kemaluanku, sementara tubuhnya menggeliat-geliat tak terkendali. Aku tahu birahinya telah teramat sangat tinggi, maka kukomandoi dia untuk rebah menelentang, lalu segera kutindihi tubuh montoknya.

“Enak, Mah?” tanyaku.

“Enak banget, Pak… Imah nggak tahan…”

“Kamu mau yang lebih enak, kan?”

“Ya mau, dong…” Imah nampak masih sedikit malu-malu, tapi jelas dia tidak dapat lagi mengontrol nafsunya. Wajahnya yang biasanya lugu, kini nampak sebagai perempuan berpengalaman yang sedang haus birahi.

“Kamu pernah ngent*t, Mah?” tanyaku lembut, takut dia tersinggung. Tapi dia malah tersenyum, cukup bagiku sebagai pengakuan bahwa dia memang sudah pernah melakukan itu.

“Kamu mau?” tanyaku lagi. Imah menutup matanya sekejap sebagai jawaban.

“Buka dulu dasternya, ya?”

Dalam sekejap, Imah telah bertelanjang bulat. Aku juga membuka kaos, sehingga tubuh kami sama-sama bugil. Polos tanpa sehelai benang pun. Imah memintaku mematikan lampu kamar, tapi aku menolak. Aku justru senang menonton keindahan tubuh Imah di bawah cahaya lampu yang terang benderang begitu.

”Malu, ah, Pak…” kata Imah dengan nada manja, sementara aku memandangi sepasang payudaranya yang bulat, besar dan padat.

“Saya naksir ini sejak pertama kamu masuk,” kataku terus terang sambil mengecup puting susunya yang sebelah kanan, disusul dengan yang sebelah kiri.

“Imah tau,” jawab Imah tersipu. “Tapi Imah pikir, Bapak mana mau sama Imah?!”

“Sejak hari pertama, saya udah ngebayangin beginian sama kamu.”

“Kok sama sih?! Imah juga…”

“Bohong!”

“Sumpah! Apalagi abis liat Bapak gituan sama Ibu… Seru banget, Imah jadi ngiri…”

“Kamu ngintip, ya?”

“Bapak juga tau, kan?”

Sambil berkata begitu, tangan kanan Imah menggenggam batang penisku. Kedua pahanya mengangkang memberi jalan dan pinggulnya mengangkat sedikit. Digosok-gosokkannya ujung batang kemaluanku pada mulut vaginanya yang semakin basah merekah.

Aku membalas dengan menurunkan pinggulku sedikit. Saat itu di benakku terlintas wajah istri dan anakku, tetapi nafsu untuk menikmati surga dunia bersama Imah membuang jauh-jauh segala keraguan. Bahkan birahiku semakin bergelora begitu aku memandang wajah Imah yang telah sedemikian sendu akibat birahi.

“Paaak….” terdengar desis suara Imah memanggilku teramat lirih. Kedua tangannya mengusap-usap sambil sedikit menekan pantatku, sementara batang penisku telah penetrasi sebagian ke dalam vaginanya.

Kutekan lagi pinggulku lebih ke bawah. Batang penisku bergerak masuk inci demi inci. Kurasakan Imah menahan nafas. Kutahan sejenak, lalu perlahan justru kutarik sedikit pinggulku. Imah membuang nafas. Kedua tangannya mencengkeram pantatku. Aku mengerti, kutekan lagi pinggulku. Kembali Imah menahan nafas. Dua tiga kali kuulang seperti itu. Setiap kali, kemaluanku masuk lebih dalam dari sebelumnya. Dan itu membuat Imah keenakan. Dia mengakuinya terus terang tanpa malu-malu. “Bapak pinter banget…” desisnya sambil mencubit pantatku, sesaat setelah aku menekan semakin dalam. Batang penisku telah hampir amblas seluruhnya. Imah cukup sabar menikmati permainanku, tetapi akhirnya dia tidak tahan.

“Imah rasanya kayak terbang…” dia meracau.

“Kenapa?”

“Enakh… Masukin semua atuh, Paak… supaya lebih enak…” Berkata begitu, tiba-tiba kedua tangannya merangkul dan menarik leherku. Diciuminya mukaku dengan penuh nafsu.

“Imaaaahhh.” bisikku sambil membalas menjilat-jilat permukaan wajahnya.

“Paak…”

Aku jadi ikut-ikutan tidak tahan, ingin segera menuntaskan permainan. Maka dengan agak kuat kutekan pantatku dalam-dalam, sehingga batang kemaluanku terbenam sepenuhnya di liang vagina Imah. Anak itu mengerang lirih, “Ssshhh…. aaaahhhh…, sssssssshhhh….., aaaaaaaahhhh….”

Dalam beberapa menit, kami bersanggama dalam posisi konvensional. Aku di atas, Imah di bawah. Itu pun sudah teramat sangat luar biasa nikmat. Ternyata Imah pintar sekali. Pinggulnya dapat berputar cepat seperti gasing, mengimbangi gerakan penetrasiku pada vaginanya. Setengah mati aku mengatur gerakan sembari terus mengendalikan kobaran birahiku. Kadang aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, sesekali kucepatkan dan kukuatkan seakan hendak menjebol dinding vagina Imah.

Rupanya Imah termasuk type perempuan yang sangat panas dan liar dalam bermain cinta. Itulah justru yang kelak membuatku demikian tergila-gila kepadanya sampai-sampai tidak dapat lagi menghentikan perselingkuhan kami. Setiap kali aku berniat berhenti, bayangan erotisme Imah membuatku justru ingin mengulang-ulangnya kembali.

Tubuhnya tidak pernah berhenti bergoyang, seiring dengan erangan dan desahannya. Setiap kali aku menekan kuat-kuat, dia justru mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga kemaluan kami menyatu serapat-rapatnya. Bila aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya seperti penari jaipong. Nikmatnya tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.

Aku merasa dinding pertahananku hampir jebol. Kenikmatan luar biasa yang kurasakan dari perlawanan Imah yang erotis sungguh tidak tertahankan lagi. Padahal baru beberapa menit. Aku segera mengendalikan diri, kutarik nafas panjang-panjang, lalu kutarik tubuhku dari tubuh Imah.

Aku menelentang, dan kuminta Imah menaiki tubuhku. Dia menurut. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia segera nangkring di atas tubuhku. Diraihnya batang kemaluanku yang terus mengacung keras seperti tugu batu, dan diarahkannya kembali pada liang vaginanya.

Keringat menetes-netes dari wajahnya yang manis. Kuraih sepasang payudaranya yang bergelantung bebas, kuremas dan kuputar-putar dengan lembut. Imah mendesah sambil menekan pinggulnya agar batang kemaluanku melesak lebih dalam.

“Nggghhh….. sshhhh….aahhhh….,” kembali dia merintih dan mendesah.

“Kenapa, Maah?”

“Ennaakh…, enak, Paak….”

“Kamu pinter.”

“Bapak yang pinter! Imah bisa ketagihan kalau enak begini… Imah pingin ngent*t terus sama Bapak…”

“Kita ngent*t terus tiap hari, Mah…”

“Bapak mau?”

“Asal Imah mau.”

“Imah mau banget atuh, Pak. Enak banget ngent*t sama Bapak….”

“Ayo, genjot, Mah.. Kita main sampai pagi!”

Imah segera bergoyang lagi. Tubuhnya bergerak erotis naik-turun, maju-mundur, kiri-kanan, ditingkahi rintihan dan desahannya yang penuh nafsu. Aku diam saja, hanya sesekali kuangkat pantatku agar kemaluan kami bertaut lebih rapat. Akibatnya aku jadi lebih mampu bertahan. Dalam posisi seperti itu, aku tahu bahwa perempuan biasanya akan lebih cepat mencapai klimaks. Memang itu yang kuharapkan.

Perhitunganku tidak salah. Tidak terlalu lama, goyangan Imah semakin erotis dan menggila. Naik-turun, maju-mundur, dengan kecepatan yang fantastis. Erangan dan rintihannya pun semakin tidak terkendali. Aku jadi semakin bersemangat karena mengetahui dia akan segera mencapai orgasme.

“Paaak…., adduuh…, enak banget… enak banget… enak, Pak…, yah… yah…, Imah enak…”

“Saya juga enak, Maah…, teruuusss….”

“Oooohhh…. enak banget siihhh…., adduuuhhh…., adduuhh……”

“Terus, Maah… enak banget… enak ngent*t ya, Maah…?”

“Enakh…, ngent*t enak…, Imah seneng ngent*t sama Bapak…, tongkol Bapak enak…”

“memiaw kamu gurih…”

“Ooohhhh…., yah…, yah…, yah…., Imah mau keluar, Paak…, Imah nggak kuatts…”

Tubuh Imah mengejang pada saat dia mencapai orgasme. Kepalanya mendongak jauh ke belakang. Mulutnya mengeluarkan rintihan panjang sekali. Saat itu kurasakan liang vaginanya berdenyut-denyut, menambah kenikmatan yang fantastis pada batang kemaluanku.

Setelah itu dia menelungkup lunglai di atas tubuhku. Nafasnya memburu setelah menempuh perjalanan panjang yang membawa nikmat bersamaku. Kubiarkan sejenak dia menenangkan diri sementara kemaluan kami masih terus bertaut rapat. Sesaat kemudian, baru aku berbisik di telinganya, “Saya belum lho, Mah…?!”

Imah menengadah, mengangkat wajahnya menatapku. Dikecupnya bibirku.

“Kan mau sampai pagi?!” katanya dengan nada menggemaskan.

“Kamu mau istirahat dulu?”

“Nggak… terus aja, Pak.. Imah masih keenakan, kok…”

Sejenak kami berciuman. Dapat kurasakan jantung Imah masih bergemuruh, pertanda birahinya memang masih tinggi. Kuusap-usap pantatnya yang telanjang sementara kami berciuman rapat. Kemudian kugulingkan tubuhku, sehingga Imah kembali berada di bawah.

Kucabut batang kemaluanku dari vagina Imah. Dia menatapku dengan rupa tidak mengerti. Kuberikan dia senyuman, lalu kuminta dia menelungkup. Imah mengerti sekarang, maka lekas-lekas dia menelungkup sambil cekikikan.

“Nungging, Mah…” kataku memberi komando.

Imah mengangkat pinggulnya hingga menungging seperti permintaanku. Aku dapat melihat mulut vaginanya yang merekah dari belakang. Kudekatkan mukaku, kucium mulut vaginanya, dan kupermainkan klitorisnya sejenak dengan ujung lidah. Imah merintih lirih, pantatnya mengangkat lebih tinggi sehingga mulut vaginanya merekah lebih lebar di depan mukaku. Kumasukkan lidahku lebih dalam, kemudian kusedot mulut vaginanya sampai berbunyi.

“Bapak emang pinter banget…” desis Imah sembari menggelinjang menahan nikmat.

“Kita tancap lagi ya, Maah…?!”

“Sampai pagi……..?!”

Aku berlutut di belakang tubuh Imah yang menungging. Pantatnya mencuat tinggi ke belakang guna memudahkanku menusuk kemaluannya. Kedua tangannya mencengkeram sprei yang kusut. Kepalanya terkulai. Kudengar dia mendesah lirih ketika batang kemaluanku perlahan menerobos masuk lewat belakang.

Kedua tanganku mencengkeram pantat Imah. Sejenak aku berhenti. Imah menoleh ke belakang karena tidak sabar. Kutekan lagi perlahan-lahan, sehingga dia kembali mengerang dengan kepala terkulai ke depan. Aku berhenti lagi. Kuusap-usap pantatnya, kucengkeram agak kuat, lalu kurekahkan dengan kedua tangan. Imah menoleh lagi ke belakang.

Tepat pada saat itu aku menekan kuat-kuat. Deg! Tubuh Imah sampai terdorong ke depan. Dia langsung membalas memundurkan pantatnya, diputar-putar, berusaha keras agar batang penisku masuk lebih dalam. Agak susah karena ukurannya super king.

Kembali dia menoleh ke belakang. Kutekan lagi kuat-kuat! Kini Imah sudah siap. Bersamaan dengan gerakanku, dia menyambut dengan mendorong pantatnya kuat-kuat ke belakang. Slep! Batang kemaluanku menyeruak masuk. Kutahan sejenak, lalu kudorong lagi sekuat-kuatnya. Imah kembali menyambut dengan gerakan seperti tadi. Kali ini dia mengerang lebih keras karena batang penisku masuk hingga menyentuh dinding rahimnya.

“Sakit, Mah?” tanyaku.

“Nggak… malah enak…, terusin, Paak…Imah belum pernah main kayak gini…”

Sambil menikmati bertautnya kemaluan kami, kupeluk erat tubuh Imah dari belakang. Kuciumi tengkuknya. Imah berusaha menoleh-noleh ke belakang, berharap aku menciumi bibirnya. Sesekali kuturuti permintaannya sambil meremas-remas kedua buah dadanya yang memuai semakin montok.

Kugerak-gerakkan pinggulku dengan irama lembut dan teratur, kunikmati bertautnya kemaluan kami dalam posisi “anjing kawin” itu sembari menciumi tengkuk dan leher Imah. Gadis itu menggeliat-geliatkan tubuhnya, pinggulnya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan.

Beberapa menit kemudian, nafas Imah mulai memburu kembali. Itu pertanda birahinya mulai meninggi, mendaki puncak kenikmatannya kembali. Maka aku mulai mengambil posisi. Kedua tanganku berpegangan pada pinggang Imah, sementara dia pun mengatur posisi pinggulnya supaya lebih memudahkan aku. Setelah itu dia menoleh ke belakang memandangiku. Tatapannya amat sayu, dan aku tahu, itulah tatapan perempuan yang sedang tinggi birahinya.

Aku mulai bergerak maju mundur. Satu dua, dengan irama teratur. Nafas Imah semakin kencang terdengar, seiring dengan semakin kuatnya hunjaman batang kemaluanku pada liang vaginanya. Aku memompa terus. Semakin lama semakin cepat dan kuat. Imah semakin terengah-engah. Tubuhnya berguncang-guncang, sesekali sampai terdorong jauh ke depan, tapi tidak sampai terlepas karena kutahan pinggangnya dengan kedua tangan.

Tubuh kami yang telanjang bulat dibanjiri peluh. Lebih-lebih Imah, keringatnya menciprat ke mana-mana karena tubuhnya berguncang-guncang. Itulah bagian dari erotisme Imah yang sangat aku suka. Belum pernah aku merasakan sensasi bersetubuh yang senikmat ini. Kurasakan ejakulasiku telah dekat, tapi kutahan sebisaku karena aku belum ingin segera menyudahi kenikmatan yang tiada tara ini. Kugigit bibirku kuat-kuat, sementara hunjaman penisku terus menguat dengan irama yang super cepat.

Imah semakin erotis. Nafasnya liar seperti banteng marah, erangannya bercampur dengan rintihan-rintihan jorok tiada henti.

“Ooohh…, aaahhh…, ohhh…, aahhhh…, teruuss, Paak…, teruuusssss…, Imah enak…, enak banget…, adduuuh, Maak…, Imah lagi keenakan nih, Maak…, oohhh… aaahhh…, terus, Paak… yah… yahhh… adduuuuh….. sssshhh…. Maaak….., Imah lagi ngent*t nih, Maak…, enaknyahhh…, adduuuhhh…., ooohh…, yaahhh… yaahhhhhhh…, terruuuusssss…”

Suara Imah keras sekali, tapi aku tidak peduli. Justru mendatangkan sensasi yang menambah nikmat. Toh tidak ada siapa-siapa di rumah ini, kecuali anakku yang sedang tidur lelap. Maka terus kucepatkan dan kukuatkan sodokan-sodokanku. Imah semakin tidak terkendali. Orgasmenya pasti sudah dekat, seperti aku juga.

Ketika kurasakan ejakulasiku telah semakin dekat, kucabut tiba-tiba penisku dari dalam liang surgawi Imah. Dengan gerak cepat, kubalikkan posisinya hingga menelentang, lalu secepat kilat pula kutindih tubuhnya dan kumasukkan kembali batang penisku. Imah menyambut dengan mengangkat pinggul agak tinggi, kedua pahanya mengangkang selebar-lebarnya memberi jalan.

Vaginanya telah teramat sangat basah oleh lendir sehingga memudahkan batang penisku segera masuk. Tapi tetap saja aku harus menekan agak kuat karena mulut vaginanya kecil seperti perawan, sementara batang kemaluanku besar dan keras seperti pentungan kayu.

Kurasakan spermaku telah menggumpal di ujung batang kemaluanku, siap untuk dimuntahkan. Kulihat Imah pun sudah hampir mencapai klimaks. Maka, langsung saja kutancap lagi, cepat, kuat, dan kasar. Imah menjerit-jerit mengiringi pencapaian puncak kenikmatannya.

“Ssshhh….. aaahhh…, oooooohhh…, tongkol Bapak enak banget siiihhh…, adduuhhh…., terruuusss…., yaaaaahhh…”

“Enak, Maah?”

“Enak bangeet…., Imah mau ngent*t terus kalau enak begini..…. tongkol Bapak lezat…, addduhhhh…, tuuhh… yahh…, tuuhh… adduhhh…, enak banget siiihhh….”

“Puter terus, Maah… yah… yah…”

“Ohhh… enak banget, Paak…, enak bangeettt…., Imah doyan tongkol Bapak…, enak ngent*t dengan Bapak…, Imah pingin ngent*t terussss…, addduuuhhhh…., enaknyaahhhh….”

“Saya hampir keluar, Mah…”

“Imah juga, Pak…, bareng…, bareng…., yahh…, teruusss… sodok…, yahhhh… terrrussss… yahhh… terusss… sedaaap… asyiiik…, yah… gituuhhh… yahhh…. yahhh… oooooohhh…”

Imah mengejang lagi, dia mencapai orgasmenya yang kedua. Pinggulnya terangkat setinggi-tingginya, sementara kedua tangannya memeluk tubuhku luar biasa erat. Pada detik bersamaan, aku pun mencapai puncak kenikmatanku. Air maniku menyembur-nyembur banyak sekali di dalam rongga vagina Imah. Bibir kemaluannya serasa berkedut-kedut menghisap batang kemaluanku hingga spermaku muncrat berkali-kali dan keluar sampai tetes terakhir. Luar biasa, sungguh belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini.

Kami terdiam dengan tubuh menelentang sesudah itu. Hanya desah nafas kami yang tersisa di tengah-tengah keheningan. Mataku tertumbuk pada jam dinding. Hampir pukul empat. Entah berapa jam aku telah menghabiskan waktu, mereguk kenikmatan bersama pembantu bernama Imah ini.

Pikiran warasku mulai kembali. Apa yang telah kulakukan ini? Mendadak muncul penyesalan di dalam hati, tetapi jujur harus kuakui betapa aku teramat sangat luar biasa menikmati perilaku yang gila ini.

Rupanya Imah pun mengalami gejolak perasaan serupa. Mulanya dia sangat menyesali perbuatan kami barusan, dia menangis terisak-isak sambil memiringkan tubuh membelakangiku. Aku sempat ketakutan.

“Kamu kenapa, Mah?” bisikku sambil merangkulnya dari belakang.

“Imah malu…” jawab Imah di tengah isaknya yang semakin menjadi. Perlahan kubalikkan badannya. Lalu kupeluk dia erat-erat tanpa berkata apa pun, sampai tangisnya reda.

Berpelukan dalam keadaan bugil dengan gadis semanis Imah tentu saja membuat birahiku terangsang kembali. Batang kemaluanku mulai bangkit mengeras. Namun perkataan Imah membuatku tersadar. Seharusnya aku yang malu. Maka tanpa berkata berkata-kata lagi, kutinggalkan Imah seorang diri. Dalam hati aku bertekad untuk tidak akan pernah mengulang perbuatanku tadi.

Aku tidur nyenyak sekali sampai hampir pukul sebelas. Perjalanan panjang mendaki puncak kenikmatan membuat tidurku seperti orang mati. Tubuhku terasa segar sekali sesudah itu.

Kudapati Imah tengah bermain dengan anakku Gavin di ruang keluarga. Mengetahui aku sudah bangun, dia segera menyiapkan sarapan untukku: kopi susu hangat, roti isi kornet kesukaanku, serta dua butir telur ayam setengah matang. Walaupun dia tidak berkata apa pun, kurasakan kemesraan yang luar biasa dalam pelayanannya itu. Darahku kontan berdesir-desir. Apalagi saat itu dia mengenakan daster longgar yang amat pendek. Pahanya yang putih mulus serta tonjolan buah dadanya yang super montok membuatku hampir tidak tahan ingin memeluknya. Berani bertaruh, dia juga merasakan hasrat yang sama denganku.

Tapi aku sudah bertekad bulat untuk mengalahkan nafsuku sendiri. Kualihkan pikiran jorokku dengan berkonsentrasi membaca koran mingguan sembari menyantap sarapan yang disediakan Imah. Sesudah itu lekas-lekas aku pergi mandi. Aku harus menghindari kesempatan berduaan dengan Imah. Maka, siang itu aku pergi membawa Gavin ke rumah mertuaku.

“Nggak makan siang dulu?” tanya Imah perlahan sekali, suaranya seperti orang yang sangat merasa bersalah. Aku jadi kasihan. Seharusnya dia tidak perlu salah tingkah seperti itu, tetapi aku tidak mau membahasnya karena takut berdampak negatif.

Gavin bermain dengan riang gembira di rumah neneknya. Banyak yang menemani dia di sana. Aku jadi bebas beristirahat, tapi itu malah membuat banyak peluang untuk mengingat-ingat dan melamunkan Imah.

Sambil rebahan menatap langit-langit kamar, aku terbayang pada keindahan tubuh babu itu. Aku ingat bagaimana sexy-nya dia ketika mengenakan t-shirt ketat. Buah dadanya membusung, memamerkan ukurannya yang besar serta bentuknya yang bulat. Lalu terbayang ketika sepasang payudara itu telah kutelanjangi. Benar-benar montok dan bagus. Lingkar dadanya tidak besar, karena tubuh anak itu memang relatif mungil, tetapi bulatannya luar biasa montok dan kenyal.

Otomatis aku jadi membayangkan keseluruhan tubuh Imah yang telanjang. Anak itu mungil, tetapi dagingnya kenyal dan padat. Aku paling suka dadanya, tetapi yang lain-lain pun indah sekali. Kulitnya luar biasa halus mulus, putih seperti susu. Pinggul dan pantatnya besar, kontras dengan pinggangnya yang ramping. Terakhir, yang membuat darahku serasa bergolak dan mulai memanas adalah bayangan indah kemaluan Imah: bentuknya yang tebal menggunung, bulu-bulu hitam keritingnya yang tidak terlalu lebat, sampai belahannya yang merah merekah dibasahi cairan lendir pelumas, dihiasi klitoris yang menyembul-nyembul. Ahhh, aku tidak dapat lagi menghentikan lamunanku. Kucoba-coba membaca majalah untuk mengusir jauh-jauh bayangan Imah, tapi tidak berhasil. Batang kemaluanku yang sudah telanjur naik tidak mau turun-turun lagi. Aku jadi resah. Alih-alih bisa melupakan Imah, aku justru teringat betapa erotisnya dia ketika tengah kusetubuhi semalam.

Semua tergambar jelas di benakku, seakan-akan videonya diputar di langit-langit kamar. Birahiku naik semakin tinggi, teringat bagaimana tubuh telanjang Imah menggelepar-gelepar menikmati hunjaman batang penisku pada vaginanya. Juga erangan-erangannya yang jorok. Aku benar-benar tidak tahan.

Tiba-tiba otakku mengkalkulasi waktu. Saat ini baru pukul satu lewat sedikit. Kalau kutinggalkan Gavin di rumah ini, lalu kujemput lagi nanti malam, maka aku akan punya waktu bebas setidaknya delapan jam bersama Imah!

Dengan kesadaran penuh, kumatikan akal sehatku. Aku pulang sendirian. Tentu saja Imah yang membukakan pintu pagar karena memang tidak ada orang lain lagi di rumah. Mengetahui tidak ada Gavin, dia memandangku dengan mata berbinar-binar. Aku pura-pura tidak tahu. Belakangan Imah mengakui bahwa saat itu dia girang sekali karena memang dia tengah mengharapkan aku datang sendirian tanpa Gavin. Sepanjang pagi dia menyesali apa yang telah kami lakukan semalam, tetapi sama seperti aku, ujung-ujungnya dia mengharapkan itu terulang kembali.

Rasa gengsi membuatku berusaha mengendalikan diri agar perasaanku tidak nampak. Aku tidak ingin Imah tahu bahwa aku ketagihan menidurinya. Dengan diam, aku langsung berlalu masuk kamar. Aku berharap Imah masuk, tetapi ternyata tidak. Lalu aku duduk di ruang keluarga menonton TV dengan mengenakan celana pendek dan kaos singlet. Kudengar suara Imah di dapur, kesal sekali rasanya karena dia tidak datang menemuiku. Apakah dia benar-benar menyesal sehingga tidak ingin mengulangi kenikmatan itu lagi?

Karena tidak tahan, akhirnya kupanggil dia. Dalam hati aku bertekad, biar aku “mengalah”, tapi nanti akan kubuat dia merengek-rengek.

Imah berjalan dengan mata menunduk menghampiriku. Batang penisku langsung bangun mengeras, tapi aku tetap tenang. Kupersilakan Imah duduk, setelah itu baru aku bicara.

“Mah, saya mau ngomong jujur sama kamu.”

“Ngomong apa, Pak?”

“Soal tadi malem, saya terus terang nyesel, Mah. Saya malu. Saya pikir, seharusnya kita nggak ngelakuin itu…”

“Iya, apalagi Imah, malu banget sama Bapak…”

“Saya kepingin ngelupain itu, Mah. Sejak tadi pagi, saya niat untuk nggak ngelakuin itu lagi. Dengan kamu, atau dengan siapapun selain istri saya. Tapi…,”

Imah mengangkat wajah menunggu aku menyelesaikan kalimat.

“Tapi apa, Pak?” Dia penasaran. Aku tersenyum, lalu perlahan kuturunkan celana pendek beserta celana dalamku sekaligus. Batang kemaluanku langsung berdiri tegak tanpa penghalang.

“Adik saya ini nggak mau disuruh ngelupain kamu…!” kataku. Kontan muka Imah memerah, kemudian dia tersenyum malu-malu. Tanpa kusuruh, dia bangkit lalu berlutut di hadapanku. Cepat dia melucuti celana pendek beserta celana dalamku. Kemudian batang penisku digenggamnya dengan dua tangan. Seperti orang melepas kangen, sekujur tongkat wasiatku itu diciuminya bertubi-tubi., sementara kedua tangannya mengurut-urut dengan lembut. Aku membalas dengan mengusap-usap rambutnya.

Sejenak Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya mulai sayu, pertanda dia telah terserang birahi. Kemudian lidahnya menjulur panjang. Topi bajaku dijilatnya dengan satu sapuan lidah. Aku menggelinjang. Otomatis batang penisku mengedut, dan gerakan itu rupanya menambah gemas Imah. Lidahnya jadi semakin lincah menjilat-jilat. Buah zakarku pun kebagian. Aku semakin tidak kuat menahan nikmatnya. Kedua pahaku mengangkang lebih lebar, pinggulku mengangkat sedikit, dan itu dimanfaatkan Imah untuk terus menjilat-jilat sampai ke belahan pantatku. Gila, ternyata rasanya luar biasa nikmat! Belum pernah aku merasakan lubang pantatku dijilat seperti ini.

“Enak banget, Mah… Kamu pinter banget,” aku mengaku terus terang. Kembali Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya semakin sayu. Sejenak dia mencoba tersenyum, ada rasa bangga di wajahnya bisa membuatku keenakan seperti itu. Lalu mulutnya menganga lebar, batang kemaluanku dikulumnya dengan lembut, masuk perlahan-lahan sampai tiga perempatnya.

“Gede banget, siiih…??!” dia mendesis sambil menarik mulutnya dari batang penisku. “Imah kepingin masukin semua, nggak bisa! Nggak muat!”

Aku tersenyum saja. Kutekan sedikit kepalanya, dia mengerti, kembali batang penisku dimasukkannya ke dalam mulut. Kali ini dijejal-jejalkannya terus, tapi tetap tidak berhasil karena ukurannya yang super besar memang tidak memungkinkan. Matanya memandangku lagi sementara mulutnya terus mengulum sembari mengocok-ngocok batang penisku dengan tangan. Aku memberinya senyuman membuat dia senang.

“Pak, Imah juga pingin ngomong jujur,” tiba-tiba Imah berkata. Kedua tangannya kembali mengurut-urut batang penisku dengan mesra, sementara matanya sayu menatapku.

“Ngomong apa?”

“Imah sempet malu karena tadi malem Imah kayak orang kesurupan. Imah emang gitu kalo’ bener-bener keenakan, Pak.”

“Tapi kamu nggak nyesel, kan?”

“Ya nggak. Imah cuma malu sama Bapak…”

“Emangnya enak ya, Mah?”

Imah tidak menjawab. Dia berdiri sembari menurunkan sendiri dasternya. Batang penisku kembali mengedut kuat, menyaksikan tubuh Imah menjadi telanjang, tinggal bercelana dalam. Sedari tadi dia memang tidak mengenakan BH. Kuraih tubuhnya agar lebih mendekat dengan melingkarkan kedua tanganku pada pantatnya yang bulat.

Imah menggeliat kecil sementara pantatnya kuusap-usap. “Buka, ya?” kataku seraya menurunkan celana dalamnya, tanpa menunggu persetujuan. Seketika kemaluannya terpampang telanjang di depan mukaku. Aku menengadah menatap matanya, dan dia tersipu. Mungkin malu, tangannya bergerak hendak menutupi selangkangannya, tapi kucegah. “memiaw kamu bagus,” kataku sambil membelai bulu-bulu hitam kemaluannya. Otomatis pinggulnya meliuk, mungkin dia kegelian. Aku malah tambah senang, gantian lidahku yang mengusap pangkal pahanya. Tentu saja dia semakin kegelian.

Beberapa saat lidahku menari-nari di seputar perut dan pangkal pahanya. Imah menikmati perlakuanku dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Kadang berputar perlahan, sesekali didorongnya maju mendesak mukaku. Aku jadi gemas, maka jemariku mulai beraksi. Imah mengangkang sambil menekuk lututnya sedikit ketika dirasakannya jari tengahku menyusup ke belahan vaginanya yang mulai basah.

Dari satu jari, dua jariku masuk, disusul jari ketiga. Imah mulai merintih. Pinggulnya bergerak menjauh, tetapi ketika tusukan jemariku mengendur, dia justru memajukan lagi pinggulnya. Aku jadi semakin “hot” menggosok-gosok mulut vaginanya dengan jari. Erangan dan desahan Imah mulai menjadi-jadi. Lututnya gemetar, mungkin tidak kuat menahan gelora birahi.

“Imah lemess…” desisnya.

Tiba-tiba dia duduk mengangkang di pangkuanku. Tanpa ada rasa sungkan dan malu-malu lagi, leherku dipeluknya erat-erat sembari menyodorkan buah dadanya ke mukaku. Aku jadi gelagapan. Buah dadanya yang montok menutupi hampir seluruh wajahku. Imah mengikik. Dengan gemas, kugigit puting susunya sedikit, sehingga dia mengendurkan pelukannya. Baru aku lebih leluasa. Kuciumi buah dadanya yang sebelah kiri, kujilat dan kukenyot-kenyot putingnya, sementara yang kanan kuremas-remas dengan tangan. Kurasakan payudaranya mulai memuai semakin montok, dan putingnya mulai mengeras.

Sesekali aku juga menciumi sekitar ketiak Imah yang berkeringat. Aku suka bau badannya, harum seperti bayi. Keringatnya kuhisap dan kujilat-jilat. Imah menggelinjang semakin “hot”.

Beberapa saat kemudian, Imah menggerak-gerakkan pinggul dan meraih batang penisku. Sambil terus menikmati cumbuanku pada buah dadanya, dia berusaha menjejal-jejalkan batang penisku pada mulut vaginanya. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Dia mulai kesal, desahannya semakin kuat dengan erangan-erangan tertahan. Batang penisku terus digosok-gosokkannya di belahan vaginanya yang basah, tetapi dia belum berhasil memaksanya masuk.

Kami lalu bertukar posisi. Aku bangkit, Imah duduk. Lalu kurebahkan tubuhnya. Dia melonjorkan sebelah kakinya di lantai, sementara yang sebelah lagi disangkutkannya di sandaran sofa. Posisinya itu membuat kemaluannya merekah, mempertontonkan belahannya yang merah basah. Kelentitnya menyembul. Aku tidak membuang waktu, langsung kucumbu kemaluannya dengan mulut dan lidah. Dia mengerang, “Uddaah, Paak….”

Aku tidak peduli karena aku memang masih ingin bermain-main. Imah sendiri mulai tidak terkendali. Tubuhnya mulai menggeliat-geliat dengan irama liar tak beraturan. Nafasnya memburu, mulutnya mengeluarkan desah dan erangan tak henti-henti. “Uddahh, Paak…, uddaaaahhh…, Imah nggak kuaattt……”

Mengetahui dia mulai dikuasai birahi, aku justru tambah senang. Pantatnya kuangkat. Imah mengangkang lebih lebar, sehingga kemaluannya semakin merekah. Mulut vaginanya menganga. Kusodokkan lidahku lebih dalam, kugoyang-goyang ujungnya dengan cepat, lalu kukenyot klitorisnya. Dia menjerit. Kembali kugosok-gosok seluruh dinding vaginanya dengan lidah, sementara kelentitnya kutekan dan kuusap-usap dengan ibu jari. Lendirnya jadi semakin banyak, pertanda birahinya semakin tinggi.

Tiba-tiba Imah mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sambil menekan kepalaku kuat-kuat pada selangkangannya. Tubuhnya mengejang. Kutekan mulutku pada vaginanya, lidahku menjulur lebih dalam, lalu kukenyot dengan suatu hisapan panjang. Terdengar erangan Imah. Tubuhnya menggelepar-gelepar menyongsong detik-detik pencapaian orgasmenya, kutambah nikmatnya dengan terus mengenyot mulut vaginanya yang asin berlendir.

Setelah itu tubuh Imah agak sedikit lunglai. Nafasnya memburu. Kutindihi tubuh bugilnya. Kuciumi mukanya yang berkeringat. Dia tersenyum.

“Keenakan, ya?” godaku. Dia mengangguk. Tangannya meraih batang penisku. “Masukin yuk, Pak…”

Imah tidak berkata-kata lagi karena mulutnya kusumbat dengan suatu ciuman bibir yang panas dan panjang. Lidah kami saling membelit, menghisap, dan menjilat-jilat. Sementara itu kedua buah dadanya habis kuremas-remas. Kurasakan sepasang payudara indah itu telah amat keras dan padat. Lalu kembali kuraba selangkangannya. Vaginanya merekah menyambut usapan jariku, dan kelentitnya menyembul. Basah.

Sengaja aku mencium bibir Imah agak lama, aku ingin birahinya cepat meninggi. Rasanya aku berhasil. Dia semakin tidak sabar ingin menuntun batang kemaluanku memasuki liang surgawi miliknya. Aku pura-pura tidak tahu. Tubuhku menindihinya agak menyamping, sehingga batang kemaluanku menekan pahanya. Sambil terus berciuman bibir, justru jemariku yang kembali aktif menggerayangi vagina Imah.

Imah yang lebih dulu melepas ciuman. Nafasnya terengah-engah. Birahinya pasti telah cukup tinggi. Kembali terang-terangan dia memintaku segera memasukkan batang kemaluanku. Dia tentu tidak tahu bahwa aku tengah berniat mempermainkannya sedari tadi. Akan kubuat dia merengek-rengek sekaligus akan kuberikan dia kenikmatan yang takkan terlupakan.

Kebetulan sekali telepon berdering.

“Angkat dulu,” kataku. “Kalo’ dari Ibu, bilang saya ke rumah Nenek.”

Imah mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mengangkat telepon. Ternyata betul, itu dari istriku. Aneh, kejadian itu malah mendatangkan sensasi yang justru membuat birahiku semakin tinggi. Nikmat rasanya bercumbu dengan babu, sementara dia tengah menelepon dengan istri sendiri.

Maka, kusuruh Imah menelentang di sofa sambil terus menelepon. Kebetulan meja telepon terletak persis di sebelah sofa. Kedua kakinya kukangkangkan lebar-lebar. Kukecup-kecup klitorisnya, membuat Imah tergagap-gagap menjawab telepon.

“Oh, eh, nggak tau, Bu,” katanya. Rupanya istriku sudah terlebih dahulu menelepon ke rumah ibunya, sehingga dia tahu bahwa aku tidak ada di sana. Tapi tentu saja dia tidak curiga. Dia hanya bertanya mengapa suara Imah terdengar seperti terengah-engah.

“Anu… saya tadi lagi di depan, Bu…, jadi lari-larian…” Imah menjawab sekenanya, sementara pinggulnya mengangkat-angkat saking keenakan vaginanya kukenyot-kenyot.

Celaka bagi Imah, istriku mengajaknya ngobrol agak lama. Rupanya dia memesankan banyak hal, terutama yang menyangkut urusan menjaga Gavin. Aku terus menggodanya dengan cumbuan yang justru semakin menggila. Batang kemaluanku bahkan kujejal-jejalkan ke mulutnya, sehingga dia menelepon sambil mengulum. Untungnya dia lebih banyak mendengar daripada bicara. Itu pun kadang-kadang dia agak gelagapan.

“Kamu denger nggak sih?” rupanya suatu ketika istriku bertanya karena merasa tidak mendapat respon.

“Mmm..mmm….” Imah kerepotan melepas batang penisku dari kulumannya. “Ya, Bu…, saya ngerti…” Istriku bicara panjang lebar lagi, maka kembali kusuruh Imah mengulum.

“Mmm… mm..mm…” dia merespon omongan istriku sambil terus mengulum, sementara sebelah tangannya tidak lupa mengocok-ngocok batang penisku. Lama-lama istriku curiga. Tapi tentunya dia tidak berpikir sejauh itu, dia hanya mengira Imah menelepon sambil makan permen. Imah mengiyakan.

“Iya, Bu… permen lolipop…,” katanya sambil menjilat topi bajaku yang merah mengkilat. Istriku marah. “Maaf, Bu…” kata Imah lagi. “Abis, permennya enak bangetth…”

Imah semakin berani. Dia kemudian malah berdiri, batang penisku digenggamnya kuat-kuat, lalu dijejalkannya ke mulut vaginanya. Kuturuti kemauannya. Sambil berdiri, kutahan pantat bulatnya, kuarahkan batang penisku pada liang vaginanya, lalu kutekan perlahan-lahan. Vaginanya telah amat basah oleh lendir pelumas, sehingga batang penisku dapat dengan mudah menyelusup. Imah menahan nafas.

“Buu… uddahh, ya? Saya mau… bbhuang airrr….” Berkata begitu, Imah langsung menutup telepon, lalu bermaksud melayani persanggamaan yang baru kumulai.

Dia langsung melingkarkan kedua tangannya di belakang leherku, memelukku erat-erat, lalu mencium bibirku lumat-lumat. Aku balas melumat bibirnya dengan tidak kalah panas. Sementara itu, kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat. Imah menggoyang-goyangkan pinggulnya, berusaha agar batang kemaluanku masuk lebih jauh ke dalam vaginanya. Aku sendiri tidak bergerak, kubiarkan Imah berusaha sendiri.

Beberapa saat kemudian, Imah melepas ciuman. Nafasnya menghambur, panas memburu seperti lokomotif. Pinggulnya terus menggeliat-geliat, berputar dengan irama lambat. Dia jelas mulai tidak tahan. Dipeluknya tubuhku lebih ketat, lalu dia berbisik persis di telingaku,

“Ayuk, Paak…”

“Ayuk apa?” godaku. Imah tidak menjawab, melainkan mendorong pinggulnya sembari menahan pantatku dengan tangan. Rupanya dia masih dapat mengontrol diri, sedapat mungkin dia tidak ingin kelihatan liar seperti peristiwa pertama tadi malam. Aku tambah bersemangat ingin menggodanya. Pokoknya dia harus merengek-rengek kepadaku!

Sambil mengangkat pantatnya, kuperintahkan Imah menaikkan kedua kakinya lalu melingkarkannya di belakang pantatku. Kedua tangannya melingkar erat di leherku. Sementara itu, kemaluan kami tetap bertaut. Imah mengikik, posisinya persis anak monyet sedang digendong induknya. Aku tahu betul, posisi itu akan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa baginya.

Benar saja, sebentar kemudian dia mulai mendesah-desah keenakan. Lebih-lebih setelah aku membawanya berjalan. Setiap aku melangkah, dia menahan nafas, lalu menghamburkannya dengan sedikit erangan tertahan. Semakin cepat aku melangkah, desah dan erangannya semakin kuat.

“Uddah, Paak…, uddaahhh….” desisnya setelah beberapa saat. Seperti yang sudah-sudah, itu berarti dia minta aku menyelesaikan permainan karena orgasmenya sudah dekat. Aku berhenti melangkah. Kusandarkan tubuh Imah ke meja makan. Dia mengangkat pantatnya sedikit. Sebelah kakinya setengah menjinjit ke lantai, sebelah lagi terangkat tinggi ke samping. Vaginanya jadi merekah, siap menerima hunjaman batang penisku. Tapi aku hanya menekan perlahan dengan gerakan satu-dua. Imah jadi penasaran.

“Ayuk, Paak…” pintanya lagi seperti tadi.

“Ayuk apa?” godaku lagi. Imah kembali tidak menjawab. Digeliatkannya tubuhnya sambil membuang wajahnya jauh ke belakang. Aku memutar pinggulku, lalu menekan lagi satu-dua. Pelan sekali.

“Yang kenceng dong, Paak…” desah Imah akhirnya.

“Begini?” aku mempercepat gerakanku dua-tiga kali.

“Yah, yah, terrusss…”

“Enak, Mah?”

“Enak bangetts…”

“Kamu doyan?”

“Doyan bangettt…, adduuuhhhh…, yahh…, yaahhh….”

Kulambatkan lagi gerakanku.

“Emangnya begini nggak enak?” godaku.

“Enaak…, tapi Imah mau yang kenceng…!!”

“Gini?” kucepatkan lagi gerakanku.

“Iyyahhh…, terruuusss…”

“Enak, Maah?”

“Enak…”

“Bilang dong! Bilang enak, bilang kamu doyan…”

“Enak…, Imah doyan…”

“Doyan apaan?”

“Aaang…, Bapak?!” Imah tersipu-sipu

“Ya udah, kalo’ nggak mau bilang…” Aku berpura-pura bergerak hendak mencabut penisku. Imah buru-buru menahan pantatku. “Iya, iya, Imah bilang! Imah doyan….” mata Imah semakin sayu dan suaranya berbisik lirih namun sangat jelas, “…doyan….. ngenthooot!”

Kucepatkan gerakanku sebagai “upah” karena dia sudah mau bicara terus terang. Matanya terpejam sedikit. Aku melambat lagi. Imah membuka mata kembali, tatapannya bertambah sayu. Kujulurkan lidahku, dia menyambut dengan juluran lidah pula. Ujung lidah kami beradu, bermain-main beberapa saat, lalu kembali kami berciuman. Lumat, tandas, sementara pinggulku bergerak maju-mundur mulai semakin cepat.

Ketika ciuman kulepaskan, Imah merebahkan badannya, telentang di atas meja. Dia nampak amat tidak berdaya diamuk birahi. Orgasmenya pasti sudah dekat. Aku hampir tidak tega, tapi aku ingin mendengar omongan-omongan joroknya seperti semalam. Aku suka erotisnya.

Maka gerakanku kuatur sedemikian rupa agar rasanya menggantung. Lambat tidak, cepat pun tidak. Sesekali bahkan kudiamkan batang penisku terbenam sebagian di liang vaginanya, lalu kuputar-putar pinggulku. Imah mengerang-erang, mendesah, menggeliat, dan mulai lupa diri.

“Bapaak…, ayuk, doong…..” desah gadis itu akhirnya. Suaranya bergetar menahan birahi.

“Ayuk apa?”

“Ngenthooothh…., Imah mau ngent*t sama Bapak…, Imah doyan tongkol Bapaak… tongkol Bapak enak, gemuk, panjang, memiaw Imah rasanya penuh bangettt…”

“Ini kan kita lagi ngent*t?”

“Iya, tapi yang kenceng atuuuh! Imah nggak kuat, Paak…, Imah hampir keluar!”

“Begini?” kucepatkan lagi gerakanku.

“Yah, yah, terruuuss…, yaaaahhh….”

Terus kucepatkan hunjamanku. Lebih cepat, semakin cepat, cepat sekali. Imah sampai menjerit-jerit. Tubuhnya menggelepar-gelepar di atas meja. Keringatnya menciprat ke mana-mana. Birahinya tinggal selangkah lagi mencapai puncak.

“Ennaknya, Paak…., enak bangeeettt…, teruuuuussss…., yah, yaaaahhh, yaaaaahhh….”

“Saya hampir keluar, Maah…”

“Imah juga, Imah juga…. Bareng, Pak, bareng…, haahhh…, haaahhhh….”

“Uuuuhhhhh……, enaknya ngent*t sama kamu, Maah…., uuuuhhhhhhh….!!!”

“Oooohhhhh…., terus, Paak…, yang kenceng! Yang kenceng! Yaaaahhhhh…., terruuuss…”

“memiaw kamu sedap banget, Maah….”

“tongkol Bapak mantep…., enaakkk…, yaahhh…, terrruuuss…, Imah hampir keluaaar…”

Aku memompa tanpa henti, sampai tiba-tiba tubuh telanjang Imah mengejang. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi, seakan hunjaman batang penisku masih kurang dalam dan kuat. Dia telah mencapai orgasmenya yang kedua. Saat itu gerakan pinggulku luar biasa cepat dan kuat, sehingga Imah menggapai puncak birahinya dengan menjerit panjang. Aku sendiri mencapai klimaks beberapa detik setelah itu. Air maniku menyembur-nyembur seakan tak mau berhenti. Crot! Crot! Crot! Banyak sekali. Nikmatnya tak terkatakan.

Imah tersenyum memandangiku dengan nafas masih agak tersengal. Wajah manisnya kembali nampak lugu. Aku jadi gemas, kutindihi tubuh montok Imah yang bersimbah peluh. Kuciumi mukanya. Dia menikmati kecupan-kecupanku dengan memejamkan mata.

“Enak, Maah?” tanyaku berbisik tepat di telinganya.

“Enak banget, Pak… Imah sampe’ lemes!”

Kembali kuciumi sekujur muka Imah. Kening, mata, hidung, pipi, juga telinga. Keringatnya kujilat-jilat. Terakhir kami berciuman bibir lagi, sementara batang penisku kubiarkan menancap pada vaginanya yang banjir oleh lendir. Nikmatnya masih terasa.

“Saya seneng ngent*t sama kamu, Mah,” bisikku jujur setelah itu. “Soalnya enak banget!”

“Apalagi Imah. Nggak mimpi deh bisa ngerasain enak sama laki-laki hebat kayak Bapak!”

“Hebat apanya?”

“Semuanya! Orang kaya, baik, cakep, gagah…, mainnya pinter!”

“Kita bisa begini tiap hari kalo’ kamu mau.”

“Kalo’ ada Ibu?”

Aku tidak bisa menjawab. Kuputus pembicaraan dengan berciuman lagi beberapa saat. Akibatnya, kembali nampak tanda-tanda bahwa permainan masih akan berlanjut. Imah membelai-belai wajahku sementara matanya memandangiku. Lalu dia bergumam lirih,

“Imah takut nggak bisa beginian kalo’ ada Ibu…”

“Jangan dipikirin, Mah,” bisikku. “Yang penting, kamu harus tau bahwa saya ketagihan main sama kamu. Saya kepingin kita beginian terus. Pagi, siang, sore, malem.”

“Imah juga.”

“Sekarang kita masih punya waktu lima jam sebelum saya jemput si Gavin. Kamu masih kepingin, kan?”

Imah tersenyum sambil mengerjapkan mata, maka permainan pun berlanjut beberapa ronde lagi. Di dalam kamar tidurku, di kamar mandi, juga di dapur. Sungguh, nikmatnya seperti tak pernah habis.

Mei 6, 2008. Tag: . Cerita-cerita Erotis. 1 komentar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.